
Saat ini Frezan sudah sampai di rumah sakit tempat Daniel di rawat. Salah satu dokter yang menangani Daniel dengan sebaik mungkin menghampiri Frezan, mempersilahkan pria jangkung itu untuk masuk.
“Kemana orang yang selalu menjaga, Daniel?” Tanya Frezan menghampiri bansal milik Daniel yang sudah terpasang alat di tubuh Daniel.
“Sepertinya dia mengantar anaknya ke sekolah,” jawab Dokter itu, meski dia sedikit ragu karna usia Lea dan lekuk tubuh dan wajahnya seperti masih gadis saja yang belum tersentuh.
Perawat membersihkan alat medisnya, lalu mengganti cairan infus Daniel yang sudah hampir habis.
Frezan menggeser kursi lalu duduk di dekat bansal Daniel, melihat kondisi Daniel seperti ini membuat Frezan kasihan dengan orang yang sejak lama bekerja sama denganya, mulai dari cafe yang dia rintis hingga bekerja di kantor menjadi tangan kananya.
Huft
Frezan menghembuskan nafasnya berat, jika hal yang tidak di inginkan terjadi akan membuat Frezan akan susah berpikir mengenai Daniel dan juga Elga.
Wajah Daniel masih menyisahkan luka tonjokan bekas tangan iparnya sendiri, yaitu Elga.
Melihat alat medis di tubuh Daniel terpasang membuat Frezan tidak tega melihat kondisi orang yang sangat baik menurutnya, dia sudah menganggap Daniel seperti keluarganya sendiri, memberikan kepercyaan pria itu sudah penuh.
“Lekas sembuh, Niel. Nggak ada ada yang bakalan mampu saingan cara kerja kamu ke saya,” menolognya.
Saat dia sudah sampai di ruangan Daniel, dia sudah melihat perawat dan dokter telah usai membereskan alat medis.
Dokter yang menangani Daniel bernama dokter Zul, dokter yang usianya hanya beda beberapa bulan dengan Frezan.
Dokter Zul mengajak Frezan mengobrol di cafe dekat rumah sakit, karna kondisi Daniel sudah sedikit membaik.
Sementara perawat yang bertugas menjaga Daniel di ruangan VVIP, tentu saja mereka mengenal Frezan, salah satu investor terbesar di rumah sakit ini.
Mereka juga mengenal, jika Frezan adalah menantu dari pemilik rumah sakit ini, yaitu Kevin.
Rumah sakit ini dulu milik Hendi, ayah Kevin, kemudian Hendi memindahkan tangan rumah sakit ini menjadi milik anaknya, yaitu Kevin.
Saat ini, Frezan dan dokter Zul sudah sampai di cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Pelayan cafe membawakan dua cangkir coffe dan juga kentang di meja milik Frezan dan juga dokter Zul.
“Zul, bagaiamana dengan keadaan Daniel?” Tanya Frezan tanpa basa basih kepada Zul.
__ADS_1
Zul tersenyum kearah Frezan, dengan wajah Frezan masih datar saja.
“Silahkan minum coffe nya dulu pak Frezan,” kata Dokter Zul menyodorkan secangkir coffe di hadapan Frezan.
Frezan langsung menyesap coffe miliknya, bersama dengan dokter Zul.
“Kondisi Daniel sudah sedikit membaik, hanya tadi tiba-tiba detak jantungnya melemah membuat kami tim medis menjadi panik, dan segera menghubungi pak Frezan,” kata Zul dengan lugas kepada pria di hadapnya yang mempunyai aura yang sangat menusuk.
Frezan hanya mengangguk kecil saja. “Kapan orang yang selalu menjaga Daniel kembali?” Tanya Frezan mengecek jam di pergelangan tanganya, karna dia tidak bisa berlama-lama di rumah sakit.
Dia sibuk dengan urusan kantor. Semenjak Daniel sakit dia yang selalu menghandel pekerjaan Daniel dan selalu membuatnya kelelahan tanpa bantuan Daniel.
Frezan belum berniat mencari pengganti Daniel. Karna Daniel lah orang yang sangat dia percayai sebagai tangan kanannya di kantor.
“Tidak lama lagi dia kembali. Selepas dia mengantar anaknya ke sekolah, dia langsung kembali menjaga Daniel,” tutur Dokter Zul.
“Apa kamu mempunyai nomor ponselnya?” Tanya Frezan.
Dia ingin menghubungi Lea, meski dia belum tau jika selama ini yang menjaga Daniel adalah Lea, sosok gadis 19 tahun yang menyukai adiknya.
“Baiklah. Kalau begitu saya pamit, tetap hubungi saya mengenai kondisi Daniel,” kata Frezan berdiri dari kursi yang dia duduki.
“Pasti,” kata dokter Zul sembari bersalaman dengan Frezan.
Tubuh tegak milik Frezan pergi meninggalkan cafe kecil di dekat rumah sakit, dia akan kembali kerumah untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karna mendapatkan Telfon dari dokter Zul, apa lagi di rumahnya ada mertuanya, jadi dia tidak bisa lama-lama di luar rumah.
“Gue lupa minta izin sama Rara!” gerutu Frezan, menyadari jika dia kesini tanpa memberitahukan Rara.
Frezan langsung melajukan mobilnya untuk segera sampai di rumah. Dia tau, jika istri kecilnya itu sedang menunggu dirinya pulang.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya dia sampai di rumah miliknya, langkah kakinya langsung menaiki anak tangga.
“Frezan.”
Langkah kaki Frezan langsung terhenti mendengar namanya di panggil, dia membalikkan badanya dan melihat mertuanya yang di usianya sudah tidak mudah lagi namun tetap cantik.
__ADS_1
Alvina menaiki anak tangga menyusul menantunya itu. “Dari mana kamu?” Tanya Alvina, “apa kamu tidak lihat, jika Istrimu tadi memanggil mu,” lanjut Alvina dengan lesuh.
“Maaf,” kata Frezan. “Eza nggak dengar kalau Rara manggil Eza, Bun. Soalnya Eza buru-buru,” terangnya.
Alvina mengangguk, “lain kali pamit dengan istrimu, hati perempuan itu rapuh,” kata Alvina sembari tersenyum dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.
“Rara di mana, Bun?” Tanya Frezan.
“Ada di kamar, mungkin dia tidur,” kata Alvina.
Frezan langsung pamit meninggalkan mertuanya untuk melihat Rara dan meminta maaf kepada istrinya itu.
Alvina belum menceritakan kepada Frezan, jika tangan Rara luka karna air panas, biar saja Frezan melihatnya dengan sendiri.
Ceklek
Pintu kamar di buka oleh Frezan, dia sudah melihat Rara tengah tertidur, sementara tangan Rara yang di perban belum di perhatikan oleh Frezan, jika tangan istrinya sedang di perban.
Frezan langsung menghampiri Rara yang sedang tertidur pulas. Frezan membelai rambut Rara lalu mencium kening istrinya.
“Maaf, sayang,” kata Frezan setelah berhasil mencium Rara sementara Frezan belum sadar jika tangan Rara sedang di perban, karna dia hanya fokus melihat wajah cantik milik istrinya itu yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap saat.
Frezan ingin berdiri dari tempat tidur yang dia duduki langsung terhenti, saat memperhatikan tangan Rara sedang di perban.
“Ra, tangan kamu kenapa?” Panik Frezan yang baru memperhatikan tangan Rara tengah di perban.
“Ra,” panggil Frezan, dia ingin minta penjelasan kepad Rara mengapa tanganya sampai di perban seperti ini.
“Ra, tangan kamu kenapa? Di perban kayak gini,” terdapat suara khawatir dari bibir Frezan melihat tangan istrinya.
Rara yang mendengar suara Frezan langsung membuka matanya dan melihat suaminya dengan raut wajah khawatir memperhatikan tanganya.
“Sayang,” panggil Rara dengan suara khas bangun tidur.
“Tangan kamu kenapa bisa di perban, sayang?”
__ADS_1