Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Nando minta peluk


__ADS_3

Tengah-tengah malam begini Rifal berkata begitu pada Valen, dan jangan lupa raut wajahnya yang serius berkata kepada Valen..


"Aku serius, jangan sampai manja kamu ini kamu berikan pada Nathan. Kalau sampai aku tau aku bakalan buat perhitungan dengan dia," kata Rifal membuat Valen menggelengkan kepalanya.


"Nggak bakalan, aku cuman mau manja sama ayah anak yang aku kandung," kata Valen dengan memakan nasi goreng suapan dari Rifal.


Rifal mengacak rambut Valen. "Dengerin apa yang aku bilang, jangan sampai buat aku kecewa," kata Rifal dengan serius. "Aku nggak mau lihat kamu dekat sama siapapun termasuk dekat sama Nathan," lanjutnya memberikan peringatan kepada Valen.


"Iya," kata Valen. "Aku udah kenyang," lanjutnya mengambil air putih lalu menyudahi makanya.


"Jangan langsung baring, sandar dulu. Nggak baik lepas makan langsung baring," kata Rifal sembari memakan nasi goreng yang sudah tak di inginkan oleh Valen.


Valen menyandarkan kepalanya disandaran kamar. "Kamu tau dari mana?" tanya Valen sehingga Rifal melirik Valen.


"Google," jawabnya singkat membuat Valen tertawa. Ternyata Rifal membuka google hanya karna itu?


"Gim-"


"Nggak usah banyak tanya lagi, udah tengah malam." kata Rifal memotong perkataan Rifal sehingga Valen mau tidak mau mendengarkan apa yang Rifal katakan.


Valen sudah tidur kembali, sementara Rifal sedang sibuk memejamkan matanya agar tertutup untuk segera tidur. Sudah dua kali terbangun. Pertama di bangunkan oleh Valen karna kedatangan Lea, yang kedua karna Valen tengah lapar.


Rifal mengacak rambutnya karna sudah tidak bisa tertutup lagi padahal sudah tengah malam. Dia melirik kearah Valen yang sudah tertidur nyenyak.


Dia memperbaiki anak rambut milik Valen lalu mencium kening Valen.


"Gue cinta sama lo, Len," kata Rifal lalu turun dari tempat tidurnya karna sudah sulit untuk tidur padahal baru jam 1 dini hari.


Dia berjalan kearah meja yang dimana laptopnya berada di sana. Dia menggeser tempat duduknya lalu duduk sembari menyalakan laptopnya.


Beginilah Rifal, jika dia sulit tidur dia akan meluapkanya pada pekerjaannya hingga dia bisa merasakan kantuk.

__ADS_1


Dia sibuk berkutat dengan laptopnya hingga jam berputar beriringan dengan waktu hingga tidak terasa Rifal sudah tiga jam berkutat dengan laptopnya.


Dia meregangkan otot-otot tubuhnya lalu menguap, sepertinya rasa kantuk baru saja datang kepada dirinya. Di liriknya jam sudah pukul empat subuh sudah tidak lama lagi akan pagi.


Rifal menutup laptopnya lalu berjalan ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya. Orang-orang sudah ingin bangun pagi namun dia baru ingin tidur.


Rifal memeluk Valen mengusap perutnya yang masih rata.


Tidak butuh waktu lama Rifal sudah tertidur sembari memeluk Valen dengan penuh kasih sayang.


***


Sementara di sisi lain Lea tengah asik memeluk Nando seperti bantal guling saja, dia tidak sadar jika bukan bantal guling lagi yang dia peluk melainkan tubuh milik Nando.


Nando membuka matanya secara perlahan, rasanya matanya sangat berat untuk dia buka. Dan jangan lupa dia merasakan tubuhnya seperti tertindas berat seseorang yang bukan main.


Nyawa Nando belum terkumpul semuanya jadi dia belum mengingat kejadian kemarin. Nando langsung meneguk salivanya susah payah saat dia melirik kearah kanannya melihat wajah yang akhir-akhir ini tidak asing sedang asik memeluk dirinya.


Nando tersenyum simpul melihat Lea yang memeluk dirinya. "Cantik," puji Nando dengan suara khas bangun tidurnya. "Tapi sayangnya Idiot, bukan selera saya," candanya dengan tawa kecil karna kondisinya belum juga pulih.


Nando menatap langit-langit kamarnya dia merasakan tubuhnya panas namun dia merasa seperti ingin demam saja.


"Ngapain ini anak ada disini?" Nando bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Nando kembali melirik Lea. "Lea," Nando membangunkan Lea dengan suara kecilnya.


Mata Lea terbuka secara perlahan-lahan sehingga objek pertama yang dia lihat adalah wajah Nando yang tersenyum jenaka kearahnya membuat Lea langsung melototkan bola matanya saking terkejutnya pagi-pagi seperti ini di suguhkan senyuman jahil Nando.


Lea semakin melototkan matanya saat dia sadar jika dia sedang memeluk Nando begitu erat seperti dia memeluk bantal guling jika dia ingin tidur.


Lea langsung menjaga jarak pada Nando, dia sadar jika dia yang memeluk Nando jadi dia tidak akan teriak seperti di novel-novel yang sering dia baca.

__ADS_1


"Ngapain kamu disini? Mana tidurnya meluk saya lagi," kata Nando membuat Lea yang menjaga jarak dengan Nando melirik kearah Nando yang masih mengenakan selimut tebal.


"Jengukin kak Nando," kata Lea, "kata dokter Valen kak Nando sakit jadi semalaman Lea disini," lanjutnya membuat Nando meneguk salivanya susah payah.


Yah, dia baru ingat kejadian kemarin, dimana Valen benar-benar meyuntik dirinya hingga dia pingsan macam nih.


Nando dan Lea saling berpandangan membuat Lea menatap dalam-dalam Nando.


"Emangnya kak Nando sakit apa? Sampai-sampai pingsan sedari kemarin?" tanya Lea membuat Nando meneguk salivanya susah payah. Bagaiamana jika Lea tau jika dia takut jarum suntik? Bisa-bisa gadis itu selalu menjahili dirinya dengan jarum suntik apa lagi Lea seorang mahasiswa yang tak luput dengan benda seperti itu.


Masih pukul enam pagi, Nando dan Lea sudah terbangun. Sebenarnya Lea masih ingin tidur namun panggilan dari Nando tadi membuatnya bangun.


"Saya cuman kecapean," kata Nando dan dibalas anggukan kecil oleh Lea.


Lea bisa melihat gelagat Nando seperti orang yang sedang kedinginan, padahal saat sadar Lea bisa merasakan tubuh yang dia peluk begitu panas namun herannya dia tetap nyaman tidur.


"Kak Nando demam?" tanya Lea melihat Nando mengigil.


"Biar Lea panggilin dokter Valen," kata gadis itu sudah ingin beranjak dari tempat tidur namun Nando menghalanginya.


"Nggak usah," kata Nando dengan cepat sebelum gadis itu benar-benar memanggil dokter Valen. Dia juga tidak tau jika dokter Valen berada disini, jika Valen berada disini itu tandanya Rifal juga berada disni.


Bukan maksud apa-apa Nando mencegat Lea, dia takut jika dia memanggil Valen lalu Valen menyuntik nya guna memberikan obat. Hal itu akan membuat Nando akan malu di hadapan Lea yang takut dengan jarum suntik dan dia yakin lepas itu Lea akan menertawakan dirinya sampai gadis itu puas.


"Kenapa?" tanya Lea karna Nando melarangnya memanggil dokter Valen.


"Kamu aja," kata Nando kepada Lea.


"Nggak bisa, ilmu medis Lea baru dikit," tolak Lea. Karna apa yang dia katakan memang benar adanya.


"Kamu aja yang aku peluk, biar nggak dingin."

__ADS_1


__ADS_2