
''Va…Len.''
Suara lemah itu pertama kalinya menyapanya kata-kata semenjak dia tidak sadarkan diri. Nama pertama yang dia sebut adalah nama Valen.
Rina menggenggam tangan milik Rifal.
''Ayok nak, buka matamu,'' pintah Rina kepada anaknya yang menyebut nama Valen namun belum juga membuka matanya.
''Va…Len.''
Ceklek
Dokter Zul datang...
''Silahkan dok,'' Aska langsung mempersilahkan dokter Zul untuk mendekati Rifal.
Pertama-tama, dokter Zul memeriksa denyut nadi Rifal yang sudah normal. Pernafasan pria itu berusaha teratur.
''Alhamdulillah, pasien sudah bangun, dia harus banyak istirahat,'' ucap Zul seraya mengatur tetesan infus milik Rifal.
''Kenapa anak saya belum membuka matanya, dok,'' tanya Rina.
''Pasien berusaha membuka matanya,'' jawab Nathan.
''Va-Len.''
Zul menyeritkan alisnya, saat samar-samar Zul mendengar suara pria yang belum membuka matanya menyebut nama Valen.
''Apa saya tidak salah dengar? Jika pasien menyebut nama Valen?'' tanya Zul kemudian Aska dan Rina mengangguk.
''Valen adalah istri anak saya ,'' jawab Rina.
''Dokter Valen?'' tanya Zul dan dibalas anggukan kepala oleh kedua orang tua Rifal.
Zul tentunya terkejut, dia tidak menyangka jika pasien yang dia tangani adalah suami dokter Valen yang pergi bersama liburan di Bali.
Mata dokter Zul melihat foto pernikahan Rifal dan juga Valen. Dapat dokter Zul lihat, jika wajah keduanya sangat muda.
Apa mereka berdua menikah muda? Atau di jodohkan? Batin dokter Zul bertanya-tanya.
''Saat pasien sudah sadar, jangan lupa berikan obat ini,'' ucap Zul seraya memberikan obat kepada aska.
Dan menjelaskan aturan obat itu di minum berapa kali sehari.
''Dok...Mata anak saya terbuka.''
Zul dan Aska langsung melihat kebelakang, dia melihat Rifal sudah membuka matanya. Aska dan Zul langsung menghampiri tempat tidur Rifal.
''Rifal,'' Rina langsung memeluk anaknya. Melihat mata indah Rifal terbuka membuat Rina bernafas legah.
__ADS_1
''Mom....Valen mana, Mom?'' tanya Rifal dengan suara lesuh, karna dia baru saja sadarkan diri.
Rina tidak menjawab, dia malah menangis membuat Rifal semakin bertanya-tanya kemana istrinya.
''Mom....Istri Rifal kemana?'' tanya Rifal lagi.
''Akhirnya kamu sadar, nak,'' ucap Aska sehingga Rifal langsung melihat kearah Daddy nya dan dokter Zul.
Aska mendekat kearah anaknya. ''Dad, Valen mana?'' tanya Rifal masih dengan suara lesuh.
Aska tersneyum. ''Kamu istirahat dulu, ya, kamu baru bangun selama satu bulan kamu menutup mata,'' ujar Aska dengan lembut kepada anaknya.
''Rifal mau lihat istri dan anak Rifal, Dad.'' Kini suara Rifal naik satu oktaf. Karna dia merasa ada yang di sembunyikan oleh kedua orang tuanya.
''Dad, kemana istri Rifal?'' tanya Rifal lagi dengan tidak sabaran.
''Pak Aska, saya pamit dulu, ya,'' pamit dokter Zul karna dia tau percakapan merekan akan menuju kesana.
''Baik dok, Terimaksih,'' ucap Aska.
‘’Jangan lupa diberikan obatnya pak, kalau begitu saya pamit,'' pamit dokter Zul bersalaman dengan Aska.
Rifal ingin kembali menanyai Rina, namun wanita itu hanya menangis membuat Rifal semakin takut jika istrinya sedang tidak baik-baik saja.
''Jawab pertanyaan Rifal, Dad!''
Dokter Zul sudah menutup pintu kamar Rifal, namun dia masih mendengar suara lemah itu mencari istrinya.
''Bagaimana Rifal bisa istirahat Dad, kalau istri Rifal belum Rifal lihat,'' potong Rifal dengan cepat.
''Mana Valen, Dad!''
Aska terlebih dahulu menarik nafasnya lalu berkata. ''Valen belum di temukan sampai sekarang.''
Rina semakin menangis saat suaminya mengatakan jika Valen belum di temukan hingga saat ini.
Deg
Dunia Rifal seakan-akan menyempit, atmosfer di dalam ruangan ini seakan-akan hilang. Detik ini juga, Rifal merasakan dunianya runtuh, jantungnya seperti meminta berhnti berdetak walau hanya untuk sesaat.
Rifal meggeleng dengan lemah sembari berkata. ''Nggak mungkin!'' bantah Rifal kepada sang Daddy.
''Bagaimana mungkin Rifal ketemu, sementara istri Rifal yang mengandung tidak di temukan!''
Rifal ingin melepaskan selang infus yang melekat di tanganya, namun dengan cepat Rina mencegahnya lalu memeluk anaknya untuk.
''Tenang Rifal!'' tangis Rina memeluk anaknya.
‘’Bagaiamana bisa Rifal tenang, Mom. Istri Rifal nggak ada, dia sedang mengandung anak pertama kami, Mom!'' Rifal tak kuasa menahan air matanya.
__ADS_1
Air matanya jatuh, padahal kondisinya belum sepenuhnya pulih.
''Semua tim sudah di kerahkan sama Daddy kamu, tapi mereka semua tidak membuka Valen,'' isak Rina.
''Mereka semua nggak becus cari istri Rifal, Mom!'' tuduh Rifal dengan jantung yang masih berdetak kencang.
Kepalanya semakin sangat sakit, dia seperti baru bangun dari mimpi yang sangat panjang lalu di saat dia bangun, dia di berikan kenyataan yang sangat pahit.
''Mereka semua sudah mencari Valen sampai dua minggu lamanya, bahkan Daddy menurunkan tentara angkatan laut untuk mencari keberadaan Valen. Namun mereka tidak menumukan Valen,'' terang Aska.
Rifal menggelengkan kepalanya, sementara Rina masih setia memeluk tubuhnya yang masih lemah.
''Istirahat dulu, Rifal. Kamu baru bangun, nak,'' perintah Rina dengan isaknya.
‘’Bagaimana Rifal bisa istirahat dengan tenang. Istri Rifal Mom, Rifal nggak tau gimana kondisi istri Rifal sekarang bersama calon anak Rifal!'' bentak Rifal tanpa sadar membentak orang tuanya membuat Rina semakin terisak.
''Rifal, dia Mommy kamu!'' sergah Aska melihat Rifal pertama kalinya membentak Rina.
''Keluar!'' Rifal menunjuk pintu keluar. ''Mommy sama Daddy keluar, Rifal mau sendiri!'' usir Rifal dengan wajah yang memerah, serta air mata yang tak dapat dia sembunyikan.
Aska menarik nafasnya dalam-dalam melihat Rifal yang mengusir mereka. Ini bukan seperti Rifal yang dia kenal.
Aska langsung menggenggam tangan Rina turun dari tempat tidur Rifal lalu berjalan keluar.
''Dia akan tenang dengan sendirinya,'' ucap Aska kepada Rina lalu Aska menutup pintu kamar Rifal.
Tinggallah Rifal seorang diri di dalam kamarnya, dia menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya.
''Valen….Kamu dimana, Len!…''
Teriak Rifal, meski kamarnya kedap suara tetap suara isakan tangisnya terdengar membuat Rina dan Aska yang masih berdiri di depan pintu kamar Rifal.
Rina mengeratkan pelukanya kepada sang suami.
''Kita ke kamar, kamu juga butuh istirahat,'' nasehat Aska.
‘’Aku takut, jika Rifal di dalam mencelakai dirinya,'' lirih Rina.
''Percaya sama aku, Rifal tidak akan melukai dirinya,'' yakin Aska lalu membawa Rina meninggalkan depan pintu kamar Rifal.
''Valen!!!!''
''Kamu di mana sayang!!!''
''Kamu baik-baik, kan, sama calon anak kita!'' isak Rifal menatap kedepan.
''Jangan sembunyi, Len!''
‘’Jangan tinggalkan aku di sini, Len!''
__ADS_1
Rifal semakin terisak mengingat segala kenanganya bersama dengan Valen yang sangat bahagia dengan kehadiran anak di tengah-tengah Kebahagian mereka.
Rifal menangis di dalam kamarnya, ini yang kedua kalinya dia menangis seperti ini. Dia hanya menangis seperti ini saat Tegar meninggalkan dirinya.