
Sekitar tiga jam lebih menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung, akhirnya mobil milik Nathan telah sampai di depan rumah dengan gerbang menjulang tinggi ke atas.
Seorang satpam membukakan pintu gerbang untuk Nathan, saat Nathan membuka kaca mobilnya barulah satpam itu membuka pagar rumah, milik Alex.
Nathan langsung memarkirkan mobilnya di garasi mobil dan turun dari mobil. Dua tahun sudah dia tidak menjenguk Alex, karna pekerjaannya dan juga malas jika menemui sosok Reta, ibu tirinya sendiri yang di mana usianya tidak bedah jauh denganya.
Nathan langsung keluar dari mobilnya, untuk segera masuk ke dalam rumah menjumpai Alex, dan tentunya untuk menemui adiknya, Farel.
Pintu utama di buka oleh salah satu art yang bekerja di rumah Alex, art itu menundukkan kepalanya saat Nathan datang.
Dia baru melihat Nathan lagi setelah dua tahun lamanya tidak datang menjenguk Alex.
"Bang, Nathan!"
Suara teriakan anak laki-laki menggemah, saat melihat sosok Nathan memasuki rumah Alex.
Nathan tentu saja melihat ke arah samping, benar saja dia sudah melihat sosok anak laki-laki berusia 9 tahun dengan membawa bola basket di tangannya, terlihat jika anak itu habis olahraga.
Nathan merentangkan kedua tangannya, untuk menyambut anak laki-laki yang memanggilnya.
Yah, anak itu adalah Farel sendiri.
Farel membuang bola basketnya sehingga menggelinding di lantai, hanya untuk memeluk sosok Nathan yang sudah dua tahun lamanya tidak bertemu.
"Farel kangen sama, bang Nathan!" kata Farel setelah mendarat di pelukan Nathan.
Nathan mencubit kedua pipi adiknya itu, dua tahun tidak bertemu dengan Farel membuat anak itu semakin tumbuh menjadi anak yang tampan.
"Abang Nathan juga kangen sama adik tampan Abang ini," kata Nathan.
Anak laki-laki berusia 9 tahun itu memeluk Nathan dengan erat.
"Bang Eza mana," tanya Farel melepaskan pelukannya kepada Nathan, dan celingak-celinguk mencari sosok Frezan.
"Bang Eza 'kan udah datang lihat kamu sebelum dia ke Bandung," kata Nathan.
Karna setahunya Frezan pamit kepada Alex dan juga Farel pastinya.
__ADS_1
"Tapi 'kan Farel masih kangen sama Bang Eza, mama Rara dan juga Hasya dan Tegar," kata Farel sedikit cemberut kepada Nathan.
Jujur saja Farel tidak akan meninggalkan rumah satu hari hanya untuk bermain jika ada Hasya dan juga Tegar berkunjung di rumah Alex, karna Farel akan bermain dengan Hasya juga Tegar.
"Farel kangen main sama adik Hasya dan juga Tegar," sambungnya masih dengan nada cemberut.
Nathan menyungkirkan senyuman misteriusnya.
"Farel mau main sama Hasya dan Tegar lagi 'kan?" tanya Nathan dan di balas anggukan kepala semangat oleh Farel.
Nathan mencubit hidung Farel dengan gemas."Farel mau ikut bang Nathan ke Bandung nggak? Ketemu sama dedek Hasya dan Tegar," ucap Nathan.
Anak laki-laki itu tampak berfikir sejenak, meski usianya masih 9 tahun, tak di pungkiri jika anak itu berfikir, layaknya orang dewasa.
"Emang boleh?" tanya Farel, dan di balas anggukan kepala oleh Nathan.
"Farel mau, tapi mami pasti nggak bakalan ngizinin Farel pergi," kata Farel sedikit lesuh, terlihat dari nada bicaranya.
"Kalau mami Reta ngizinin, Farel mau 'kan ikut Abang Nathan ke Bandung ketemu sama dedek Hasya dan Tegar," kata Nathan memastikan, jika adiknya itu mau.
"Farel."
Nathan dan Farel melihat ke asal suara. Terlihat sosok wanita dengan dres berwarna coklat serta menggunakan sepatu hak tinggi di depan ambang pintu.
"Mamih!" Farel langsung berlari untuk memeluk sosok wanita yang berdiri di ambang pintu.
Yah, dia adalah sosok Reta yang menikah dengan Alex saat dia masih duduk di bangku SMA, karna hubungannya itu terciptalah sosok Farel.
"Mamih, Farel kangen," kata Farel dengan lirih dalam pelukan Reta.
Tampak wanita itu masih cantik, seperti saat dia SMA.
Nathan menyeritkan alisnya, saat Farel mengatakan kata kangen? Memangnya selama ini Reta kemana?
Mata Reta dan Nathan saling bertatapan. Reta mencium pipi anaknya..
"Anak mami mandi dulu yah, habis itu ambil oleh-olehnya di kamar, di bawah sama bibi," kata Reta, dengan cepat Farel berlari untuk segera mandi.
__ADS_1
Reta berjalan dan melewati Nathan, yang merupakan anak tirinya sendiri.
"Kemana aja lo."
Langkah kaki Reta terhenti, mendengar perkataan Nathan.
Reta membalikan badannya," bukan urusan lo." Reta membalas perkataan Nathan.
"Suami lo lagi sakit seharusnya lo jagain. Bukan pergi liburan!" tegas Nathan, setelah melihat art sedang membawa koper dan tentunya koper itu milik Reta. Apa lagi perkataan Farel tadi mengatakan jika dia merindukan Reta. Sudah jelas bukan, jika Reta tidak pergi.
Reta menyungkirkan senyum meremehkan kepada Nathan," lo anaknya, gue cuman istri yang terpaksa menikah dengan bokap lo," terang Reta dengan menekan setiap perkataannya.
"Seharusnya lo sadar akan hal itu. Kalau gue nggak bakalan ngurusin pria yang nggak pernah gue harap jadi suami gue," kata Reta lagi lalu pergi meninggalkan Nathan.
Sepertinya Farel sudah mandi, karna sekarang anak itu berada di kamar Alex, tempat dia di rawat. Yah, Alex lebih memilih di rawat di di rumahnya ketimbang di rumah sakit.
Farel menyuapi Alex bubur.
"Cepat sembuh yah, pah," kata Farel dengan lirih.
Sudah hampir satu tahun Alex terbaring sakit, dan satu tahun itu pula Alex tidak di manjakan lagi oleh sosok Alex, yang selalu memanjakan Farel selama ini.
Kasih sayang selalu di dapatkan oleh Farel, baik Reta maupun Alex.
Alex tersenyum ke arah putranya, dia tidak bisa membalas perkataan Farel, karna dia tau penyakitnya ini adalah penyakit yang di derita oleh pria yang sudah berumur seperti dirinya.
"Mami kamu sudah pulang?" tanya Alex dengan lemah, karna sakitnya dia berbicara pun menjadi lemah.
Farel mengangguk mengiyakan ucapan Alex," baru-baru aja mamih pulang, dan bawain Farel Hadiah basket yang banyak, dan mainan lainnya," kata Farel kepada Alex.
Alex tersenyum melihat putranya bercerita, namun tidak dengan hatinya. Satu tahun ini Reta selalu keluar negeri. Entah apa yang dia urus. Alex tidak bisa bertindak seperti dulu karna dia sudah menjadi pria berpenyakitan.
Seharusnya Reta sebagai istrinya, menjaga dirinya karena sedang sakit. Dari sini Alex bisa memetik hikmah di balik semua ini. Dalam pernikahan harus mencintai satu sama lain, bukan hanya satu pihak saja.
Nathan memijat pelipisnya yang terasa pusing, dia berjalan ke lantai atas, yang di mana Alex sedang di rawat di rumah.
Nathan tidak tau, kemana Reta selama ini. Nathan yakin jika papahnya tidak pernah di urus oleh Reta selama sakit.
__ADS_1