Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Menggoda Rara


__ADS_3

Karna ucapan Frezan, membuat Rara harus mandi malam-malam begini, di tambah diluar sedang hujan deras membuatnya semakin dingin.


Rara mandi dengan cepat, beginilah Rara. Saat usai berhubungan suami istri dengan sang suami, dia akan membersihkan tubuhnya karna dia tidak akan bisa tidur karna gatal.


Karna Frezan dia menjadi keringat membuat seluruh tubuh Rara ikut berkeringat, bahkan keringat Frezan jatuh di tubuhnya membuatnya semakin tidak nyenyak jika ingin tidur saat usai berhubungan, tanpa membersihkan tubuhnya.


Samar-samar Frezan mendengar cipratan air dari dalam kamar mandi, matanya sudah berat saat usai melakukan sesuatu. Frezan tidak membersihkan tubuhnya karna sudah tidak bisa mengajak matanya untuk berkompromi.


Frezan sudah tau kebiasaan Rara seperti apa saat setelah melakukan hubungan dengan dirinya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi telah di buka oleh Rara, untung saja belum terlalu larut malam sehingga dia juga membasahi rambutnya.


Pukul sembilan malam mereka selesai, mereka berdua bercinta pukul 7 malam, sehingga hanya menghabiskan waktu dua jam lamanya.


Rara berjalan menuju meja riasnya lalu duduk. Membuka handuk diatas kepalanya lalu mengambil hairdyer untuk mengeringkan rambutnya.


Setelah beberapa menit mengeringkan rambutnya, Rara mengambil baju tidurnya lalu memakainya.


Dia tersenyum di depan cermin, karna dia sudah kembali wangi dan tidak merasa gerah lagi setelah bertempur dua jam lamanya bersama Frezan.


Masih dengan posisi duduk di depan meja rias, Rara membalikkan tubuhnya melirik kearah Frezan yang sudah tidur nyenyak dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya.


Rara berjalan menuju tempat tidur, dia membaringkan tubuhnya di samping Frezan.


Wangi Rara mampu membuat mata Frezan terbuka secara perlahan-lahan, Rara yang merasakan pergerakan suaminya meneguk salivanya susah payah.


Dengan sayup, Frezan melihat wajah cantik istrinya yang sudah usai mandi. Mereka berdua baring dalam keadaan berhadapan.


''Sayang....'' panggil Frezan dengan suara serak membuat jantung Rara kembali berdetak kencang.


Suara berat yang di keluarkan oleh Frezan, harus membuatnya waspada. Memang, setiap Frezan bangun tidur suaranya akan berat dan menjadi candu bagi siapapun yang mendengarnya.


Rara hanya takut, jika Frezan kembali menyerangnya padahal dia sudah mandi dan wangi, siap untuk tidur.


''Kamu wangi banget, sayang,'' ucap Frezan lagi masih dengan suara beratnya membuat Rara mengerjapkan matanya.


Dia mendengus dalam diam, dia menyesal memakai pewangi malam-malam begini yang akan membuat Frezan akan terpancing.

__ADS_1


Mata Frezan sedikit terpejam, melihat wajah lucu istrinya.


''Besok lagi ya, sayang. Aku kasihan lihat kamu,'' ucap Frezan seraya tersenyum kecik membuat Rara kembali melototkan matanya.


''Kamu baru selesai mandi, masa iya kamu harus mandi lagi karna aku minta?''


Rara menggelengkan kepalanya membuat Frezan gemas kepada istirnya sendiri.


Dalam satu gerakan Frezan langsung memeluk Rara, dia menghirup wangi Rara yang membuatnya menjadi tenang.


''Jangan dekat-dekat,'' ucap Rara membuat Frezan semakin mengeratkan pelukanya dengan Rara.


''Kenapa sayang? Jangan karna kamu udah mandi aku belum mandi, jadi kamu larang aku peluk kamu,'' ucap Frezan masih menghirup wangi Rara yang sangat memabukkan.


Rara menarik nafasnya dalam. ''Nggak kok,'' pasrah Rara.


Frezan masih wangi, meskipun dia sudah bertempur dua jam lamanya.


''Jangan gerak, ya, Ra. Aku mau tidur,'' ucap Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.


Mereka berdua berpelukan dengan penuh cinta.


''Sayang, kamu habis lari?'' tanya Frezan.


''Nggak lah, mana bisa lari malam-malam beg—''


''Tapi kenapa jantung kamu berdetak cepat banget, ya, Ra,''goda Frezan membuat Rara terdiam.


Lalu kemudian dia mencubit lengan Frezan, membuat sang empuh langsung meringis dengan tindakan Rara yang mendadak.


''Aduh, ampun, Ra!'' mohon Frezan masih dengan suara menggoda membuat Rara menjadi kesal kepada Frezan.


Suaminya itu bisa saja menggoda dirinya dalam keadaan seperti ini.


Frezan tertawa, lalu mengunci tubuh Rara sehingga wanita itu sudah tidak melakukan pergerakan lagi.


''Tidur, sayang. Kalau kamu masih gerak siap-siap aku terkam. Aku nggak peduli kalau kamu udah mandi,''ancam Frezan membuat Rara hanya diam dengan bibir manyun.


''Iya-iya!'' kesalnya.

__ADS_1


Frezan tersenyum, entah mengapa dia seperti merasakan pengantin baru karna Rara yang masih saja salah tingkah padahal mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang sudah lumayan lama.


Tapi, Frezan tetap suka dengan sikap Rara seperti ini. Membuat dirinya semakin betah untuk menggoda Rara, karna wanita itu masih seperti gadis kecil menurut Frezan.


Yang sedikit-dikit baper dengan tindakannya seperti orang pacaran saja, padahal mereka sudah suami-istri.


Mereka berdua sudah tidur, terdengar dengan deruh nafas keduanya.


***


Matahari sudah menampakkan sinarnya pagi ini, sinarnya menerobos masuk kedalam jendela kamar milik seorang pria yang masih setia dengan selimutnya.


Alaram di ponselnya membangunkan dirinya, sehingga dengan rasa suntuk dia menyibakkan selimut tebalnya lalu melirik ponselnya diatas nakas.


''Jam 9,'' gumam Rifal seraya turun dari tempat tidurnya dengan gontai.


Dia masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi, pukul sepuluh nanti dia akan bertemu dengan bapak yang semalam membawakannya ikan.


Karna ucapan bodohnya, terpaksa dia mengambil ikan itu lalu dia simpan di dalam kulkas.


Tidak ada keinginanya untuk mengelolah ikan tersebut, dia membiarkan ikan tersebut didalam kulkas terus-menerus.


Jangan berharap jika dia akan mengolahnya.


Setelah mandi beberapa menit, Rifal keluar menggunakan celana jens dan baju kaos yang mahal. Celana jeans yang dia kenakan, di kedua lututnya sobek membuat pria itu semakin gagah perkasa.


Rifal menyambar kunci mobil diatas nakas, dia tidak sarapan sebelum pergi. Selama Valen tidak ada, dia seperti menjadi pria yang tidak terurus soal makan dan hal yang selalu di kerjakan Valen untuknya.


Rifal membuka pintu utama, lalu berjalan masuk kedalam mobilnya untuk segera menuju rumah bapak Yadi yang akan mengantarnya ke rumah kakek Halan.


Tak lupa, dia memakai kacamata hitamnya lalu menyalakan mesin mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan Villa.


Rifal memasuki gang, karna rumah pak Yadi memang jalanya seperti ini membuat Rifal menggerutu kesal karna jalanya sudah sempit di tambah lagi jalanya batu-batu, bukan aspal.


''Sial! Lo harus sabar, Fal!'' ucap pria itu pada dirinya sendiri.


Jalan kerumah pak Yadi sangat menguji kesabarannya saat ini. Rifal menyalakan ac dalam mobilnya, dia berkeringat melewati jalan kerumah pak Yadi.


Dan sampailah Rifal di depan rumah kayu, yang sangat sederhana.

__ADS_1


Rifal membuka pintu mobilnya dan ekspresi wajahnya langsung berubah pucat, dia ingin muntah saat keluar dari mobil, kepalanya sangat pusing bau tak sedap menyerangnya.


Sial, bau apa ini.


__ADS_2