Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Pemakaman


__ADS_3

Bandung


Nathan dan Lea sudah tiba di Bandung, mereka langsung ke tempat pemakaman umum, untuk siarah kuburan Alex.


Mereka berdua turun dari mobil.


''Dokter Nathan, jajanya nggak dibawa?'' tanya Lea membuat Nathan menggeleng tak habis pikir, Lea ingin membawa kuenya ikutan turun.


''Nggak, Lea. Jajanya simpan di mobil saja. Emangnya kamu mau makan di tengah kuburan?''


Lea menggeleng.


''Maka dari itu, simpan saja jajanya di dalam mobil.'' Nathan memakai kacamata hitamnya membuat Lea meneguk salivanya susah payah.


Tidak!


Ini sangat tampan untuk Lea, ketampanan Nathan bertambah berkali-kali lipat saat mengenakan kacamata hitamnya.


Lea tidak berkedip menatap Nathan membuat Nathan menyungkirkan senyuman jenaka.


''Kenapa? Aku tampan, yah?'' tanya Nathan dengan pura-pura polos.


Lea mengangguk polos dengan pertanyaan Nathan barusan.


Nathan menghampiri Lea, sehingga Lea bisa melihat ketampanan Nathan dari dekat, pria itu memang tampan, mereka bertiga memang mempunyai ketampanan yang memikat para lawan jenisnya.


Pantas saja dulu Tasya jatuh cinta kepada Nathan, pria itu hampir sempurna. Bahkan, Lea seperti sedang mimpi saja bisa memiliki Nathan dan akan segera menikah dengan pria yang ia impikan.


''Udah pandanginya?'' Nathan tersenyum membuat Lea menggeleng.


‘’Belum dok, Lea masih mau lihat wajah tampan calon suami Lea. Dokter Nathan makin tampan pake kacamata,'' jujur gadis itu.


Sepertinya Lea mode oon, ucapan Lea barusan membuat Nathan tertawa kecil lalu tanganya bergerak mengacak rambut Rara.


''Ayok,'' ajak Nathan seraya menggandeng tangan Lea masuk kedalam pemakaman umum.


Lea mengangguk kecil, mengikuti kaki panjang Nathan dengan menggandeng tanganya.


Mereka berdua sudah sampai di kuburan bertuliskan nama Alex. Nathan berjongkok di ikuti oleh Lea.

__ADS_1


''Papih,'' panggil Nathan. ''Udah beberapa tahun papih ninggalin Nathan dan kak Eza.''


''Dokter Nathan nggak nyebut nama Farel?'' potong gadis itu membuat Nathan meliriknya.


Gadis di sampingnya membuatnya menarik air matanya kembali, lelucon sialan apa ini? Nathan belum menyelesaikan ucapannya Lea udah memotongnya.


“Sabar, Nath. Dia calon istri lo, pilihan lo sendiri.”


Nathan menempelkan jari telunjuknya di bibir Lea, membuat jantungnya tak karuan saat ini.


Lea mengangguk, padahal Nathan hanya menyimpan jari telunjuknya di bibirnya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Nathan menarik nafasnya dalam, Semogah saja Lea tidak menyahut kali ini.


Nathan memegang batu nisan Alex. ''Pih,'' panggil Nathan. ‘’Nggak kerasa udah beberapa tahun papih ninggalin Nathan dan kak Eza,'' ucap Nathan tersenyum samar. ''Papih bukan hanya ninggalin Nathan sama Eza, tapi papih juga ninggalin anak sekecil, Farel. Adik Nathan dan kak Eza.''


Nathan menghembuskan nafasnya berat, sebelum melanjutkan perkataanya.


''Anak sekecil Farel masih butuh kasih sayang orang tua, tapi istri ketiga papih mamihnya Farel, malah pergi Pih. Dia lebih memilih keluarga barunya ketimbang anak kandungnya sendiri, Farel.'' Nathan mengepalkan tanganya mengingat bagaimana Reta pergi meninggalkan Farel.


Farel saat itu menangis karna menginginkan Reta pulang, namun apalah daya, Reta memilih kelurga barunya.


''Nathan dan Eza bakalan jagain Farel. Hingga suatu saat nanti, Reta akan datang. Nathan yang akan lebih dulu mencekal wanita itu agar tidak bertemu Farel!''


Tangan Lea bergerak mengusap punggung Nathan, sehingga Nathan melirik gadis di sampingnya memberikan senyuman dan aura positif untuknya.


Nathan membalas senyuman Lea. Nathan kembali menggenggam tangan Lea.


''Pih, Nathan kesini untuk memperkenalkan calon istri Nathan. Beberapa hari lagi, kami berdua akan menikah. Nathan kesini untuk meminta restu papih. Anak kedua papih, akan menjalin bahtera rumah tangga, meskipun Nathan nanti sudah menikah, Nathan nggak akan kurangin perhatian dan kasih sayang Nathan untuk, Farel.''


''Semogah papih di sana restuin hubungan kami.'' Nathan mencium punggung tangan Lea membuat Lea tersentak.


Tindakan Nathan tiba-tiba membuat pipih Lea menjadi bersemuh seperti udang rebus.


Mereka akhirnya meninggalkan tempat pemakaman umum, Lea dan Nathan akan menuju hotel.


Ia sudah memesan dua kamar di hotel yang tidak jauh dari sini. Sebagai pria dewasa tidur berduaan dengan kekasih merupakan hal wajar di era sekarang, apa lagi ia sudah dewasa, namun wanita yang menjalin hubungan denganya bukanlah wanita murahan.


Di sepanjang perjalanan langit mendung, dan tiba-tiba saja hujan.

__ADS_1


''Dokter Nathan lagi hujan,'' ucap gadis itu melihat hujan lumayan deras jatuh membasuhi bumi.


Nathan melirik Lea. ''Kenapa kamu khawatir? Kita di dalam mobil, bukan naik motor. Jadi kamu jangan takut kebasahan,'' balas Nathan membuat Lea mengerucutkan bibirnya.


''Ini bukan air mata papihnya dokter Nathan?'' tanya gadis itu ambigu membuat Nathan menaikkan alisnya sebelah tidak mengerti air mata apa yang di maksud Lea.


''Tanda papih dokter Nathan nangis nggak restuin kita.''


Pletak…


Nathan langsung menjitak kening Lea dengan gemas.


''Suka ngaco Klau ngomong.''


''Mungkin ini air mata Kebahagian papih, karna nggak lama lagi anak keduanya akan menikah. Dan ia tidak hadir, karna sudah berbeda alam dengan kam.''


Lea hanya megangguk kecil, mungkin saja yang Nathan katakan ada benarnya, sedangkan yang ia ucapkan barusan tadi hanya ngadi-ngadi.


''Hujan-hujan enaknya ngapain, Lea?'' Nathan berpindah topik membahas lain.


''Hujan-hujan gini enaknya tidur, pake selimut. Sambil nyemil cemilan yang dokter Nathan beli tadi,'' jawab gadis itu seraya membayangkan apa yang barusan ia katakan.


Nathan tertawa kecil mendengar ucapan Lea barusan.


Ahk, Lea ini benar-benar...


''Kalau hujan itu, enaknya peluk-pelukan. Pelukan seseorang mampu menghangatkan seseorang yang kedinginan tanpa menggunakan selimut.'' Nathan berkata dengan santai sehingga Lea meneguk salivanya susah payah, bersamaan dengan jantungnya yang berdetak tak karuan.


Kata pelukan membuat Lea mengingat satu momen bersama dengan Nando. Ahk, dia mengingat dimana Nando saat itu sakit, Lea datang menjenguknya.


Pria itu merengek kepada Lea untuk di peluk, sehingga Lea saat itu dengan terpaksa di peluk Nando hingga pria itu tidur.


Jujur saja, pelukan Nando saat itu membuat Lea nyaman. Benar kata Nathan, jika pelukan seserong dapat menghangatkan tubuh yang dingin tanpa menggunakan selimut.


‘’Nanti kalau udah hala,'' ujar Lea dengan senyuma melekat di wajahnya.


Ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan pria berbeda, saat itu dia belum tau banyak hal. Sekarang ia sudah sedikit tau apa saja batasan seorang pria dan wanita jika menjalin hubungan asmara, yang namanya pernikahan.


Biarkan ini menjadi rahasia Lea saja.

__ADS_1


__ADS_2