
Nando membuka pintu mobilnya lalu segera keluar, saat dia memasuki pintu utama langkah kakinya langsung terhenti saat melihat pria paruh baya dan wanita paruh baya sedang menikmati minuman di hadapnya.
Nando melihat kedua paruh baya itu masih tampak tampan dan juga cantik meski usianya sudah tidak mudah lagi.
Aska yang meneguk tehnya langsung terhenti saat melihat pria di ambang pintu sedang menatap kearahnya.
Dia tidak tau, siapa dia. Rifal juga tidak mengatakan kepadanya jika nanti akan ada tamu datang.
“Assalamualaikum,” salam Nando setelah beberapa menit berada di ambang pintu utama.
Rina langsung melihat ke asal suara.
“Waalaikumussalam,” jawab Rina dan Aska secara bersmaaan.
Dengan sopan, Nando langsung menghampiri kedua paruh baya itu, lalu menyalaminya sebagai bentuk hormatnya kepada orang tua.
“Silahkan duduk,” Aska mempersilahkan Nando duduk.
“Emmm, perkenalkan, saya Fernando tangan kanan pak Rifal,” ucapnya dengan sopan kepada Rina dan Aska.
Aska dan Rina mengangguk mengerti.
“Kami berdua ini, orang tua Rifal,” kata Aska membuat Nando manggut-manggut. Nando berpikir, pantas saja Rifal tampan ternyata orang tuanya tampan dan juga cantik.
“Apakah Rifal ada, Om?” Tanya Nando dengan hati-hati. Dia tidak tau harus memanggil orang tua bosnya dengan sebutan apa.
Aska terkekeh mendengar anak seusia Rifal di hadapnya memanggilnya dengan sebutan om.
“Panggil saya, Daddy,” kata Aska santai sembari meneguk teh miliknya hingga tandas.
Sementara Nando langsung terdiam mendengar perkataan Aska.
“Jangan panggil om,” lanjut Aska meletakkan gelasnya tehnya yang sudah habis diatas meja.
“Saya tau, anak saya Rifal tidak akan mudah menerima asisten seperti dia dengan mudah menerima karyawan di kantornya,” celetuk Aska sembari menyandarkan kepalnya di kursi sofa.
“Apa yang suami saya bilang memang benar,” timpal Rina kepada Nando.
“Emm, iya Dad,” kikuk Nando sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal membuat Aska tersenyum.
__ADS_1
Aska sudah tau latar belakang Nando yang sudah tidak mempunyai kedua orang tua.
“Apakah Rifal ada?” Tanya Nando lagi.
“Sepertinya Rifal masih tidur bersama dengan istrinya,” jawab Aska dan dibalas anggukan kepala oleh Nando.
“Ada yang ingin kamu sampaikan? Kalau ada nanti kami yang akan sampaikan pada Rifal,” kata Rina.
“Saya kesini hanya ingin memastikan, jika Rifal sudah melihat,” ujar Nando.
“Rifal sudah melihat,” jawab Aska. “Kamu kan asistennya, tentunya kalian sangat dekat. Masa hal seperti ini kamu tidak tau,” tawa Aska dengan pelan membuat Nando tertawa kecil.
Seharusnya dia tau, tapi entah mengapa Rifal tidak memberitahukan kepadanya.
Aska langsung menepuk pundak Nando, membuat pria itu langsung melihat tangan kekar di pundaknya.
“Rifal sudah menganggap mu seperti saudara, itu berarti kamu sudah seperti anak kami juga. Rifal banyak bercerita tentang kamu sebagai asistennya. Kamu dan Elga sudah dianggap saudara sama Rifal . Karna Elga juga sangat dekat kepada Rifal,” kata Aska mengingat jika sejak dulu Rifal selalu bersama dengan Rifal.
Bolos bersama, dan berbuat ulah bersama pula, itulah yang di ingat Aska tentang anaknya.
Nando tersenyum tulus kepada Rina dan juga Aska. “Jadi, kamu juga bisa memanggil kami ini Daddy dan juga Mommy,” kata Aska dan dibalas anggukan setuju oleh Rina karna dia bisa melihat jika Nando itu orang baik.
“Terimaksih,” ucap Nando tersenyum tulus kepada Rina dan Aska.
Seorang pria paruh baya dan wanita paruh baya turun dari pesawat menggunakan kacamata hitam serta pria paruh baya itu mengenakan jas formal. Wanita paruh baya di sampingnya masih nampak cantik di usianya yang sudah tidak mudah lagi menggandeng tangan pria di sampingnya.
Wanita yang menggandeng tanganya mengenakan baju dres dengan rambutnya yang masih hitam. Meski ada rambut putih satu-satu di kepalnya namun itu bukan penghalang bagi keduanya untuk tampil berkharisma.
Supir langsung membukakan pintu mobil untuk kedua pasangan yang sudah tidak mudah lagi tapi masih tampan dan juga cantik.
Harus wajah pria itu masih seperti dulu, dingin tak tersentuh. Hari ini, dia ke Indonesia secara tiba-tiba.
“Jalan,” perintahnya dengan suara tegas kepada supir untuk segera menjalankan mobilnya.
“Baik, pak,” jawab supir tersebut lalu menjalankan mobilnya.
Wanita yang berada di sampingnya melepaskan kacamatanya lalu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
Setelah beberapa tahun lamanya di negeri orang, dia kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya yaitu Indonesia, dengan suatu alasan.
__ADS_1
“Aku merindukan anak kita, dan juga cucu kita,” kata wanita paruh baya itu kepada suaminya.
Suaminya juga melepaskan kacamatanya lalu mengusap rambut istrinya. “Aku juga, Al.”
Wanita di panggil Al oleh suaminya itu langsung menatap bola mata suaminya. “Tapi aku kecewa sama mereka, menyembunyikan hal besar ini kepada kita,” balasnya dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Suaminya itu langsung mengusap mata istrinya yang mengeluarkan air mata. “Aku juga kecewa,” balas suaminya.
Siang ini, mereka sampai di Indonesia dan ingin segera menuju kerumah seseorang.
Mobil yang dikendarainya langsung masuk ke pekarangan rumah setelah di bukakan pintu gerbang oleh satpam.
Tidak ada yang mengetahui kehadirannya di Indonesia, dia tidak memberitahukan kepada siapapun jika dia berada di Indonesia, termasuk orang yang ingin dia datangi.
Supir langsung keluar dari mobil lalu membukakan pintu kedua pasangan paruh baya itu yang masih romantis di usinya yanh sudah tidak mudah lagi.
Dia menatap rumah megah di hadapnya, bahkan rumah di hadapnya sangat megah.
“Ayok kita masuk,” kata pria itu menggandeng tangan istrinya untuk segera masuk.
Keduanya sudah berada di depan pintu yang sangat besar, dia langsung menekan bell rumah dua kali, setelah menekan bell rumah dia tinggal menunggu yang punya rumah membukakan pintu.
Rara yang mendengar suara bell di tekan langsung saja beranjak dari sofa yang dia duduki, dia ingin menyuruh Siska membuka pintu namun dia melihat Siska sedang mengajar Hasya dan juga Dyra berhitung.
Rara langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Rara langsung membuka pintu utama.
Deg
Jantung Rara menjadi tidak karuan saat melihat wajah kedua orang yang melahirkan dirinya sedang di depannya.
Seperti sedang mimpi di siang bolong, dia di kejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya.
“Ayah, bunda,” gumam Rara memperhatikan wajah kedua orang tuanya saat ini.
“Apa kamu tidak ingin mempersilahkan kedua orang tua mu untuk masuk?” Tanya Kevin, lebih tepatnya sebuah pernyataan untuk anak bungsunya.
Rara menatap kedua orang tuanya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Rara langsung berhambur kedalam pelukan Alvi. Alvi langsung mengusap rambut anaknya yang dia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya.
Alvi mencium kening milik Rara, sementara Kevin sudah lebih dulu masuk meninggalkan Alvi dan juga Rara.