Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Minta bertemu


__ADS_3

Nathan menghentikan tawanya, lalu duduk di tepi ranjang. Dia berpikir mengapa saudaranya itu bertanya jika dia yang mulai Rifal atau bukan?


Jika benar memang dia yang ingin mencelakai Rifal, tidak mungkin dia akan mendonorkan darahnya kepada Frezan sehingga pria itu masih hidup sampai sekarang atas kehendak Tuhan.


Dan tidak pula Rifal bersusah payah untuk mencari pendonor mata untuk Rifal sampai keluar kota.


“Gue yakin, ada yang curigain gue. Kalau gue yang celakain Rifal,” menolog Nathan sembari berpikir siapa yang memfitnah dirinya.


“Tapi siapa yah?” lanjutnya.


Dia ingin menelfon kembali Frezan, namun dia yakin Frezan tidak akan mengangkatnya karna sudah memancing emosi Frezan.


Nathan sibuk dengan pemikirannya, entah siapa yang memfitnah dirinya yang telah mencelakai Rifal. Dia tersenyum kecut, pantas saja jika dia yang pertama kali di curigai karna dia mencintai Valen.


Orang-orang sudah pasti beranggapan jika dia pelakunya karna ingin menyingkirkan Rifal dari dunia ini untuk memiliki Valen.


“Dasar tukang fitnah!” kesal Nathan.


Pikirannya tidak sampai jika yang memfitnah dirinya adalah sosok Elgara.


Besok dia akan pulang ke Jakarta, dan kembali memulai aktivitasnya sebagai seorang dokter. Apa lagi dia akan melalukan pengobatan kepada Adelia.


Nathan penasaran. Bagaiamana cara dokter baru itu membujuk Adelia untuk kemo. Karna kanker telah menggerogoti tubuhnya, jika tidak melakukan pengobatan secara rutin makan kanker itu semakin ganas.


Nathan mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya, guna menghubungi dokter Kiki.


Drt…


Ponsel milik dokter Kiki bergetar, dia melihat nama yang terterah di layar ponselnya tertuliskan nama dokter Nathan.


Saat ini dia sedang beristirahat di ruangannya, setelah memberikan Adelia obat dia langsung istirahat.


“Halo, dok,” sapa dokter Kiki.


“Halo dokter Kiki, maaf menganggu waktunya sebentar,” kata Nathan.


Dokter Kiki tersenyum. “Saya kebetulan sedang istirahat, jadi dokter Nathan tidak menggangu sama sekali,” kata dokter Kiki.


“Besok saya sudah kembali ke Jakarta, saya ingin kita membahas masalah Adelia, baru malamnya kita melakukan tindakan kemo,” kata Nathan.


“Jam berapa?”


“Besok saya berangkat sangat pagi, mungkin kita bertemu sore hari. Karna saya ingin istirahat sejenak setelah sampai ke Jakarta.” Terang Nathan.


“Apakah dokter Kiki bisa?”

__ADS_1


“Tentu saja bisa dok.”


“Yasudah saya tutup telfonya dulu.”


“Iya dok.”


Panggilan telepon berakhir, besok sore mereka akan bertemu membahas mengenai Adelia.


Dokter Kiki menepuk jidatnya, dia lupa menanyakan apakah dokter Valen ikut serta menangani Adelia atau tidak? Karna bagaimn pun dokter Valen berperan penting di sini mengenai Adelia.


“Besok aja gue tanyain ke dokter Nathan,” menolognya lalu kembali mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Sementara Nathan langsung masuk kedalam kamar mandi untuk mandi. Hari ini, hari terakhirnya di sini, besok dia sudah kembali ke Jakarta dan melalaikan aktivitasnya sebagai seorang dokter.


****


Siang hari ini sekolah Sd sudah pulang, salah satu sopir yang bertugas menjemput anak-anak sudah berada di depan pintu gerbang.


Supir tersebut mengangkat sudut bibirnya saat melihat anak majikannya sedang bergandengan tangan menuju gerbang sekolah.


Yah, yang supir lihat adalah sosok Hasya dan juga Dyra yang tidak berpisah. Kemanapun dia pergi dia berdua selalu bersama.


Berbeda dengan Dyta, supir itu juga melihat anak berambut keriting sedang berjalan menuju gerbang seorang diri.


Yah, siapa lagi kalau bukan sosok Farel yang selalu menjahili Dyta.


“Curiting, kita entar main bola bareng yah,” pinta Farel.


“Dyta nggak mau!” Tolak anak itu menbuat Farel semakin gencar memainkan rambutnya yang geriting.


“Harus mau dong curiting, kan besok aku udah pulang ke apartemen bang Nathan, entar kamu rindu sama aku,” kata Farel lagi yang tidak di gubris oleh Dyta.


Dyta langsung masuk kedalam mobil bersama dengan Farel duduk di belakang, sementara Dyra dan Hasya duduk di depan.


“Kak Farel, Dyra juga mau duduk di situ. Dekat sama kak Farel,” kata Dyra menengok kearah belakang.


“Kamu di situ aja, sama Hasya,” kata Farel membuat Dyra mengerucutkan bibirnya lucu.


“Deng Tegar mana?” Tanya supir diluar jendela mobil.


Hasya dan Dyra bersamaan menggelengkan kepalanya tanda dia tidak tau.


“Neng Dyta cantik, Tegar mana?” Tanya Supir itu, karna setahunya anak ini dekat dengan Tegar.


“Kak Tegar lagi kerja kelompok pak,” kata anak itu membuat sang supir langsung mengambil ponselnya menghubungi Rara.

__ADS_1


“Halo, Bu. Deng Tegar nggak ada di sekolah. Kata neng Dyta dia kerja tugas kelompok,” lapor supir tersebut kepada Rara.


“Bapak antar anak-anak sekarang, nanti saya Telfon ibu guru Tegar. Tegar kerja tugas di rumah siapa,” kata Rara di seberang Telfon.


“Baik bu.”


Supir langsung masuk kedalam mobil, dia melakukan mobilnya untuk segera pulang membawa anak-anak mungil ini.


“Pak, Dyta mau singgah di lapangan basket,” kata Dyta tiba-tiba dari belakang.


Supir itu menengok ke belakang, lalu fokus menyetir kembali. Sementara Farel entah sejak kapan sudah tertidur.


“Emangnya neng Dyta udah pamit sama mama Kay?” Tanya supir tersebut. Dia tidak akan menurunkan Dyta sebelum mendapatkan perintah dari orang tuanya.


“Papah udah nungguin Dyta di lapangan basket dekat taman Tk,” kata anak itu menbuat sang supir mengangguk.


“Bapak lihat dulu yah, apakah papah Elga beneran ada atau tidak ada,” kata supir tersebut dengan sopan.


Dyta hanya mengangguk saja.


Mobil yang di bawa telah sampai di lapangan basket dekat tk, supir sudah melihat Elga memakai baju olahraga membawa bola basket berjalan menghampiri mobil mereka.


“Ayok Dyta,” ajak Elga.


Supir membuka pintu mobil, lalu Dyta turun dari mobil. Dia sempat melirik Farel lalu benar-benar turun dari mobil.


“Pah,” panggil Dyra.


“Dyra juga mau main basket,” kata Dyra dengan lucu.


Jendela mobil terbuka sehingga Elga langsung mengusap rambut lurus milik Dyra yang berbanding terbalik dengan Dyta.


“Anak cantik papah ini, lebih baik pulang bantu mama masak,” kata Elga membuat Dyra mengerucutkan bibirnya.


“Atau main masak-masak sama Hasya,” kata Elga lagi membuat Dyra langsung cemberut membuat Elga tidak tahan untuk tidak mencubit pipih gembul milik Dyra.


“Jalan pak, hati-hati bawa anak-anak,” kata Elga dan dibalas anggukan kepala oleh Supir.


Supir tersebut langsung mengendarai mobilnya sepelan mungkin.


“Papah lebih sayang Dyta, daripada Dyra,” tangis anak itu pecah dalam mobil membuat supir langsung gelagapan mendengar tangisan Dyra semakin keras.


Supir berusaha membuat Dyra agar berhenti menangis, namun anak itu semakin kencang menangis membuat supir melajukan mobilnya sedikit agar segera sampai di rumah.


Sementara Farel langsung bangun dari tidurnya sementara Hasya menutup telinganya.

__ADS_1


__ADS_2