
Agrif memakan masakan Lea dengan lahap, memakan sosis goreng yang dihiasi mayones dan juga saus.
“Masakan kakak Lea enak banget,” ucap Agrif memberikan jempol kepada Lea.
Lea hanya tertawa kecil seraya membereskan bekas makanan Agrif. Sementara Agrif langsung meminum air putih yang dibawakan oleh Bibi.
“Bilang apa sama kakak cantik?” Tanya bibi menuntun Agrif minum air putih.
“Terimaksih kakak cantik!”
“Sama-sama sayang,” balas Lea mencubit pipih Agrif dengan gemes.
Agrif beranjak dari sofa yang dia duduki lalu berjalan menuju bansal Daniel. Pria itu masih setia memejamkan matanya sampai saat ini.
Sudah hampir empat bulan lamanya Daniel belum juga sadarkan diri. Begitu dahsyatnya kha pukulan dari Elga sehingga Daniel masih setia menutup matanya sampai sekarang?
“Pah,” panggil Agrif dengan sedih seraya menggenggam tangan Daniel. “Lihat kakak cantik, dia membawakan Agrif bekal,” ujar anak itu, meski dia tau, jika Daniel tidak akan mendengarkan apa yang dia katakan.
“Ayok pah, bangun, biar papah bisa dekat sama kakak cantik. Biar kakak cantik bisa Agrif panggil sebagai Mamah cantik, bukan kakak cantik lagi,” semangat anak itu menggenggam tangan Daniel.
“Pah,” Agrif masih setia memanggil Daniel. “Ayok bangun, kita ke taman bermain lagi tempat pertama kali papah ketemu sama kakak cantik.” Agrif masih terus-terus mengajak Daniel mengobrol.
Bibi yang bertugas menjaga Agrif tersneyum simpul lalu mengusap rambut anak itu. “Sabar yah, doain papah kamu cepat sembuh,” nasehat sang bibi dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.
Lea yang sedari tadi mendengar apa yang dikatakan oleh Agrif kepada Daniel yang tidak sadarkan diri hanya tersenyum simpul, dia tidak tau harus menjawab seperti apa.
Lagian, dia belum mempunyai niat untuk menikah. Apa lagi perjalananya di bangku kuliah masih panjang. Dan satu lagi, Lea masih ingin menikmati masa mudahnya, dia belum siap menikah mengurus suaminya. Bahkan, dirinya saja belum bisa dia urus, apa lagi harus mengurus suami, rumah, dan anak.
Jika itu terjadi, Lea pastikan semua akan kacau. Suami tidak terurus, rumah berantakan, anak tidak ikutan terurus karna dirinya saja dia belum bisa urus sebaik Mungkin apa lagi sampai mengurus orang lain.
Membayangkan hal itu membuat Lea menggelengkan kepalanya.
Lea melihat sekeliling ruangan Daniel, dia baru sadar jika tidak ada dokter Zul di sini, padahal dia dengar tadi jika dokter itu ingin mengecek kondisi Daniel.
“Bi,” panggil Lea kepada bibi.
“Iya.”
“Apa dokter Zul tadi datang ke sini?” Tanya Lea.
__ADS_1
Bibi menggelengkan kepalanya, “sedari tadi dokter Zul tidak muncul. Hanya dokter Nathan saja pagi tadi mengecek kondisi tuan Daniel,” jelas bibi membuat Lea mengangguk kecil.
Mungkin saja dokter Zul ada keperluan mendadak. Sehingga dia tidak jadi keruangan Daniel.
“Kakak cantik mau tinggal?” Tanya Agrif.
Agrif harap, Lea tinggal di sini bersamanya.
“Kakak nggak bisa tinggal sayang, soalnya besok ada kuliah pagi,” jelas Lea kepada anak kecil dihadapnya.
Agrif mengganguk lesuh, padahal dia berharap tadinya Lea tinggal di sini bersamanya.
“Malam minggu nanti kakak bakalan tinggal Disini nemenin kamu,” janji Lea seraya mengulurkan jari kelingkingnya kepada Agrif.
Agrif menyambutnya dengan senyuman, setidaknya Lea berjanji padanya akan tinggal Disini malam minggu nanti, meski bukan sekarang.
“Janji yah,” ucap Agrif dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
Lea mengecek jam di pergelangan tanganya, dia ingin segera pulang dari sini karna dia ingin menyelesaikan tugasnya, karna malam minggu nanti waktunya akan dia habiskan di ruangan ini jadi dia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu.
Lea berpamitan kepada Agrif dan bibi untuk segera pulang.
Di meja makan
“Loh, kok makan sendiri sih Fal?” Tanya Rina yang melihat anaknya itu makan seorang diri di meja makan masih mengenakan baju tidur.
“Valen mana?” Lanjut Rina duduk di samping putranya.
“Valen udah makan Mom,” jawab Rifal dengan santai, seraya menikmati makananya. Dia sangat lapar, sehingga dia makan begitu lahap.
“Nggak ngajak kamu?” Bingung Rina.
Rifal melirik Rina. “Rifal aja baru bangun Mom,” jawabnya tanpa memberitahukan kepada sang Mommy jika Valen saat ini ngambek kepadanya.
Terbukti dari cara bicara Valen tadi di tangga sangat ketus. Bahkan, beberapa kali Rifal mengajak Valen mengobrol namun dia tidak menghiraukan dirinya.
Jika dia curhat pada Rina, sudah di pastikan Rina akan mengoceh dan membelah Valen. Makanya Rifal tidak mengatakan hal ini pada Rina, karna kepalanya pusing dan jika Rina akan mengoceh maka kepalnya akan meledak.
“Mau Mommy temani makan? Daripada kamu sendirian di meja makan, seperti tidak punya istri saja. Makanya jangan pulang subuh, kamu ini sudah mau jadi seorang papah masih saja mengambil tingkah kamu yang dulu,” oceh Rina membuat Rifal hanya pasrah saja mendengarkan Rina.
__ADS_1
“Mommy tau dari mana?” Tanya Rifal santai, “kalau Rifal pulang subuh,” lanjutnya mengambil secangkir kopi yang dibuatkan oleh art tadi.
“Jelas Mommy tau, karna waktu pulang kamu waktunya, orang sholat subuh,” jelas Rina.
“Mommy sholat subuh?” Tanya Rifal penasaran.
“Iya, sama Daddy mu juga,” jawab Rina.
“Cie, udah taubat,” tawa Rifal kecil.
“Nanti kalau kamu udah kayak Daddy mu, kamu akan mengerti,” celoteh Rina.
Rifal melanjutkan makanya di temani dengan Rina yang berada di sampingnya.
Selesai sarapan, Rifal langsung beranjak dari kursinya sementara Rina sudah lebih dulu beranjak karna Aska memanggilnya untuk menemani dirinya minum kopi di belakang rumah mewah milik Rifal.
Rifal menaiki anak tangga dan membuka pintu kamarnya, dia melihat Valen masih sibuk dengan laptopnya belum beranjak dari tempat duduknya.
“Len,” panggil Rifal membuat Valen terkejut dengan kehadiran Rifal, namun tidak membuatnya menjawab panggilan dari suaminya.
Rifal duduk di dekat Valen, memperhatikan wajah istrinya itu dengan seksama.
“Soal kemarin, aku minta maaf,” tulus Rifal seraya memegang pundak Valen dengan lembut.
Rifal yang merasa di abaikan oleh Valen, langsung memutar badan Valen sehingga mereka berdua beradu tatapan.
Valen memalingkan wajahnya, membuat Rifal memegang dagu Valen dengan lembut sehingga mereka berdua kembali beradu tatapan.
Melihat mata indah Rifal, membuat Valen teringat kepada sosok Adelia yang sudah menghadiahkan matanya untuk suaminya.
“Aku minta maaf,” tulus Rifal menggenggam tangan Valen.
Ingin sekali Valen memeluk Rifal saat ini, karna dia juga merindukan Rifal sejak kemarin. Namun rasa kesalnya saat ini lebih besar dari rasa rindunya pada Rifal.
Jangan putar haluan, Len. Lo udah janji sama diri lo sendiri nggak bakalan ngomong Rifal secepat mungkin. Lo harus konsisten dengan apa yang lo bilang sendiri.
Valen berusaha menyakinkan dirinya, agar tidak terpancing dengan rayuan suaminya saat ini.
“Aku merindukan mu, Len.”
__ADS_1