Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
13 tahun lamanya


__ADS_3

Frezan, Rara dan Kayla segera siap-siap untuk segera menuju tempat pengadilan. Rara memakaikan bibirnya lipstik berwarna pink dengan lesuh.


Rasanya tidak siap jika dia mendengar keputusan pengedalian berapa lama Elga di penjara. Jujur saja, Rara tidak ingin pergi namun Frezan terus saja menyuruhnya untuk ikut karna bagaimanapun Elga merupakan saudaranya, dan tentunya Elga akan membutuhkan suporter dari orang terdekatnya.


Frezan memeluk Rara dari belakang, mencium curut leher Rara menghirup wangi tubuh Rara yang selalu menbuatnya candu.


Rara memejamkan matanya. Perlakuan Frezan mampu membuat pikirannya menjadi sejuk.


“Udah siap?” Tanya Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.


Frezan membalikkan tubuh Rara, memegang pundak Rara. “Kamu harus tenang, apapun keputusan dari pengadilan kamu harus terima,” kata Frezan dengan lembut kepada Rara.


Rara memejamkan matanya. “Apa kamu nggak bisa bantu bang Elga?” Tanya Rara lagi dengan penuh harap kepada Frezan.


Frezan langsung memeluk Rara, Frezan tidak bisa memberikan jawaban yang sama kepada Rara karna gadis itu akan menangis nantinya.


Rara yang sudah mengerti memeluk erat Frezan.


“Kita ke bawah, Kayla udah nungguin kita,” ajak Frezan.


“Aku ambil tas dulu,” ucap Rara mengambil tas kecilnya kamu memasukkan ponselnya kedalam tas.


Frezan langsung menggandeng tangan Rara keluar dari kamar untuk menuju lantai bawah. Pagi ini mereka bertiga akan menghadiri panggilan pengadilan mengenai masalah Elga.


Kayla yang melihat Rara dan Frezan berganda gen tangan turun tangga tersenyum, dia merindukan Elga.


“Mah,” panggil Dyta.


“Sayang, kamu udah bangun?” Tanya Kayla yang melihat anaknya tiba-tiba ada Disini membawa bola basket, padahal anak itu baru saja bangun dari tidurnya.


“Dyta kangen sama papah, Mah,” kata Dyta membuat Kayla langsung memeluk anaknya itu.


“Kamu yang sabar yah, papah kamu lagi kerja,” kata Kayla.


“Kenapa papah balik keluar negeri nggak ngajak kita Mah?” Tanya Dyta membuat Kayla tersenyum kearah anaknya itu.


Sementara Rara dan Frezan saling berpandangan.


“Kayla bilangnya ke Dyta kalau bang El keluar negeri kerja?” Tanya Rara kepada Frezan.


Frezan menganguk mengiyakan perkataan Rara. “Anak-Anak mereka masih kecil, belum waktunya mereka tau masalah ini,” kata Frezan membuat Rara mengangguk kakuh.


“Kita nggak boleh ikut sama papah kamu sayang, soalnya kerjanya banget. Nanti kalau papah ajak kita bisa-bisa kerjanya nggak selesai-selesai,” Kayla terus saja berbohong kepada Dyta.

__ADS_1


Sementara Dyra sudah di berikan pemahaman kepada Kayla, jika papahnya sedang keluar negeri bekerja dan anak itu paham sehingga dia tidak bertanya terus-terusan seperti Dyta.


“Kenapa papah pergi nendadak mah waktu malam itu? Papah nggak pamit sama Dyta,” kata Dyta lagi membuat Kayla mengusap rambut anaknya.


“Papah perginya mendadak, soalnya di Telfon sama bos,” kata Kayla.


“Mamah mau kemana? Apa mama mau pergi lihat papah keluar negeri? Dyta ikut yah Mah, Dyta kangen main bola basket sama papah,” pinta anak itu menbuat Rara tidak bisa menahan airmatanya.


Kayla tertawa, namun tersirat rasa sakit dalam dirinya. “Nggak sayang, mamah nggak keluar negeri. Mamah mau keluar sama tante Rara sama om Frezan kamu buat beli kebutuhan makanan,” bohong Kayla.


“Sekarang kamu mandi yah, bentar lagi Siska mandiin kamu sama Dyra,” kata Kayla.


Siska adalah baby sister yang menjaga anak-anak dirumah Frezan.


Siska datang sembari membawa handuk kesayangan Dyta. “Ayok Dyta kita mandi,” kata Siska menggandeng tangan Dyta untuk pergi mandi dengan membawa bolanya.


“Ayok kita pergi, tidak lama lagi jam 9,” ajak Frezan lalu mereka berjalan keluar rumah.


“Ayah, bunda!”


Langkah ketiganya langsung terhenti saat mendengar teriakan dari Hasya. Hasya langsung menghampiri Rara.


“Ayah bunda, Hasya ikut,” kata Hasya membuat Rara menggelengkan kepalanya.


“Kamu belum mandi, Sya!” teriak Tegar lalu menghampiri Hasya.


“Tegar, kamu jaga adik kamu. Ayah akan pulang secepatnya,” kata Frezan.


“Baik Ayah,” kata Tegar memberikan hormat kepada Frezan.


Tegar langsung menarik Hasya. “Kamu belum mandi dari kemarin,” kata Tegar sembari menarik Hasya untuk ke kamar mandi.


“Hasya mau ikut sama Ayan dan bunda!”


“Ini urusan orang dewasa, kamu masih anak kecil!” kata Tegar dengan tegas kepada adiknya itu menbuat Hasya mengerucutkan bibirnya.


Frezan langsung masuk kedalam mobil, dengan Rara duduk di samping Frezan sementara Kayla duduk di belakang seorang diri.


Frezan langsung melajukan mobilnya untuk segera ke tempat pengadilan. Rara sedari tadi sibuk dengan pikirannya, dia harus siap menerima segala keputusan mengenai saudara kembarnya Elga.


Frezan melirik Rara sejenak lalu fokus kembali menyetir. Sementara Farel yang berada diatas balkon kamarnya melihat kepergian ketiga orang itu.


Sebentar sore, Farel akan kembali ke apartemen karna Nathan sudah kembali dari luar kota.

__ADS_1


Ini hari terakhirnya dia dirumah ini. Tidak ada yang tau jika Farel juga mengetahui hal ini. Frezan pikir hanya anaknya saja Tegar yang mengetahui ini dia lupa jika adiknya melihatnya juga.


Farel hanya diam saja, biarkan dia hanya menyimpannya sendiri dan tidak ada yang mengetahui jika dirinya juga tau.


Farel masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi. Lepas mandi dia akan ke taman belakang untuk bermain bola basket.


Rara , Kayla dan Frezan, sudah berada di dalam ruangan pengadilan, Rara melihat di depannya seseorang mengenakan baju tahanan berbalik belakang.


Rara sudah tau, jika itu adalah Elga saudara kembarnya yang sudah memakai baju tahan.


“Saudara Elgara, dengan kesalahan telah menghajar saudara Daniel hingga tidak sadarkan diri sampai sekarang!”


Hakim sudah angkat bicara.


“Maka dari itu kami memutuskan, saudara Elgara di penjara selama 13 tahun lamanya.”


Tuk….


Ketukan palu di ketuk oleh hakim menbuat Elgara yang sedari tadi menundukkan kepalanya mengangkat kepalanya. Bagai disambar petir saat hakim memutuskan jika dirinya di penjara 13 tahun lamanya.”


Air mata Kayla langsung menetes dengan deras. Sementara Rara memeluk dengan erat Frezan saat mendengar dengan jelas keputusan hakim mengenai Elgara.


Elga langsung di bawa oleh polisi. Kayla langsung berdiri dan memeluk Elgara.


“El!” isak Kayla memeluk Elgara.


“Lepaskan dulu,” kata Frezan kepada polisi itu yang menahan tangan Elga.


Mendengar suara Frezan yang tegas dan beribawa membuat polisi itu langsung melepaskan tangan Elga.


Elga membalas pelukan Kayla. “Jaga anak-anak, Kay, jangan bilang ke mereka kalau aku di penjara,” kara Elga menahan tangisnya, Rara juga ikutan memeluk Frezan.


“Bang El, Rara sedih lihat bang El di tahan!” Isak Rara. Elga tidak bisa menahan tangisnya. Dia pikir saudaranya hanya di penjara sekitar beberapa bulan saja, namun ternyata dia salah.


“Jaga keponakan kamu, Ra.” Kata Elga.


Elga melirik Frezan lalu menjabat tangan Frezan. “Gue minta maaf,” sesal Elga dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.


“Gue udah maafin lo.”


“Gue minta tolong jaga anak gue dan Kayla,” kata Elga pada Rara dan Frezan. Hanya Frezan saja menganguk karna Rara tidak bisa lagi angkat bicara.


“Kami harus membawanya,” kata polisi lalu membawa Elga membuat Kayla semakin menitihkan air matanya. Sementara Rara jatuh pingsan dalam pelukan Frezan.

__ADS_1


__ADS_2