
Zul melihat Nathan keluar dari kamar Rifal dengan wajah yang sangat sulit dia artikan. Sementara Aska kembali masuk kedalam kamar Rifal melihat kondisi anaknya.
''Dokter tampan satu ini kenapa?'' tanya dokter Zul dengan menggelengkan kepalnya melihat wajah Nathan yang sedikit lesuh.
''Tidak apa-apa,'' jawab Nathan santai.
Dokter Zul terkekeh dengan jawab santai dari Nathan.
''Apa karna Lea?'' tebak dokter Zul.
‘’Pepet terus, Nath. Jangan sampai kau keempat kalinya gagal urusan wanita,'' ucap Zul menepuk pundak Nathan.
Nathan menaikkan alisnya sebelah, bagaimana dokter yang belum setahun bertugas denganya di rumah sakit mengetahui masa lalunya soal wanita?
‘’Bagaiamna kau bisa tau?'' tanya Nathan datar.
Serta wajahnya sangat datar, sedatar tripleks.
Harga dirinya sekaan-akan terinjak. Bagaiamana tidak, jika wajahnya yang nyaris sempurna ini empat kali gagal memiliki wanita yang dia kejar.
Lagi dan lagi Zul terkekeh. ''Rahasia,'' jawab Zul dengan enteng.
''Kau saja tidak bisa mendapatkan dokter Kiki,'' sinis Nathan membuat Zul menatap kesal kearah Nathan.
''Saya butuh waktu untuk menaklukkan hati dokter Kiki,'' songong Zul.
''Kau ter—''
''Dokter Nathan dokter Zul.'' panggil Lea sehingga perkataan Nathan terpotong.
''Yang ke empat jangan sampai lolos.'' Zul menepuk pundak Nathan kedua kalinya dengan sungguh-sungguh. Sehingga Nathan melirik tangan kekar Zul di pundaknya. ''Apa lagi sampai di ambil asisten pribadi Rifal.''
Nathan tidak membalas ucapan Zul.
Lea melangkahkan kakinya menuju kearah Zul dan Nathan.
''Lea boleh nggak kerumah Lea bentar? Rumah Lea dekat kok dari sini, tetanggan,'' izin gadis itu sekaligus memperjelas.
Nathan dan Zul berpandangan, lalu mereka memutuskan pandangan mereka melihat kearah Lea kembali.
''Untuk apa?'' tanya Nathan dan Zul bersamaan.
''Mau pulang ambil uang jajan Lea di mamah, soalnya tadi pagi Lea lupa,'' ucapnya tanpa dosa.
Jawaban dari Lea membuat Zul menutup mulutnya untuk menahan tawa di tempat ini.
''Gimana?'' tanya Lea melirik dokter Zul.
__ADS_1
Wajah dokter Zul memerah akibat menahan tawanya. ''Kamu izin sama dokter Nathan, ya, Lea. Karna pembimbing kamu di rumah sakit adalah dokter Nathan, bukan saya,'' jawab Zul dengan senyuman besar.
Lea menatap Nathan untuk meminta jawaban pria itu. ''Gim—''
''Tidak usah,'' potong Nathan dengan cepat membuat Lea cemberut.
''Kalau Lea nggak pulang ambil uang jajan Lea, entar pulang dari sini Lea lapar,'' ucap gadis itu dengan lesuh.
Nathan menarik nafasnya panjang. ''Ada saya,'' jawab Nathan membuat Lea tersenyum kikuk.
''Dokter Nathan mau traktir Lea?''
''Masih nanya.'' Zul meggelengkan kepalnya. ''Seratus porsi pun dokter Nathan bisa bayar.''
Lea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ''Habis pulang dari sini, kita singgah makan ya, soalnya Lea udah lapar. Lea nggak sarapan tadi sebelum ke rumah sakit.''
‘’Biar saya yang naik angkot pulang,'' sahur Zul.
Dia sadar saat kesini dia menggunakan mobil Nathan. ''Kan, bisa naik taxi,'' balas Lea.
Mereka bertiga mengobrol sementara Nathan sibuk dengan pikiranya.
“Apa gue emang suka sama Lea? Atau hanya…”
Nathan menggelengkan kepalanya, dia mengingat apa perkataan Zul tadi. Dia tidak boleh gagal kali ini dan membiarkan Lea lolos dan dimiliki orang lain.
Nathan menarik nafasnya dalam, habis dari sini dia akan bicara serius dengan Lea.
Itu yang berada dalam benak Nathan saat ini.
***
Aska menghembuskan nafas berat melihat kondisi putranya saat ini.
''Apa Daddy masih mencari keberadaan, Valen?'' tanya Nando dan dibalas anggukan kepala oleh Aska.
''Aryo belum memberikan kabar kepada Daddy,'' ucap Aska lagi. ''Daddy tidak yakin akan mendapatkan kabar baik, tapi Semogah ada keajaiban untuk ini semua.''
''Amin.''
Wajah Rifal sudah tidak sepucat tadi.
Ceklek.
Pintu kamar Rifal di buka oleh Sukma yang menggandeng Rina dengan wajah tak bersemangat sama sekali.
Rina langsung berjalan cepat kearah Rifal, lalu memeluknya seraya sesegukan.
__ADS_1
''Jangan buat Mommy panik, Fal,'' tangis Rina memeluk Rifal yang masih menutup matanya.
Aska memeluk Rina, agar menguatkan istrinya itu.
‘’Biarkan Rifal istirahat,'' ucap Aska. Memegang pundak Rina.
Mereka berdua berpelukan, Rina menumpahkan tangisnya dalam pelukan Rifal.
Tanpa sadar, air mata Nando mengalir begitu saja terharu melihat Rina dan Aska.
Nando iri karna moment ini hanya orang tertentu saja mendapatkanya. Dia sudah tidak mempunyai kedua orang tua karna dia dibesarkan di pantai asuhan.
Hidupnya berubah sejak bertemu dengan Rifal, pria baik itu mengangkat dirinya sebagai tangan kananya di kantor.
Nando mendongakkan kepalanya, agar air matanya tidak jatuh lagi.
Aska melepaskan pelukanya, lalu mengusap air mata sang istri.
''Jangan menangis seperti ini, anak kita akan baik-baik saja,'' ucap Aska mengusap air mata Rina.
''Anak kita akan baik-baik saja jika ada Valen. Bagaimana jika Valen tidak ada?''
Aska kembali memeluk istrinya, dia tidak tau harus membalas perkataan Rina seperti apa lagi.
Samar-samar Rifal mendengar perkataan Rina tadi, sehingga air matanya menetes tanpa dia membuka matanya.
“Mom, Rifal nggak tau seperti apa Rifal kedepanya tanpa Valen, Mom. Maafkan Rifal, jika suatu saat nanti, Rifal yang bukan Mommy kenal lagi. Hidup Rifal tanpa Valen, sangat hampah. Rifal mau Valen kembali Mom, untuk memeluk rifal.”
Nando yang melihat air mata Rifal mendekati Rifal.
''Saya tau, kau bisa mendengarkan apa yang saya katakan. Jangan menyiksa orang tua mu dengan sikap mu. Apa lagi kau sampai tidak makam dan minum membuat kedua orang tua menangis seperti ini, Fal. Kau harus Bersykur, karna masih mempunyai kedua orang tua yang baik,'' bisik Nando tepat di telinga Rifal.
Nando mengusap air mata Rifal, pria itu belum juga membuka matanya.
Aska yang tidak mendengar isakan tangis Rina dalam pelukanya langsung meggendong Rina. Dia tau, jika Rina saat ini tidak sadarkan diri.
''Nando, jaga Rifal sebentar. Daddy mau bawa istri Daddy ke kamar. Dia pingsan,'' ucap Aska seraya menggendong Rina di ikuti oleh Sukma.
''Kalau kau sudah bangun, makanlah, kasihan Mommy mu selalu pingsan memikirkan mu, Fal,'' Nando berkata dengan bijak di telinga Rifal.
''Apa kau tidak kasihan dengan Mommy dan Daddy mu? Mereka berdua selalu melamun memikirkan dirimu. Kau tidak mau, kan, jika mereka jatuh sakit, terutama Mommy itu.''
Nando menghembuskan nafas berat.
''Saya tau, Fal. Ini bukan hal yang mudah, kehilangan istri sekaligus anak. Tapi kau perlu belajar mengikhlaskan meskipun itu mustahil untuk kau lupakan. Lawan kata kemustahilan itu, Fal.''
Nando mengusap air matanya. ''Jangan berubah, tetap jadi Rifal yang saya kenal. Bos yang sangat baik.''
__ADS_1
Nando terkekeh. ''Dan bos yang selalu memberikan saya bonus.''