
Dan pada akhirnya kedua adik Lea berangkat bersama dengan Lea dan juga Daniel. Raka dan Riki telah sampai di depan gerbang sekolahnya tak lupa pula dia mengucapkan kata terimkasih kepada Daniel yang memberikan tumpangan untuk ke sekolah.
Lepas itu Daniel mengantarkan Lea ke kampus lalu dia akan ke kantor mengerjakan tugasnya sebagai asisten Frezan.
Di dalam mobil hanya ada keheningan antara Daniel dan juga Lea. Dalam pikiran Daniel, dia menganggap Lea itu gadis tidak banyak bicara dan juga kalem.
Namun, Daniel saja tidak tau seperti apa itu sosok gadis bernama Lea. Tentunya orang terdekat Lea sudah tau pasti bagaiamana sifat anak itu.
Sepanjang perjalanan, Lea memikirkan sesuatu yang tak pasti mengapa dia memikirkan sosok cowok nyebelin seperti Nando.
Dia masih memikirkan kejadian pagi tadi, dimana Nando seperti bayi besar sedang meminta pelukan dari Lea. Membayangkan itu semua membuat Lea tanpa sadar menyungkirkan senyuman tipisnya.
Kak Nando lucu, ganteng, tapi nyebelin!!!
***
Saat ini Valen sedang menonton televisi dan tiba-tiba saja handphonenya berdering menandakan adanya seseorang yang menelfon.
Valen melirik handphonenya, dia sudah melihat nama yang tertera di layar handphonenya bertuliskan nama dokter Nathan.
"Siapa?" tanya Rifal lalu ikut bergabung bersama dengan Valen.
Valen melirik Rifal yang sudah duduk di sampingnya.
"Dokter Nathan."
Tanpa diberi tahupun Rifal sudah tau jika yang menelfon Valen adalah Nathan, Rifal hanya iseng-iseng saja bertanya kepada Valen, dan ternyata dugaanya memang benar.
"Kenapa nggak di angkat?" tanya Rifal lagi kepada Valen.
"Udah keburu mati," jawabnya membuat Rifal mengangguk kecil dengan perkataan Rifal.
Drt....
Handppone milik Valen kembali bunyi sehingga Valen dan juga Rifal melihat kearah meja.
Rifal yakin jika yang menelfon itu adalah sosok Nathan lagi.
__ADS_1
"Angkat aja," kata Rifal santai sehingga Valen mengangguk pelan.
Entahlah, mood Rifal mungkin pagi ini baik aja karna dia menyuruh Valen untuk mengangkat telfon dari Nathan, sosok cowok yang masuk dalam kategori yang dia tidak suka karna sudah berani mencintai istrinya.
"Halo," sapa Valen di seberang telfon dengan Rifal berada di sampingnya tengah menonton TV namun telinganya mendengar dengan seksama.
"Akhirnya, kamu angkat telfon saya juga." Seperti merasakan kebahagiaan karna Valen mengangkat telfonnya membuat Rifal tersenyum sinis.
Tentu saja Valen mengspiker telfonya dengan Nathan agar tidak ada kesalah pahaman lagi antara dia dan juga Rifal.
"Maaf, dokter Nathan. Tadi saya sedang membuatkan sarapan untuk suami saya."
Bohong Valen membuat Nathan di seberang telfon terdiam menerima jawaban dari Valen. Sementara Rifal mengembangkan senyuman lebarnya.
"Dokter Nathan," panggil Valen karna tidak ada balasan dari seberang lagi.
"Saya cuman ingin bertanya, kenapa hari ini kamu tidak masuk?" tanya Nathan, meski dalam hatinya sangat sedih.
Dia ingin menyerah, namun dia tidak tau harus memulai dari mana. Apakah dia harus menjauhi Valen? Atau mencari pengganti Valen?
"Maaf, Dok. Saya mempunyai halangan yang tidak bisa saya katakan," jawab Valen membuat Nathan di seberang telfon mengangguk.
***
Dosen pembimbing Lea sepertinya menyuruh Lea untuk kerumah sakit, sebagai hukumannya karna kemarin dia tidak hadir dan bertepatan kemarin dosen pembimbingnya yang mengajar.
Tentu saja dosen pembimbing Lea tidak ingin melihat jika mahasiswanya itu melakukan semuanya.
Lea turun dari ojek online, dengan terik matahari yang sangat panas dia merelakan tanganya terpapar sinar matahari hanya untuk menjalankan hukumannya.
Dia diberikan hukuman untuk meminta tanda tangan dokter dirumah sakit tempat di praktek sebanyak tiga tanda tangan yang harus dia minta kepada dokter.
Sementara, dia hanya mengenal satu dokter yang dia anggap sangat dekat denganya, yaitu hanya dokter Valen saja.
Sementara dokter Nathan? Lea tidak memasukkan jika dokter Nathan akan mempedulikan dirinya jika dia mengatakan ingin meminta tolong kepada dokter Nathan untuk membantunya meminta tanda tangan kepada dokter.
Palingan Nathan akan mengatakan, siapa dirinya yang telah berani meminta tolong kepadanya hanya urusan tanda tangan saja.
__ADS_1
Waktu yang diberikan oleh Lea hanya satu dua jam saja, termasuk perjalanannya untuk ke kampus dan kerumah sakit.
Sementara dokter Nathan sepertinya sedang menggalau, karna terbukti pria itu sedang berada diatas rooftop rumah sakit menikmati semilir angin dan memikirkan tentang perasaannya kepada Valen.
Apakah Dia harus melupakan rasa sukanya kepada wanita yang sudah mempunyai suami? Ataukah dia harus berjuang lagi.
Lea berjalan di Koridor rumah sakit, dia melihat perawat senior tengah berjalan lalu dia memanggilnya.
"Kak!" panggil Lea lalu menghampiri perawat tersebut.
"Ada apa?" tanya perawat tersebut kepada Lea sedikit ketus. Tentu saja dia mengenal gadis tersebut yang sudah melakuan praktek dirumah sakit ini.
"Mau nanya, dokter Nathan dimana yah? Lea cariin di ruangannya nggak ada," kata Lea kepada perawat senior di hadapannya.
Sebenarnya Lea sudah tau, jika perempuan di hadapannya ini tidak menyukai dirinya.
"Mana saya tau, emangnya saya istrinya? Ngapain juga kamu cari dokter Nathan? Mau kamu goda lagi? Ck! Dasar bocah ingusan," lepas mengatakan itu perawat tersebut langsung pergi meninggalkan Lea.
Sementara Lea langsung menghentakkan kakinya saking kesalanya kepada perawat tersebut. Bukan hal tabuh lagi jika dia dikatakan bocah ingusan, namun dia kesal karna perawat tersebut mengatainya mencari dokter Nathan karna ingin menggoda dokter Nathan. Padahal bukan itu tujuannya.
Memang dia menyukai dokter Nathan sejak dulu, tapi saat ini dia ingin minta tolong bukan untuk menggoda dokter Nathan.
"Sok seleb banget sih!" kesal Lea lalu berjalan mencari dokter Nathan.
Hanya dokter Nathan saja yang bisa dia tempati minta tolong untuk membantunya meminta tanda tangan para dokter sebagai hukumannya di kampus.
Lea berjalan mencari keberadaan dokter Nathan, rumah sakit seluas ini tidak memungkinkan jika dia akan menemukan dokter Nathan.
Langkah kaki gadis itu terhenti saat mendengar beberapa perawat sedang bergosip dan menyebutkan nama dokter Nathan.
"Kayaknya dokter Nathan punya masalah deh," kata salah satu perawat membuat perawat yang satunya melirik kearahnya.
"Tau dari mana kamu?"
"Saya lihat tadi naik keatas rooftop, kamu tau kan kalau orang sedang ke rooftop dia pasti punya masalah berat," katanya membuat sang penanya mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatan oleh lawan bicaranya.
Lea yang mendengar percakapan kedua perawat tersebut langsung berjalan dengan cepat untuk segera menghampiri dokter Nathan.
__ADS_1
Dia lupa tujuannya untuk meminta tanda tangan para dokter, karna mendengar percakapan perawat tadi. Lea setuju dengan apa yang dikatakan oleh perawat tadi, rasanya sangat legah saja jika punya masalah kita ke rooftop untuk menghilangkan beban pikiran meski hanya sementara saja.