
Rifal menuruni anak tangga untuk segera sarapan pagi ini. Terlihat, dimeja makan sudah ada Valen yang menunggu dirinnya untuk sarapan pagi.
Rifal menggeser kursinya.
"Ambilin gue, nasi goreng."
Lagi dan lagi perkataan Rifal tadi membuat Valen terdiam. Ada apa dengan Rifal? Tidak puas kha dia membuat Valen heran pagi ini? Karna Rifal menyuruhnya untuk memasangkan dasinya dan sekarang, Rifal menyuruhnya untuk mengambilkan makanan untuk pria itu.
"Ambilin gue makan. Apa perkataan gue kurang jelas," kata Rifal lagi membuat Valen langsung mengambil nasi goreng buatannya untuk dia simpan diatas piring milik Rifal.
"Lo nggak kerja?" tanya Rifal sembari memasukan nasi goreng kedalam mulutnya.
"Gue hari ini lihur" kata Valen mengambil nasi goreng untuk dirinya juga.
"Siapa yang kasi lo libur?" tanya Rifal lagi sembari mengunyah nasi goreng yang dia nikmati buatan Valen, istrinya.
"Nathan."
Seketika Rifal berhenti memasukan nasi goreng kedalam mulutnya. Tiba-tiba saja nasi goreng yang dia makan menjadi hambar saat mendengar nama Nathan disebut oleh Valen.
"Nggak enak yah?" tanya Valen karna Rifal berhenti mengunyah makanannya.
Rifal melirik Valen. Lalu, mengambil air minum untuk segera dia minum. Pria itu langsung beranjak dari kursinya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Padahal, nasi goreng dipiring Rifal masih lumayan banyak. Karna, cowok itu baru makan nasi goreng tiga sendok, namun dia langsung berhenti.
Padahal, dia tadi menikmati nasi goreng buatan Valen. Terlihat dari raut wajahnya jika makanan buatan Valen memang pantas diacungi jempol oleh Rifal.
"Gue minta maaf, kalau masakan gue nggak enak," kata Valen dengan senduh.
Karna Rifal langsung saja mengambil tisu dan melap bibirnya.
Rifal langsung pergi dari meja makan, tanpa menjawab perkataan Valen. Dia langsung keluar membuat Valen menatap punggung Rifal dengan senduhnya.
Valen hanya mengaduk nasi gorengnya, tanpa dia makan. Rasanya sangat sakit makanan yang kita buatkan penuh kasih sayang tidak disukai.
__ADS_1
Valen kira, Rifal menyukai masakannya. Tapi, ternyata Valen salah akan hal itu.
Rifal langsung masuk kedalam mobilnya dengan sang sopir mengemudikan, sementara Rifal duduk dibelakang sembari menyandarkan kepalanya dikursi mobil.
Valen menitihkan air matanya, didepan makanan yang dia buatkan khusus untuk Rifal.
Valen langsung beranjak dari kursinya, dan pergi meninggalkan nasi goreng yang belum sama sekali dia sentuh. Dia menaiki anak tangga dengan air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya.
Hanya makanan saja, namun rasanya sangat MENYEDIHKAN!
Salah satu art yang bekerja dirumah Valen memperhatikan wajah Valen yang memasang wajah sedih sedang menaiki anak tangga. Katakan, jika Art itu melihat dari awal sampai akhir.
Art yang bersama dengan Valen tadi membuat makanan berjalan ke meja makan. Terlihat nasi goreng buatan Valen masih banyak diatas meja.
Tangan art itu bergerak mengambil nasi goreng untuk dia coba. Apakah masakan Valen yang menjadi masalah untuk Rifal pada pagi hari ini.
Art itu memakan nasi goreng buatan Valen. Tidak ada yang salah dengan nasi goreng pembuatan Valen. Rasanya enak.
"Masakan non Valen enak. Kok tuan Rifal langsung pergi begitu aja," menolognya masih mencicipi nasi goreng buatan Valen yang menurutnya enak itu.
****
Dua Minggu berlalu, dimana kejadian perihal nasi goreng itu Valen dan Rifal masih saja berdiam diri. Bahkan Valen merasakan jika Rifal menghindari dirinya selama dua Minggu ini.
Valen tidak tau, apa kesalahan yang dia perbuat sehingga Rifal tidak pernah berbicara padanya, bahkan sepatah katapun, tidak pernah selama dua minggu ini.
Seperti pagi ini, Valen sedang menuruni anak tangga dengan setelah jas putih kebanggaannya. Pagi ini, dia akan kerumah sakit. Dia akan mengecek keadaan Adelia pagi ini bersama dengan Nathan. Sudah hampir satu bulan ini Valen dan Nathan memantau keadaan Adelia. Namun, belum ada tanda-tanda jika gadis itu akan bangun dari tidurnya yang panjang.
Huft
Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut Valen, saat melihat Rifal sudah pergi dari meja makan. Padahal, Valen sengaja turun cepat agar sarapan bersama dengan Rifal.
Valen tidak tau, kenapa Rifal seperti itu kepadanya. Hanya kejadian dua Minggu yang lalu, yaitu perihal nasi goreng yang entah enak atau tidak yang membuat Rifal sampai sekarang tidak pernah bertegur sapa dengan Valen, padahal mereka tinggal satu rumah.
__ADS_1
Valen memakan roti pagi ini, lepas itu dia langsung berangkat ke kerumah sakit karna ingin mengecek keadaan Adelia. Jika tidak ada perubahan dalam diri Adelia, maka Valen akan mencabut alat yang melekat ditubuh Valen sebagai penunjang kehidupannya sampai sekarang ini. Sesuai dengan apa yang dikatakan Rifal dulu.
Jika Sebulan ini, Adelia tidak ada kemajuan maka Rifal akan mengikhlaskan Adelia. Dia juga tidak tega melihat Adelia tersiksa selama ini.
Valen langsung memasuki taxi, yang telah dia pesan melalui handphone miliknya. Sementara Rifal sudah lebih dulu berangkat kerja.
Tidak butuh waktu lama, taxi yang dinaiki oleh Valen telah sampai dirumah sakit tempat Valen bekerja. Valen turun dari taxi lalu membayar supir taxi tersebut.
Valen berjalan di koridor rumah sakit, untuk segera keruanganya. Dia akan memeriksa kondisi Adelia apakah ada perubahan atau tidak jam sepuluh nanti bersama Nathan. Jika nanti tidak ada perubahan maka Valen dan Nathan akan melepaskan alat penunjang kehidupan Adelia.
Drt....Drt....Drt....
Langkah kaki Valen terhenti dikoridor rumah sakit saat handponenya berdering. Semenjak kejadian dimana Rifal memecahkan handponenya, Valen sudah membeli handphone baru.
Valen mengambil handphonenya didalam tas untuk melihat siapa yang menelfonnya. Rudal? Mustahil jika Rifal yang menelfon dirinya. Jika benar Rifal, Valen akan bahagia.
Terterah nama dilayar handponenya, tertuliskan nama dokter Nathan. Ada apa dengan Nathan menelfonnya pagi-pagi seperti ini? Padahal 'kan mereka akan memeriksa keadaan Adelia jam sepuluh pagi.
Entah mengapa Valen langsung menekan tombol hijau.
"Hal-" belum sempat Valen menyelesaikan perkataannya, dari seberang telfon langsung memotong perkataan Valen.
Valen langsung terdiam saat mendengar suara perempuan dari seberang telfon yang memanggil dirinya dokter Valen. Valen tau, jika yang menelfon dirinya pakai handphone Nathan adalah seorang perawat.
Valen langsung diam sejenak.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga menit.
Dan..... Yah, Valen langsung sadar dari lamunannya dia langsung berjalan cepat dikoridor dengan wajah yang sulit diartikan. Entah perkataan apa yang disampaikan orang diseberang telfon tadi membuat Valen berjalan cepat.
__ADS_1
Hanya dirinya dan yang Tuhan yang tau.