
Frezan tengah menelfon Daniel, dia menyuruh pria itu untuk masuk keruangan kerjanya.
Ceklek
Pintu ruangan Frezan terbuka, muncullah sosok pria tampan bernama Daniel memasuki ruangan Frezan.
Daniel langsung duduk didepan Frezan dengan Frezan masih menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Sementara, Frezan masih memejamkan matanya memikirkan sesuatu yang membuatnya harus berpikir secara terus-menerus.
"Bagaimana dengan pekerjaan, Elga?" tanya Frezan tanpa membuka mantanya bertanya pada Daniel.
Huft
Terdengar hembusan nafas berat keluar dari mulut Daniel, membuat Frezan sudah menebak bagaimana kerja iparnya itu.
"Maaf pak, Elga kerjanya hanya santai. Dia tidak bekerja sesuatu yang saya suruhkan untuk dia kerja. Padahal yang saya suruhkan atas perintah pak Frezan sendiri," ungkap Daniel mengingat Elga tidak menyukai jika dirinya yang memberikan arahan.
Seperti sedang mempunyai dendam pribadi saja, Elga tidak mematuhi perintah Daniel.
Frezan membuka matanya lalu melihat kearah Daniel.
"Sekarang Elga dimana?" tanya Frezan.
"Diruanganya."
Frezan langsung menelfon Elga membuat pria itu langsung melihat kearah layar handphonenya. Dia sedang mendengarkan music, tiba-tiba saja musicnya terhenti karena Frezan sedang menelfon.
"Gaya-gayaan pake telfon. Bisa aja langsung nyamperin gue kesini" kesal Elga lalu menekan tombol hijau untuk mengangkat telfon dari Frezan.
"Keruangan saya, sekarang juga!" Frezan tidak suka basah-basih. Dia langsung berbicara langsung pada intinya lalu mematikan handphonenya membuat Elga di seberang mencaci maki Frezan dengan berbagai makian.
Elga berdiri dari tempat duduknya, untuk segera menuju ruangan Frezan. Ruangan Frezan berada di lantai lima sedangkan ruangan Daniel dan juga Elga berada di lantai tiga berdekatan.
Elga menaiki lift lalu menekan angka lima untuk segera menuju ke lantai lima.
Elga keluar dari lift berjalan dengan elegan layaknya seorang penguasa kantor ini.
Elga tersenyum masam saat dia sudah berada didepan pintu ruangan Frezan yang di desain dengan sangat mewah yang sangat memanjakan mata.
Pintu ruangan Frezan dibuka oleh Elga, Daniel melirik Elga sehingga mata mereka saling bertemu. Elga menatap Daniel dengan sangat sinis membuat Daniel hanya masa bodoh saja dengan tatapa sinis Elga.
__ADS_1
Elga langsung berjalan kearah Frezan, dia duduk di samping Daniel karna kursi berada disitu.
Mata tajam milik Frezan langsung menatap Elga, sementara Elga mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Tatapan Frezan memang sangat mengerikan.
"Kenapa lo manggil gue." Tanpa melihat Frezan, Elga langsung bertanya tanpa memikirkan jika dihadapannya ini bukan hanya iparnya, tetapi juga bosnya.
"Jaga ucapan mu saat di kantor," peringat Daniel kepada Elga. "Tutur kata yang harus kau gunakan saat dirumah jangan kau bawa ke kantor."
Daniel dan Elga saling bertatapan, seakan-akan ada api yang akan keluar dari kedua bola mata mereka berdua. Jujur saja, semenjak Elga bekerja disini membuat Daniel sangat ekstra hati-hati agar tidak terpancing emosi saat Elga berbicara tidak sopan kepada atasnya itu.
Danile tau, jika Elga adalah ipar Frezan. Namun tidak sepatutnya dia bertutur kata seperti itu kepada bosnya saat di kantor.
"Bukan urusan lo!" desis Elga kepada Daniel dengan matanya masih setia bertatapan dengan Daniel.
"Kamu perlu ingat satu hal," kata Frezan dengan tegas sehingga Daniel dan juga Elga langsung melihat kearah Frezan. "Kalau di kantor saya adalah bosmu, bukan hubungan antara ipar. Jadi, kamu harus profesional," lanjutnya membuat Daniel tersenyum tipis.
"Ck, langsung intinya saja. Buat apa kau memanggilku kesini?" nada bicara pria tidak sabaran membuat Daniel menarik nafasnya panjang.
"Laporan kerja kamu sebagai sekretaris mana?" tanya Frezan kepada Elga.
"Saya tidak membawa berkas itu, lagian saya tidak mengerti sebagai sekretaris."
Frezan bertanya dengan santai, namun nada bicaranya tersirat ketegasan.
Elga melirik Daniel, "Saya tidak sudi belajar dengan dia," desis Elga sehingga Daniel juga melirik Elga.
Mata mereka berdua kembali beradu, Daniel berusaha menahan agar dia tidak terbawa emosi dengan perkataan Elga.
Elga berkata seperti itu, seperti sangat jijik pada Daniel.
"Andai ini bukan perintah pak Frezan, saya juga tidak sudih mengajar orang bodoh seperti dirimu," jelas Daniel sembari menyungkirkan senyum tipisnya kearah Elga membuat Elga mengepalkan tangannya.
"Apa lo bilang, hah!?" Elga langsung mencengkeram dasi milik Daniel sehingga bunyi meja membuat Elga langsung melepaskan tangannya yang mencengkram dasi milik Daniel.
Bugh....Frezan langsung menggebrak meja kerjanya.
Daniel memperbaiki dasinya yang berantakan ulah Elga.
__ADS_1
"Sekarang kamu keluar dari ruangan saya!" perintah Frezan dengan menunjuk kearah pintu menyuruh Elga untuk segera keluar.
Elga kembali menatap pada Daniel, seakan-akan bola matanya ingin mengatakan jika urusan kita belum selesai.
Elga langsung pergi dari ruangan Frezan, perkataan Daniel tadi yang menghina dirinya bodoh membuatnya ingin meninju wajah tampan milik mantan kekasih istrinya itu.
Elga mengeluarkan handphonenya lalu mengetik pesan kepada seseorang. Setelah mengirim pesan dia langsung masuk kedalam lift untuk segera menuju ruangannya mengambil kunci mobil untuk pergi dari kantor ini.
Ting
Handphone milik Rifal bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Dia melihat pesan tersebut dikirim oleh sahabatnya, Elgara.
"Siapa?" tanya Valen yang membawa secangkir kopi untuk suaminya.
"Elga," jawabnya membuat Valen manggut-manggut.
"Aku keluar dulu, soalnya Elga ngajak ketemuan," kata Rifal menyesap kopinya sebelum dia pergi.
"Aku udah nyuruh salah satu perawat tempat kamu bekerja kesini. Buat nemenin kamu jagain Nando, biar kamu nggak berduaan disini," kata Rifal membuat Valen tersenyum simpul.
Padahal dia bisa seorang diri menjaga Nando, namun perintah Rifal tidak boleh dibantah.
"Daddy pergi dulu, jangan banyak gerak di perut mommy kamu," kata Rifal mencium perut Valen dengan penuh kasih sayang.
Cup
Lalu kemudian dia mencium bibir Valen dengan singkat. "Aku keluar dulu," pamit Frezan lalu Valen menyalimi tangan Rifal.
Elga mengendarai mobilnya begitu laju, sehingga telfon milik Kayla tidak dia angkat saking sibuknya bermain gas.
"Elga kemana sih! padahal ini jam istirahat," oceh Kayla karna suaminya tak kunjung mengangkat telfonnya.
Elga melirik handphonenya, dia memelankan laju mobilnya saat melihat dilayar handphonenya tertera nama Kayla, istrinya.
Mood Elga sekarang tidak baik-baik, jadi dia malas untuk mengangkat telfon saat ini.
"Bang Elga udah angkat?" tanya Rara yang masih setia menggendong Dyra. Sementara, Dyta sedang asik memainkan bola dibawah lantai.
Sekali-kali Dyta marah kepada Dyra karna suaranya terlalu ribut menangis membuat Rara tertawa karna ekspresi anak kecil itu sangat lucu menegur saudaranya sendiri.
__ADS_1
"Bang Elga mungkin sibuk dengan pekerjaannya di kantor," kata Rara sehingga Kayla berhenti menelfon Elga. Dia juga takut jika menganggu Elga saat ini.
Namun, Kayla juga khawatir dengan suaminya itu.