Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Menjenguk Adelia


__ADS_3

Nathan berjalan dikoridor rumah sakit dengan kantongan kresek berada ditangannya. Dalam kantongan kresek yang dia tenteng ada makanan didalamnya.


Nathan berjalan dikoridor rumah sakit masih menggunakan setelan jas berwarna putih yang dia kenakanl


Tak sengaja Nathan dan Rifal berpapasan dikoridor rumah sakit. Dengan Rifal hanya mengenakan baju kaos berwarna hitam.


Mata Nathan dan Rifal bertemu, andai saja ada seorang penulis didekat mereka, maka mereka akan mendekripsikan keadaan Rifal yang dikepalanya akan ada kepulan api.


Entah mengapa melihat Nathan membuat Rifal mengepalkan tangannya. Apa karna dia cemburu?


Rifal beralih melihat kantong keresek yang ditenteng oleh Nathan.


Nathan langsung melewati Rifal, sedangkan Rifal menatap punggung cowok itu hingga menjauh.


Mau kemana Nathan? Padahal belum jam pulang.


Rifal melanjutkan langkah kakinya, dia harus keruangan Adelia. Karna gadis itu membutuhkan dirinya saat ini.


Jangan tanyakan lagi, berapa biaya yang dikeluarkan oleh Rifal untuk Adelia. Dokter yang menjaga Adelia tentu saja dokter senior yang dimana Rifal membayarnya begitu mahal. Hanya demi Adelia.


Ceklek


Seluruh tatapan mata diruangan Adelia menatap pintu yang dibuka oleh sosok pria yang hanya menggunakan kaos berwarna hitam.


"Akhirnya anda datang juga," kata sang dokter menyambut Rifal diambang pintu.


Sementara perawat yang menjaga Adelia langsung keluar hanya melalui gerakan tangan dokter tersebut.


Rifal menatap perawat yang sedang membujuk Adelia untuk makan, namun gadis itu enggan untuk membuka mulutnya.


"Adelia kenapa?" tanya Rifal kepada dokter yang bertugas menjaga dan memantau kondisi Adelia.


Dokter tersebut menyuruh Rifal untuk duduk terlebih dahulu, sebelum dia menjawab pertanyaan Rifal.


"Pasien tidak ingin makan, jika bukan anda yang menyuap pasien untuk makan," kata sang dokter kepada Rifal.


Rifal menatap Adelia yang sedang dibujuk oleh sang dokter, sementara telinganya fokus mendengarkan apa yang disampaikan dokter tersebut.


"Pasien selalu menyebut nama anda," kata dokter itu lagi seraya melihat Adelia yang masih dibujuk oleh perawat untuk makan.


"Anda bisa lihat sendiri 'kan, pasien tidak ingin makan." Yah, apa yang dikatakan dokter tersebut memang benar, jika Adelia tidak ingin makan membuat sang dokter mengubungi Rifal.

__ADS_1


Jika gadis itu tidak makan, maka dia akan semakin lama dirumah sakit.


"Pasien membutuhkan anda."


Rifal langsung melihat dokter tersebut, tidak mungkin jika Rifal terus-terusan menjaga Adelia, apalagi dia bekerja.


Huft


Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut Rifal. Bagaimana caranya dia selalu berada didekat Adelia sementara dia bekerja.


Adelia belum sadar dengan kehadiran Rifal, karna gadis itu sedari tadi hanya diam dan menolak suapan makanan yang diberikan oleh perawat yang bertugas memberikannya makan.


"Makan, Del."


Adelia langsung mendonggakkan kepalanya, melihat apakah dia tidak salah dengar mendenger suara yang sedari tadi dia cari.


"Kak Rifal," menolog gadis dengan suara lesuh. Katakan jika dia belum pulih sesungguhnya. Dia masih membutuhkan dokter untuk memantau keadaan sosok Adelia.


Riifal mengangguk kecil membuat Adelia langsung memeluk Rifal.


Sementara perawat dan dokter sudah lebih dulu keluar, saat Rifal ingin menyuapi Adelia makanan.


Rifal terdiam mendapatkan pelukan tiba-tiba oleh Adelia. Entah mengapa dia langsung memikirkan Valen saat Adelia memeluknya.


Entah mengapa dia memikirkan Valen saat Adelia langsung memeluknya, apakah dia memikirkan perasaan Valen sebagai istrinya? Jika memang benar, sudah bisakah dikatakan jika Rifal mulai menyukai Valen? Namun, pria itu belum menyadari akan hal itu.


Rifal duduk dikursi siap untuk menyuapi Adelia bubur.


"Buka mulutnya," perintah Rifal sehingga membuat Adelia membuka mulutnya.


Satu suapan mendarat di mulut Adelia, Rifal kembali menyuapi Adelia. Rifal ada disini menemani Adelia namun pikiran pria itu untuk Valen.


Dia menyuapi Adelia makanan dengan pikirannya berkecamuk untuk Valen. Karna kejadian tadi membuat Rifal memikirkan Valen.


"Kak Rifal," panggil Adelia membuat Rifal menatap manik mata gadis yang jauh dari kata sehat, karna gadis itu baru saja bangun dari tidurnya yang panjang.


Mereka pikir, Adelia tidak akan sadar lagi namun takdir berkata lain untuk Adelia.


"Adel butuh, kak Rifal," ucap Adelia dengan lesuh membuat Rifal terdiam sejenak dengan perkataan Adelia saat ini.


Sebenernya Rifal ingin mengatakan sesuatu untuk Adelia dan berterus terang dengan gadis itu. Namun melihat gadis itu seperti sekarang ini membuat Rifal menjadi ibah dan mengurungkan niatnya untuk mengatakan sekarang.

__ADS_1


Rifal menunggu momen yang tepat untuk mengatakan ini. Bukan sekarang karna Rifal ibah melihat kondisi Adelia yang sepenuhnya belum sembuh.


"Kak Rifal nggak keberatan 'kan," kata Adelia lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal, meski hatinya berpendapat lain.


"Gue nggak keberatan."


***


Nathan turun dari mobilnya, dia sudah lebih dulu minta izin untuk membawakan Valen makan malam. Nathan sempat heran saat Valen menelfonnya untuk minta tolong membelikan dirinya makanan.


Perintah Valen tentunya di iyakan oleh Nathan.


Nathan tau jika Valen sedang hamil, mungkin saja pembawaan bumil membuat Valen seperti ini.


Ting.....


Nathan membunyikan bel rumah milik Valen, sehingga Valen yang sedari tadi menunggu kedatangan Nathan langsung beranjak dari kursi yang dia duduki.


Ceklek.


Valen membuka pintu utama, dia sudah melihat Nathan berada diambang pintu dengan setelan jas putihnya. Tak lupa ditangannya ada kantong keresek berisi makanan untuk Valen.


"Nasi goreng pesanan, lo," kata Nathan dengan lembut sembari menyodorkan kantongan berisi nasi goreng untuk Valen. Valen mengambil nasi goreng yang disodorkan oleh Nathan.


"Maaf yah, Nath. Gue nggak izinin lo masuk karna Rifal nggak ada dirumah," kata Valen sedikit merasa bersalah kepada Nathan.


Pasalnya malam-malam begini dia menyuruh Nathan untuk membelikannya nasi goreng, dan dia tidak mengajak Nathan untuk istirahat sejenak.


"Nggak apa-apa," jawab Nathan kepada Valen. "Lagian, gue juga baru-buru buat kembali kerumah sakit."


Valen mengangguk kecil, syukurlah Nathan tidak seperti pria pada umumnya.


"Gue nggak tau Rifal kemana, soalnya dia nggak bilang sama gue mau kemana tadinya." Valen tiba-tiba saja berbicara seperti itu kepada Nathan dengan suara lesuh.


"Rifal sedang dirumah sakit," kata Nathan membuat Valeb terdiam.


Apa Rifal menjenguk Adelia? Pikiran seperti itu tentunya tidak meleset lagi.


"Apa yang lo pikirkan emang benar," kata Nathan, "karna Rifal memang menjenguk Adelia."


Seakan-akan tau apa yang dipikirkan oleh Valen membuat Valen hanya tersenyum kecut. Pantas saja Rifal tidak pamit padanya, tapi kan memang Rifal tidak pernah pamit pada Valen jika dia bepergian. Namun Valen masih saja mengharapakan akan hal itu.

__ADS_1


"Nggak usah dipikirkan," kata Nathan.


"Gue munafik kalau gue bilang nggak mikirin Rifal."


__ADS_2