Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Pelaku


__ADS_3

Di cafe


Nando sedang mengepalkan tanganya diatas meja, saat mengetahui siapa yang telah mencelakai Rifal.


Orang di hadapnya telah memberikanya bukti sangat jelas, jika orang yang sudah dia terima bekerja di perusahaan Rifal adalah orang yang mencelakai Rifal.


“Dasar wanita kurang ajar!” desis Nando melihat video dan bukti lainya yang di berikan oleh Frezan saat ini.


Andai saja Daniel tidak masuk rumah sakit, bukan dirinya yang menemui Nando tetapi Daniel.


“Ipar saya Elga mencurigai adik saya jika Nathan yang merencanakan kecelakaan Rifal, otomatis saya turun tangan untuk menangani masalah adik saya, dokter Nathan,” kata Frezan sembari menelengkupkan kedua tanganya dengan santai.


Nando terdiam.


Sebenarnya bukan hanya Elga saja mencurigai Nathan, melainkan dirinya juga, tapi Nando tidak sampai ke tahap seperti Elga yang sudah memastikan jika Nathan di balik semua ini.


“Saya juga minta maaf telah mencurigai dokter Nathan,” sesal Nando.


Andai saja bukan bantuan Frezan, dia belum mengetahui jika yang melakukan ini semua adalah Amora.


“Saya sudah maafkan,” kata Frezan dengan santai lalu menyilangkan kakinya.


“Tapi saya penasaran, mengapa Amora tega melakukan ini semua, padahal kami sudah mempekerjakannya dengan baik!” desis Nando.


Frezan meminum secangkir coffe di hadapnya, dia meneguknya satu kali lalu mengangkat bicara.”Apa kamu tidak tau, jika Amora mempunyai hubungan dengan Adelia,” ucap Frezan santai membuat Nando lagi-lagi terdiam.


Dalam masalah ini, otaknya tidak sampai. Dia mengakui jika pria di hadapnya sangat pandai dalam masalah apapun.


“Mereka berdua bersaudara, ada dendam dalam diri Amora kepada Rifal karna sudah menyia-nyiakan Adelia,” lanjut Frezan membuat Nando menghembuskan nafasnya berat.


Pikirannya sungguh tidak sampai kesana, namun pria di hadapnya tau semuanya.


Nando mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. “Saya akan menghubungi polisi untuk menangkap Amora,” kata Nando ingin menelfon nomor polisi namun langsung di hentikan oleh Frezan.


“Saya sudah menghubungi polisi untuk mencari Amora,” kata Frezan membuat pergerakan tangan Nando terhenti.


Nando lupa, jika seminggu ini Amora sudah tidak masuk bekerja lagi, dengan berbagai alasan.


“Terimaksih telah membantu saya mencari pelaku yang sudah mencelakai Rifal,” kata Nando dengan tulus kepada Frezan.


“Sama-sama,” balasnya.


Mereka berdua asik berbincang sembari meminum coffe, sudah pukul empat sore Frezan pamit pulang karna mengingat kondisi Rara yang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Frezan langsung melajukan mobilnya meninggalkan cafe tempatnya bertemu dengan Nando.


Nando tersenyum masam, otaknya sama otak Frezan tidak ada apa-apanya di banding otak Frezan.


Entahlah, Frezan harus bersyukur atau apa. Elga masuk penjara sehingga pria itu tidak menghajar Nathan, karna Elga sudah berniat untuk menghajar Nathan.


Nando juga langsung pergi meninggalkan cafe untuk segera kerumah Rifal, dia ingin memberitahukan ini semua kepada Rifal jika Amora dalang di balik semua ini.


Sekitar tiga menit berkendara, akhirnya Nando telah sampai di rumah Rifal. Dia langsung masuk kedalam rumah karna Rifal dan Valen telah menunggunya di ruangan tamu.


Valen sudah melihat Nando telah masuk, Valen juga penasaran dengan apa yang ingin di katakan oleh Nando sehingga minta bertemu dengan dirinya dan juga Rifal.


“Mau ngomong apa lo,” kata Rifal setelah merasakan Nando tangan kananya itu tengah duduk di sampingnya.


“Kali ini saya mau ngomong serius, Fal,” kata Nando tanpa ada nada bercanda di perkataanya.


Rifal tersenyum miris. “Sejak kapan lo serius bicara sama gue, Nan?” Ejek Rifal.


“Ini tentang kecelakaan kamu,” kata Nando dengan serius membuat Rifal terdiam lalu merubah raut wajahnya menjadi datar.


“Lo udah tau siapa dalang di balik kecelakaan gue?” Tanya Rifal dengan dingin, sementara Valen sedang mengambil jus jeruk untuk di hidangkan.


Valen datang membawa nampan berisi kue dan juga es jeruk. Besok art baru kembali menjalankan tugasnya di rumah Rifal.


Sementara pergerakan tangan Valen yang menyimpan kue dan es jeruk di atas meja terhenti akibat perkataan Nando.


Tangan milik Nando terkepal hebat. “Dasar wanita j*l*ng!” Desis Rifal.


“Gara-gara dia gue hampir mati dan buta kayak gini!” Rifal berkata dengan menggebu-gebu mengingat wajah Amora.


“Saya yang minta maaf karna telah menerima Amora bekerja, sampai mengangkatnya menjadi sekretaris,” sesal Nando.


“Sekarang wanita itu ada di mana?” Tanya Rifal dengan dingin.


“Dia harus pertanggung jawabkan dengan. Apa yang dia lakuin ke gue!” Lanjutnya.


“Sementara Amora dalam pencarian polisi, ini semua berkat dari Frezan yang menemukan pelakunya secepat Ini,” kata Nando.


“Kemampuan Frezan dari dulu sampai sekarang nggak perlu di ragukan,” gumam Rifal.


“Fal,” panggil Valen.


Meski dalam keadaan buta, aura Rifal masih seperti biasa.

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Rifal.


“Kalau Amora di tangkap polisi lalu di penjara, siapa yang ngejagain Adel dirumah sakit,” Valen sangat kasihan kepada Adelia.


Rifal menarik nafasnya panjang, “Ada perawat yang jagain Adel,” kata Rifal.


“Orang kayak Amora harus di berikan pelajaran, kalau bisa aku mau dia mendekam di penjara selamanya,” kata Rifal dengan tegas.


“Tapi Fal.”


“Jangan terlalu baik sama orang bersifat iblis,” kata Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Nando.


“Apa yang di katakan Rifal memang benar, jika kita tidak perlu terlalu baik dengan orang jahat seperti Amora,” timpal Nando membuat Valen hanya diam saja.


Karna jujur saja, perbuatan Amora sudah melampaui batas. Dia hampir saja menghilang kan nyawa Rifal hingga dia buta sampai sekarang.


Valen pamit undur diri, karna Rifal dan Nando sudah bercerita mengenai masalah kantor yang tidak dia ketahui.


Valen naik keatas kamarnya lalu mengambil ponselnya menghubungi Kayla menanyakan kabar sahabatnya itu.


Sampai sekarang, Valen belum bercerita kepada Rifal jika Elga sedang di penjara entah berap lama, karna belum ada keputusan dari pengadilan.


Drt


Kayla yang sedang berada di balkon kamarnya melihat ponselnya berdering di atas tempat tidurnya.


Dia langsung menghampiri ponselnya dan melihat siapa yang menelfon dirinya, yaitu Kayla.


“Halo. Kay.” Sapa Valen di seberang Telfon.


“Halo juga Len.”


Terdengar suara Kayla dari seberang Telfon sangat serak, sangat jelas jika perempuan yang dia Telfon tidak baik-baik aja.


“Gimana kabar lo sama kembar?” Tanya Valen dengan prihatin.


“Gue baik-baik aja, Len. Hanya saja Dyta selalu menangis mencari Elga,” lesuh Kayla membuat Valen turut prihatin dengan sahabatnya.


“Lo yang sabar yah, Kay.”


“Makasih Va, udah dulu yah gue mau ke kamar mandi tiba-tiba gue mual,” kata Kayla lalu mematikan ponselnya untuk masuk kedalam kamar mandi.


Kayla langsung saja memuntahkan makananya .

__ADS_1


Sementara Rara yang menerima surat dari pengadilan menitihkan air matanya, besok adalah keputusan berapa lama Elga di penjara.


__ADS_2