
Rifal sudah sadar sekitar beberapa menit yang lalu, sekarang posisi pria itu sedang duduk diatas bansal dengan matanya berbalut perban karna baru saja selesai operasi mata.
Dokter Hamka hanya sendiri di ruangan Rifal yang akan membuka perban milik Rifal.
Dokter Hamka mulai membuka perban mata milik Rifal secara perlahan-lahan. Rifal Deg-degan jangan sampai slesai operasi mata yang di donorkan untuknya ini bermasalah sehingga dia rugi melakukan operasi.
Sementara Valen hanya berdoa saja. Semogah sesuai dengan harapannya, perban di mata Rifal telah berhasil terlepas.
Mata pria itu terpejam, dia belum membuka matanya karna belum di suruh oleh dokter Hamka.
“Silahkan buka mata pak Rifal dengan pelan-pelan,” intruksi dokter Hamka kepada Rifal.
Rifal membuka matanya secara perlahan-lahan, dia melihat di depannya buram karna penglihatannya belum stabil.
Dia menyesuaikan penglihatannya, kurang lebih satu bulan dia tidak melihat dan hanya melihat kegelapan saja membuatnya harus menyesuaikan cahaya di sekitaranya.
Wajah pertama yang di perhatikan oleh Rifal adalah wajah cantik milik istrinya, dia melihat Valen sedang menatap dirinya.
“Fal,” panggil Valen karna pria itu belum juga mengangkat bicara.
“Apa kamu bisa lihat aku?” Tanya Valen dengan penuh harap.
“Bagaimana?” Tambah dokter Hamka kepada Rifal yang belum angkat bicara.
“Saya sudah melihat,” kata Rifal membuat Valen dan juga dokter Hamka bernafas legah.
“Dari sekian banyaknya pendonor mata, akhirnya ada juga mata yang cocok untuk suami dokter Valen,” kata dokter Hamka membuat Valen menganguk mengiyakan perkataan dokter Hamka.
“Iya dok,” balas dokter Valen.
“Terimaksih dok,” kata Rifal kepada dokter Hamka.
“Siapa yang mendonorkan matanya untuk saya,” kata Rifal dengan penasaran. Dia sudah berjanji kepada dirinya, siapapun yang mendonorkan matanya untuknya akan dia berikan apapun.
Dokter Hamka melirik Valen. Memberikan kode agar dia saja yang memberitahukan kepada Rifal siapa yang mendonorkan matanya.
“Kenapa dokter diam?” Tanya Rifal dengan tidak sabaran karna dokter di hadapannya tidak menjawab pertanyaanya.
__ADS_1
“Valen, ajak aku ketemu dengan orang yang mendonorkan matanya untuk aku,” kata Rifal lagi kepada Valen.
“Aku akan bawa kamu, ketemu dengan orang yang udah donorkan matanya untuk kamu,” kata Valen.
Rifal turun dari bansal nya untuk mengikuti Valen dan dokter Hamka. Valen berjalan di koridor rumah sakit hingga langkahnya berhenti di ruangan mayat membuat Rifal meneguk salivanya susah payah.
Apakah orang yang mendonorkan matanya untuk dirinya telah meninggal?
“Ayok masuk,” kata Valen membuka pintu ruangan mayat.
Dia sudah melihat dokter Nathan dan juga dokter Kiki di dekat mayat Adelia.
“Apakah dia meninggal?” Tanya Rifal, meski dia sudha tau, tetap saja dia bertanya.
“Orang yang donorin matanya untuk kamu sudah meninggal,” kata Valen membuat Rifal terdiam.
“Ini mayatnya,” tunjuk Valen pada mayat yang sudah di tutup kain kafan.
Tangan Rifal bergerak membuka kain kafan di hadapnya, sementara Valen memundurkan langkah kakinya karna tidak sanggup melihat mayat Adelia kembali.
Deg
“Adel!”
“Dia yang donorin matanya untuk kamu,” kata Valen dengan bergetar mengatakan perkataan itu kepada Rifal.
.
Rifal langsung memeluk Adelia saat melihat wajah perempuan yang mendonorkan matanya pucat pasih, jangan lupa rambutnya tidak ada sehelai apapun.
“Del!” Rifal masih memeluk erat Adelia berlinang air mata. Dia masih mengingat permintaan perempuan yang dia peluk. Perempuan itu meminta Rifal untuk memeluknya untuk terakhir kalinya namun dia enggan angkat bicara.
“Bangun, Del!” Nampak Rifal begitu tersiksa menerima kenyataaan ini. Dia terpukul, Adelia meninggalkan dirinya dengan mendonorkan matanya kepadanya.
Belum sempat perempuan itu bahagia, namun Tuhan sudah memgambilnya. Dia menyesal menyakiti hati Adelia, melihat kondisi perempuan yang dia peluk sudah tidak bernyawa lagi.
“Bangun Del, gue nyesel sakitin lo, gue nyesel buat lo sakit hati dengan perkataan gue. Del, maafin gue!” Rasanya tangis sesal hanya angin lalu saja karna sudah berlalu.
__ADS_1
“Bangun Del, gue janji bakalan bahagiain lo, gue janji bakalan cariin lo laki-laki yanh tulus sama lo, Del!” Rifal tidak berhenti berbicara sembari memeluk tubuh kakuh milik Adelia.
Rifal mengusap air matanya kasar, bahkan dokter Kiki langsung keluar dari ruangan mayat karna tidak tahan dengan semua ini, menjadi dokter baru dirumah sakit ini sudah memberikanya cerita yang sangat luar biasa.
Dia pikir cerita seperti ini hanya ada di Indosiar, ternyata dia salah, cerita ini ada di dunia nyata dan dia masuk kedalam cerita tersebut.
“Bangun, Del. Gue bakalan turutin semua permintaan lo, Del,” kata Rifal berbicara dengan mayat di hadapnya. Menunggu Adelia merespon perkataanya.
“Jawab gue, Del!” Rifal kembali menangis, pikirannya kembali kepada kejadian satu bulan yang lalu, dimana Adelia mengemis padanya untuk menemani dirinya untuk melakukan pengobatan.
Dengan tegas Rifal menolaknya karna satu alasan, dia tidak mau jika Adelia semakin berharap kepadanya namun keputusannya sangat salah.
Sekarang hanya sesal saja yang bisa dia bawa.
Rifal tertawa dengan pedih, air matanya terus sengaja mengalir bagai air. “Gue nyesel Del, gue keras kepala sehingga gue nggak nurutin permintaan kamu,” isaknya lagi di depan mayat Adelia.
Dia tertawa namun matanya menangis. “Del,” panggil Rifal lagi.
“Dia nggak bakalan bangun, Fal. Dia udah tenang,” sahut Valen dari belakang membuat Rifal semakin memeluk erat Adelia seakan-akan tidak ingin melepaskan Adelia.
Bahkan permintaan terkahir gadis itu, Rifal tidak mewujudkannya membuatnya di penuhi rasa sesal.
“Makasih Del,” kata Rifal dengan bergetar. “Makasih lo udah nitipin mata lo ke gue, meskipun lo tau gue udah jelas nyakitin lo,” jelas Rifal.
Cup
Rifal mencium kening Adelia begitu lama, dengan air matanya turun begitu saja. Air matanya tak henti-hentinya keluar dari pelupuk matanya melihat Adelia saat ini terkujur kakuh membuat mentalnya terombang-ambing.
“Sekarang lo udah nggak sakit, Del. Udah nggak ada yang nyakitin lo karna lo udah pergi. Sampai kapanpun gue bakalan di penuhi rasa bersalah,” kata Rifal.
Rifal memundurkan langkah kakinya.
Dia langsung memeluk Valen dengan erat, dia tidak akan menyia-nyiakan sosok Valen seperti dia menyia-nyiakan Adelia.
Nathan kembali menutup kain kafan milik Adelia. “Aku minta maaf, aku yang rebut Adel dari kamu,” kata Valen dalam dekapan Rifal.
“Kamu nggak rebut aku dari siapa-siapa,” balas Rifal dengan suara seraknya.
__ADS_1
Rifal kembali menitihkan air matany saat Nathan memasang kembali kain kafan Adelia, menutup wajah gadis itu.
“Selamat tinggal, Del,” menolog Nathan.