Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Janji Frezan


__ADS_3

Ceklek


Frezan membuka pintu kamar Rara, dia melihat Rara tengah menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Terdengar suara isakan gadis itu terdengar sangat pilih ditelinga Frezan.


Frezan tidak tau, mengapa Rara menangis, apakah perempuan itu mempunyai masalah yang tidak diketahui oleh Frezan?


"Yank," panggil Frezan dengan lembut membuat Rara membuka selimutnya yang menutupi seluruh wajahnya dan juga tubuhnya saat mendengar suara lembut milik Frezan.


Rara semakin menangis kencang melihat Frezan membuat Frezan jadi gelagapan. Pasalnya dia tidak melakukan apa-apa, namun Rara langsung menangis kencang.


"Kamu kenapa?" tanya Frezan membawa Rara kedalam dekapannya. Istri kecilnya itu tidak banyak berubah menurut Frezan, karna dia tinggal bersama dengan Rara.


Sementara orang-orang yang berteman dengan Rara sedari SMA akan berpikir jika Rara telah banyak berubah, padahal itu tidak sama sekali bagi Frezan.


"Kenapa?" tanya Frezan sembari mencium kening milik Rara lumayan lama. Dia sampai meninggalkan pekerjaannya demi melihat Rara. Karna saat menelfon dia sudah mendengar suara Rara yang lirih, menandakan dia sedang menangis.


Rara mendonggakkan kepalanya sehingga bertatapan langsung dengan Frezan. "Kenapa?" tanya Frezan menyelipkan anak rambut Rara yang sedikit berantakan karna efek menangis.


Rara langsung memeluk Frezan, dia membayangkan bagaimana jika dia berada diposisi sahabatnya yang mengalami kerusakan dalam rumah tangganya.


Frezan membalas pelukan Rara, dia belum tau ada apa dengan Rara yang menangis seperti ini.


Rara melepaskan pelukannya lalu menatap Frezan, "Kak Eza nggak bakalan ninggalin aku 'kan?" tanya gadis itu dengan matanya mengerjap lucu kearah Frezan.


Frezan menyeritkan alisnya, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Rara membuat Frezan menjadi bingung sendiri. Mengapa pula Rara mengatakan seperti itu? Kata pisah? Jangan menyakiti, meninggalkan Rara pun tidak ada didalam benak Frezan sama sekali.


"Kak Eza nggak bakalan ninggalin aku 'kan?" Rara mengulang pertanyaanya membuat Frezan menggelengkan kepalanya.


Frezan menghapus air matanya dengan lembut. "Aku nggak pernah punya niat buat ninggalin kamu, Ra. Aku udah janji bakalan bersama dengan kamu sampai maut memisahkan kita," kata Frezan dengan yakin membuat Rara memeluk erat Frezan kembali.


"Cukup kesalahan yang dulu aku lakukan sama kamu, aku nggak mau sampai itu terulang lagi, dan menjadi penyesalan untuk aku lagi," kata Frezan mengingat dimana dia meninggalkan Rara untuk keluar negeri.


Frezan akui, jika kesalahannya itu sangatlah fatal, maka dari itu Frezan mengambil pelajaran tidak akan meninggalkan Rara lagi.


"Bang Elga sama Kayla berantem," kata Rara setelah beberapa menit menangis dalam dekapan Frezan. "Aku nggak mau kalau aku sama kamu kayak gitu," lanjutnya semakin terisak membuat Frezan menenangkan istrinya itu.

__ADS_1


"Aku udah janji, aku nggak bakalan khianatin janji aku ke kamu. Aku bakalan bahagian kamu sampai maut memisahkan kita," kata Frezan menyakinkan Rara.


Ternyata, hal ini yang membuat Rara menangis.


"Janji!" kata Rara menaikkan jari kelingkingnya membuat Frezan tersenyum simpul. Dia kembali mengingat masa pacarannya bersama dengan Rara saat masih masa SMA.


"Janji!" kata Frezan menautkan jari kelingkingnya dengan Rara membuat Rara tersenyum kearah Frezan lalu kembali memeluk suaminya yang masih mengenakan seragam kantor.


***


Valen menggerakkan tangannya, dia membuka matanya secara perlahan-lahan, hal yang pertama dia lihat adalah langit-langit kamarnya. Dia berada dikamarnya sendiri bukan dikamar milik Rifal.


Valen melihat tangannya, ternyata selang infus telah melekat ditangannya. Ini yang ketiga kalinya Valen mengenakan infus yang ketiganya dia hanya dirumah saja.


Dia tidak tau, apa yang terjadi saat dikamar mandi, yang dia ingat dia sedang menangis sembari menyalahkan dirinya sendiri lepas itu penglihatannya menjadi buram.


Apa mungkin dia pingsan? Valen berpikir siapa yang mengangkatnya saat dia pingsan, beberapa detik dia tersenyum masam, siapa lagi yang mengangkat dirinya kalau bukan Rifal.


Dia melihat tubuhnya yang menggunakan baju tidur, siapa yang memakaikannya pakaian? Apakah Rifal? Bahkan Valen mengatakan dirinya murahan saat ini juga.


Ceklek


Bibi tersebut meletakkan susu dan juga teh diatas meja.


"Nyonya Valen, silahkan makan," kata Bibi tersebut sembari mengambil sendok siap untuk menyuap Valen.


Valen menggelengkan kepalanya. "Saya nggak lapar, Bi," kata Valen menatap langit-langit kamarnya.


Valen memperbaiki posisinya, dia menyandarkan kepalanya disandaran kasur king sizenya.


Huft


Terdengar hembusan nafas berat keluar dari mulut Valen, terlalu banyak beban dalam hidupnya yang harus dia pikirkan.


"Non Valen makan dulu yah, biar sedikit aja," kata bibi tersebut membuat Valen menggelengkan kepalanya kuat.

__ADS_1


"Valen nggak lapar Bi, makanannya bawa aja ke dapur," kata Valen menolak makanan yang dibawa oleh bibi tersebut.


"Tap_"


"Bi," panggil Valen disertai dengan senyuman membuat bibi tersebut menggangguk paham. Sebagai salah satu art yang bekerja cukup lama dirumah Rifal, membuat bibi tersebut bagaimana kondisi rumah tangga Valen, meski dia tidak tau seutuhnya.


Bibi tersebut keluar dari kamar Valen membawa kembali nampan berisi makanan. Dia akan membawanya kembali kedapur.


Sementara Rifal tengah makam seorang diri dimeja makan, dia melihat bibi tersebut menuruni anak tangga membawa nampan.


Perasaan Rifal baru saja melihat bibi naik keatas kamar Valen, dan sekarang dia sudah kembali.


"Apa Valen sudah makan, makanananya?" tanya Rifal kepada bibi tersebut.


"Maaf tuan, non Valen tidak lapar," kata bibi tersebut dengan sopan membuat Rifal yang sedang memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya terhenti.


"Naik keatas, pastikan dia memakan makanannya. Tanyakan, jika makanan ini untuk anaknya, jadi Valen harus makan," kata Rifal lalu pergi dari meja makan.


Untung saja Rifal dengan cepat masuk kedalam kamar mandi Valen, andai saja tidak, dia tidak akan tau bagaimana nasib Valen dan anaknya dalam kandungan Valen tenggelam didalam bathub karna dia pingsan.


Untung saja Rifal datang dengan cepat, apa lagi dokter Imel yang datang tadi mengatakan jika Valen harus banyak istrihat, tidak boleh stress yang akan membuat dirinya capek dan akan membahayakan kandungannya sendiri. Tentu saja hal itu membuat Rifal menjadi khawatir.


Ceklek


Valen melihat pintu kamarnya dibuka kembali. Rupanya bibi yang datang membawa nampan berisi makanan yang tadi.


"Non Valen, makanannya dimakan yah, kata tuan Rifal," kata bibi tersebut. "Ini semua demi anak yang dikandung non Valen," lanjutnya membuat Valen melirik bibi tersebut dengan mata berkaca-kaca.


Entah mengapa, Valen merasakan kesedihan jika dikasihani seperti ini. Apa lagi Rifal menyuruhnya makan hanya untuk anaknya semata.


Seharusnya Valen tidak berharap lebih, sekarang hubungannya dengan Rifal sudah diujung akhir.


"Makan yah, non," kata bibi tersebut dan dibalas anggukan kepala oleh Valen dengan pelupuk matanya berlinang air.


Bibi tersebut menyuap Valen, dia juga kasihan dengan Valen. Perempuan kuat itu makan dengan menitihkan air matanya.

__ADS_1


Sakit yang mana lagi yang harus dia ceritakan


__ADS_2