
Rara membuka matanya secara perlahan-lahan karna cahaya mataharis masuk menerobos melalu celah jendela.
Frezan yang sedang duduk di kursinya sembari menatap layar laptopnya menghampiri Rara saat melihat istrinya sudah bangun.
Rara melihat wajah tampan Frezan tersenyum kearahnya,” pagi sayang,” sapa Frezan dan dibalas anggukan disertai senyuman oleh Rara.
Rasanya tubuhnya sangat sakit saat bangun, tiba-tiba saja pikirannya tentang kejadian semalam menbuatnya langsung teringat.
“Apa semalam cuman mimpi?” Tanya Rara memastikan kepada Frezan.
Frezan menarik nafasnya panjang, istrinya kira ini hanya mimpi padahal Ini bukan mimpi.
“Kamu nggak mimpi, apa yang kamu lihat semalam memang kenyataan,” kata Frezan dengan lembut membuat dada Rara menjadi panas.
Matanya berkaca-kaca menatap suaminya. “Jadi gimana kabar bang Elga?” Tanya Rara dengan mata berkaca-kaca.
“Sementara di proses oleh pihak polisi,” kata Frezan membuat Rara langsung memeluk Frezan.
Bagaimana jika kedua orang tuanya tau tentang Elga? Bisa-bisa orang tuanya akan kecewa dan malu.
“Rara takut,” kata Rara dalam dekapan Frezan.
Frezan mengusap rambut Rara. “Kamu takut kenapa?” Tanya Frezan dengan penuh kelembutan kepada Rara.
“Rara takut kondisi kak Daniel bakalan parah, dan bang Elga di penjara,” isak Rara sembari memikirkan bagaimana jika saudarany di tahan di dalam jeruji besi?
“Kalau itu terjadi, semua sudah takdir Elga.” bijak Frezan membuat isakan tangis Rara semakin keras.
Sementara Kayla hanya menatap kearah depan. Saat ini dia berada di balkon kamarnya. Matanya membengkak akibat menangis semalaman, dari balkon kamar, Kayla bisa melihat anak-anaknya bermain.
Sedari pagi dia belum bertemu dengan Dyta dan juga Dyra. Karna anaknya itu akan bertanya-tanya nantinya mengapa matanya bengkak.
Kayla tersenyum tipis, dia mengingat kejadian semalam, dia juga belum tau bagaiaman kabar Elga di kantor polisi.
Apakah suaminya itu di tahan karna telah menghajar Daniel.
Kayla mendongakkan kepalanya, bagaiamana jika Elga di tahan bertahun-tahun lamanya? Bagaiamana nasib dirinya dan juga anak-anknya? Terutama Dyta, pastinya anak itu akan selalu mencari Elga.
“Lo bodoh El. Lo nggak mikir apa dampak yang lo lakuin.” menolog Kayla sembari mengusap air matanya dengan kasar.
“Ada istri dan anak-anak lo. Yang butuh lo El!” tangisnya membuat dia langsung terduduk di bawah lantai balkon.
Bagaiamna caranya dia mengatakan kepada Dyta dan juga Dyra jika bertanya mengenai papahnya, apakah dia akan terus-terusan berbohong.
__ADS_1
Anak-anaknya masih kecil, tidak sepatutnya anak kecil sepertinya mengetahui hal besar seperti ini.
Kayla juga belum mengetahui kondisi Daniel, karna Frezan belum memberikanya kabar mengenai Daniel.
Dan pihak polisi juga belum ada yang menghubungi Elga. Semalam Elga tidur di dalam jeruji besih entah sampai kapan karna belum ada keputusan sampai kapan Elga di tahan.
***
Valen yang tertidur dalam pelukan Rifal di bangunkan oleh bunyi ponselnya. Dia melihat nama yang terterah di layar ponselnya yaitu nama Kayla.
Valen menyeritkan alisnya, ada apa dengan Kayla menelfonya pagi-pagi begini.
“Halo Kay,” sapa Valen dengan suara khas bangun tidurnya, dia melepaskan tangan Rifal yang memeluk erat pinggannya karna ingin mengobrol dengan sahabatnya.
Suara isakan tangis dari seberang Telfon membuat Valen langsung memperbaiki posisinya, dia mendengar suara isakan tangis Kayla.
“Kay,” panggil Valen. “Lo kenapa?” Tersirat nada khawatir saat Valen bertanya, jarang- jarang sahabatnya itu menangis.
Kayla masih belum kunjung bicara, mulutnya kakuh.
“Ayok Kay, cerita. Lo punya masalah apa, siapa tau gue bisa bantu,” Valen sangat penasaran dengan Kayla yang menagis.
“Elga, Va,” isak Kayla di seberang Telfon.
“Elga di tahan polisi hiks…hiks.”
Deg
Jantung Valen seperti berhenti sejenak saat Kayla mengatakan jika Elga ditahan polisi. Kurang ujian apa lagi hubungan antara dia dan sahabatanya mengenai rumah tangga mereka?
“Gimana bisa Elga di tahan polisi, Kay,” tanya Valen dengan khawatir.
Dia tau, kondisi Kayla saat ini tidak baik-baik saja dan membutuhkan teman cerita. Vale juga yakin jika Rara sama terpuruknya dengan Kayla karna Elga merupakan kembaran Rara.
“Elga mukulin Daniel semalam di pasar malam. Sampai-sampai Daniel tidak sadarkan diri dan di bawa kerumah sakit,” isak Kayla menbuat Valen memijit pelipisnya.
Ujian sangat berat.
“Gimana ceritanya Elga bisa ngehajar kak Daniel? Emangnya lo berduaan sama Daniel buat Elga murka?” Valen melontarkan pertanyaan tersebut.
“Nggak,Va, gue nggak berdua sama Daniel. Tapi ada Rara dan juga Tegar. Gue ketemu sama Daniel cuman kebetulan nggak ada rencana buat ketemu,” isak Kayla membuat Valen melirik kesebelahnya.
Melihat Rifal masih tertidur lelap, dia ingin sekali menemani Kayla namun jika dia pergi siapa yang menemani Rifal? Dia bisa saja menyuruh perawat atau pembantu menahan Rifal namun dia berperan sebagai seorang istri.
__ADS_1
“Lo yang sabar Kay, gue mau ke situ buat nemenin lo tapi gue nggak bisa. Lo tau kan kondisi Rifal saat ini lagi buta,” kata Valen dengan sedih.
“Nggak apa-apa Va, gue Telfon lo buat cerita, agar gue legah,” kata Kayla.
“Terus, gimana kondisi Rara?” Tanya Valen.
“Kata kak Eza, dari semalam Rara nangis sampai sekarang,” kata Kayla membuat Valen menarik nafasnya kasar.
“Udah dulu yah, Va. Gue mau istirahat. badan gue semuanya sakit, terutama hati gue,” kata Kayla.
“Lo yang sabar yah Kay, gue yakin lo bisa lewatin ini semua,” kata Valen.
“Iya, Va.”
Percakapan mereka langsung terputus. Saat Kayla mematikan ponselnya. Dia membaringkan tubuhnya diatas kasur sembari menatap langit-langit kamarnya.
Dia memejamkan matanya lalu tertidur.
“Yang nelfon kamu pagi-pagi siapa?” Tanya Rifal dengan suara seraknya, pria itu ternyata sudah bangun.
Valen terdiam, apakah Valen harus menceritakan mengenai Elga kepada suaminya?
“Len,” panggil Rifal karna Valen tak kunjung menjawab pertanyaanya. “Atau yang nelfon kamu Nathan.”
“Bukan.” Kilah Valen dengan cepat, jangan sampai Rifal salah paham kepadanya.
“Yang nelfon gue Kayla,” jawab Valen.
“Ngapain dia nelfon kamu?” Tanya Rifal.
“Dia nanyain kondisi kamu, di suruh sama Elga karna Elga lagi sibuk,” bohong Valen membuat Rifal manggut-manggut.
Valen bernafas legah, karna Rifal percaya padanya. Untuk semenatara dia tidak akan memberitahukan kepada Rifal jika saat ini Elga di tahan di kantor polisi.
“Kita lanjut tidur,” kata Rifal memeluk erat Valen.
“Aku nggak bisa nafas, Fal,” tegur Valen karna Rifal memeluknya dengan erat.
“Yaudah aku kasi nafas buatan.”
Cup
Ciuman mendarat di bibir Valen. Apakah Rifal benar buta? Karna ciuman pria itu tepat sasaran membuat Valen menggelengkan kepalnya.
__ADS_1
“Gue udah tau letaknya,” canda Rifal membuat Valen tersipu malu.