
Rifal ingin melepaskan sabuk pengamannya, namun terlebih dahulu dia melirik Valen yang masih belum bergeming dari posisinya.
“Len,” panggil Rifal.
“Valen.”
“Len.”
“Sayang.”
Empat panggilan dari Rifal tidak dijawab oleh Valen. Rifal langsung memegang dagu Valen agar melihat istrinya.
“Kamu kenapa?” Kaget Rifal melihat Valen berderai dengan air mata.
“Len, kamu kenapa? Apa kamu sakit?” Khawatir Rifal namun membuat Valen semakin terisak.
“Bilang sama aku, kamu kenapa?” Tentu saja Rifal khawatir dengan Valen.
Rambut Valen tadi tergerai jadi Rifal tidak memerhatikan jika istrinya itu tengah menangis apa lagi sepanjang perjalanan Valen hanya menundukkan kepalanya.
“Hiks…Hiks!” Valen semakin mengeraskan suaranya membuat Rifal langsung memeluk Valen. Dia tidak tau ada apa dengan Valen sehingga istrinya itu menangis.
Rifal mengusap rambut Valen, dia gelagapan karna melihat Valen menangis tanpa dia ketahui apa sebab wanitanya itu menangis.
__ADS_1
Rifal memperbaiki rambut Valen, yang sedikit basah akibat air mata.
Rifal menggelengkan kepalnya, bukan dia yang mempunyai rambut sepanjang Valen namun dia merasa gerah dengan rambut Valen.
Rifal melihat ke kursi belakang mobil, untuk mencari sesuatu yang bisa mengikat rambut Valen agar dia tidak kepanasan.
Rifal tersenyum saat melihat jepitan rambut di kursi belakang. Dia berpikir, jika jedai tersebut milik mommnya. Rifal menjedai rambut Valen dengan asal-asalan agar gadis itu tidak gerah. Dan dirinya juga merasakan kegerahan melihat rambut Valen.
“Ginikan cantik,” puji Rifal melihat rambut Valen yang sudah dia jedai dengan sebaik mungkin, meski vibesnya berantakan.
Rifal mengusap air mata Valen dengan ibu jarinya selembut mungkin lalu berkata. “Kamu kenapa tiba-tiba nangis? Apa ibu hamil emang gitu suka nangis tiba-tiba?” tanya Rifal membuat Valen semakin terisak.
“Kamu yang buat aku nangis kayak gini,” kesal Valen membuat Rifal langsung terlonjak kaget. Pasalnya dia tidak melakukan apa-apa namun Valen menyalahkan dirinya.
“Kamu ngomong kasar ke aku tadi,” ungkap Valen membuat Rifal melotokan matanya.
Betul kata orang tuanya, jika wanita itu cepat sensitif apa lagi jika sedang hamil. Padahal Rifal hanya kesal dan itupun hanya bercanda saja.
“Aku cuman bercanda, Len,” tutur Rifal membuat Valen mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
“Kamu bercanda, tapi vibesnya nusuk banget, Fal,” tutur Valen membuat Rifal tersenyum kecut.
“Ini yah kalau ada Nando, pasti dia bilang BUSET.” Ucap Rifal.
__ADS_1
Awkh!!!
Rifal langsung menahan sakit di kakinya saat Valen menginjak kakinya dengan keras.
“Sukanya bercanda, bukanya minta maaf!” marah Valen masih dengan sisah-sisah air matanya lalu turun mobil.
BRAK
“Buset dah!”
Valen langsung menutup pintu mobil dengan keras. Valen berjalan dengan cepat untuk menyusul mertuanya ke dalam Mall.
Dia berharap Rifal tadi minta maaf padanya dan memanjakan dirinya, namun pikirannya salah.
Rifal keluar dari mobilnya untuk menyusul Valen.
“Sayang!” Panggil Rifal sehingga seluruh tatapan mata di mall terarah pada sosok pria yang sedang berteriak dengan kata sayang di tengah mall.
Valen mengabaikan teriakan Rifal, dia ingin menyusul mertuanya untuk menuju pakaian anak.
Air matanya kembali turun menbuatnya dengan cepat menghapus air matanya, dia sangat sensitif smenjak dia hamil.
Valen tersenyum saat melihat mertuanya sedang memasukkan baju anak kedalam keranjaang belanjanya.
__ADS_1
“Mom!” Panggil Valen lalu menghampiri mertuanya.