
Waktu berjalan begitu cepat, begitupun dengan Valen yang hilang dan belum juga di temukan hingga saat ini.
Bahkan, Rifal yang satu tahun lamanya koma merasakan jika dia hanya tidur semalam, bukan tidur satu tahun lamanya.
Namun mereka mengatakan jika dirinya koma selama satu tahun lamanya, dan istrinya sudah selama itu menghilang.
Rifal berharap jika seseorang menemukan istrinya dalam keadaan salamat dan dia akan menjemput istrinya dan membawanya pulang.
Dia berjanji akan terus berada di samping Valen, menuruti permintaan wanitanya itu. Hidupnya sangat hampah tanpa Valen.
Dia sudah bertekad jika dia akan ke Bali mencari Valen kembali, meskipun sudah lebih satu tahun lamanya Valen menghilang.
Dia akan mencari Valen, hingga dirinya sendiri yang lelah dan mengatakan jika Valen benar-benar sudah tidak ada.
Namun, untuk saat ini. Dia sangat-snagattttt yakin jika istrinya itu masih hidup hingga detik ini, hanya saja dia tidak tau dimana Valen.
Meskipun orang-orang mematahkan keyakinannya tentang Valen, namun dia tetap pada pendirinya, yakin, jika Valen masih ada untuk dirinya.
Rifal menatap kosong pemandangan langit malam, terang karna rembulan.
''Kamu yakin nak, untuk ke Bali besok?'' Rina datang menghampiri Rifal.
''Iya, Mom,'' jawabnya dengan singkat.
''Apa kamu tidak ingin menunggu satu minggu dulu, Fal baru ke Bali? Kamu baru sembuh nak.'' Rina tentu saja cemas.
Karna Rifal baru saja bangun dari komanya, dan dia sudah bertekad untuk ke Bali besok mencari Valen.
Tadi sore, mereka sudah kembali ke rumah Rifal atas permintaan pria itu.
Rifal menarik nafasnya dalam lalu membuangnya dengan kasar. ''Sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia karna kebodohan Rifal, Mom,'' protes Rifal kepada sang Mommy.
''Satu tahun bukan waktu yang singkat, satu tahun Rifal baring di rumah sakit. Karna kebodohan Rifal sendiri,'' imbuh Rifal masih menatap langit malam yang di terangi dengan rembulan.
''Rifal akan mencari Valen, sampai ketemu,'' gumam Rifal. ''Rifal nggak akan kembali ke Jakarta sebelum Rifal menemukan Valen, Mom,'' tekad Rifal dengan yakin lalu dia melirik sang Mommy.
''Jika Rifal kembali ke sini, itu berarti Rifal udah ikhlasin Valen meninggalkan Rifal,'' lanjutnya dengan lirih.
Air mata mengenang di pelupuk mata Rifal, dan itu semua di lihat oleh Rina. ''Nak...''
Rina langsung memeluk Rifal, mengusap punggung pria itu. ''Mommy yakin, kamu bisa melewati ini semua,'' ucap Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
''Tiket pesawat untuk kamu sudah di siapakan oleh Daddy mu,'' lanjut Rina lagi. ''Jika ada apa-apa, hubungi Mommy dan Daddy.''
__ADS_1
Rifal lagi-lagi hanya mengangguk.
Cekek.
Pintu di buka oleh Aska yang membawa sesuatu.
''Tiket untuk mu sudah siap,'' ucap Aska memberikan tiket pesawat kepada Rifal.
Rifal tersenyum tipis. ''Makasih, Dad,'' kata Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Aska.
''Jaga dirimu baik-baik, kabari Daddy jika kamu butuh sesuatu. Jangan terlalu memaksakan sesuatu,'' pesan Aska menepuk pundak Rifal.
Aska dan Rifal berpelukan, Aska memeluk erat Rifal. Anaknya yang sudah setahun lebih membuat makan dan tidurnya berantakan karna memikirkan dirinya.
Rina ikut bergabung memeluk suami dan juga anaknya.
Mereka bertiga melepaskan pelukan. Lalu Rifal mengucapkan sesuatu yang membuat Mommy dan Daddy nya terdiam mendengar penuturan dari sang anak.
''Daddy sama Mommy boleh balik ke kampung, Rifal tau kalian merindukan suasana kampung yang membuat Mommy dan Daddy nyaman, bukan suasana Jakarta. Rifal bisa menjaga diri Rifal di sini. Jangan khawatirkan Rifal.''
***
Bali
Merupakan Villa tempat Rifal dan Valen tinggal satu tahun yang lalu, saat mereka berdua berlibur ke Bali.
Rifal kembali mengunjungi tempat ini, dan menempati Villa yang pernah dia sewa untuk menyenangkan Valen.
Dia kembali ke Bali bukan untuk liburan, melainkan untuk mencari orang yang pernah kesini bersamanya.
Yaps, Rifal sudah sampai di Bali pukul 11 siang, pria itu berangkat dari Jakarta pukul 9 pagi dan sampai di Bali pukul 11 siang.
''Valen!'' panggil Rifal dengan suara menahan tangis.
Berharap jika Valen ada di sini, dan menjawab panggilan darinya. Meskipun hal itu adalah hal yang sangat mustahil.
Rifal merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Diliriknya lemari di sebelah kananya, lemarinya masih tetap sama.
Dia tersenyum berkhayal melihat bayangan Valen di depan lemari memilih gaun untuk bepergian.
Air matanya turun di sudut matanya saat bayangan Valen dalam halusinasinya menghilang begitu saja.
__ADS_1
Dia akan beristirahat sejenak, sebentar sore dia akan ke pantai tempat dia dan Valen saat itu bemain jetski.
Perlahan-lahan matanya sudah tertutup, dia sudah berada di alam tidurnya yang sangat nyenyak.
Hingga tepukan lembut di pipihnya membuatnya mengerjapkan matanya dan membuka matanya secara perlahan-lahan.
Matanya mengamati objek di hadapnya yang sangat dekat dengan dirinya. Dia tersenyum kearahnya membuat matanya menyala melihat siapa pelaku yang menepuk pipihnya dengan lembut.
''Va—Len,'' suaranya hampir tercekat saat melihat wajah cantik tersenyum manis padanya dengan jarak yang sangat dekat.
Orang yang dia sebut Valen masih tersenyum kearahnya dengan manis.
''Ini beneran kamu, kan, sayang?'' tanya Rifal tidak percaya jika yang menepuk pipinya lembut adalah Valen.
Padahal, dia baru-baru menutup matanya dan langsung di bangunkan oleh tepukan sangat lembut di pipinya membuatnya terbangun.
Tangan Rifal bergerak menyentuh pipih Valen, matanya memerah hingga mengeluarkan air mata yang sangat deras.
''Sayang...''
Rifal masih memegang pipih Valen dengan isakan tangis, sementara Valen masih tersenyum manis pada dirinya.
''Aku rindu, sayang!'' tangis Rifal pecah masih memegang pipih Valen dengan tangan bergetar hebat.
Dia tidak menyangka, kedatanganya ke sini langsung menjumpai Valen.
Rifal masih menyentuh pipih Valen dengan air mata masih membasuhi pipihnya. Sementara Valen masih mempertahankan senyumnya kepada Rifal.
Dia belum mengeluarkan sepatah katapun.
Rifal masih menangis dengan posisi masih memegang pipih Valen dengan tangan yang bergetar hebat.
Apakah dia mimpi? Jika ini hanya mimpi, dia berharap tidak bangun dari mimpinya yang indah ini.
Setidaknya dia bertemu dengan Valen.
''Aku pasti tidak mimpi,'' ucap Rifal masih dengan tangisnya. ''Senyumana mu begitu nyata, sentuhan mu begitu nyata, aku yakin ini tidak mimpi. Kamu benar-benar ada di sini!''
''Jawab aku, Len!'' tangis Rifal karna Valen hanya tersenyum padanya.
Senyuman yang di rindukan oleh Rifal, senyuman yang menghantui tidurnya. Senyuman yang selalu Valen lemparkan kepada suaminya dengan tulus.
''Aku merindukan mu, aku merindukan senyumana mu, aku merindukan pelukan dan kasih sayang mu!'' tanganya bergetar hebat memegang pipih lembut Valen.
__ADS_1
Dia beralih menatap perut Valen yang rata.