Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Lea dan Agrif


__ADS_3

Nathan mendengar apa yang di katakan oleh Lea dengan lantang, namun dia tidak memberhentikan langkah kakinya.


Lea yang melihat kecuekan Nathan hanya memanyunkan bibirnya dengan lucu. “Dokter Nathan terlalu dingin untuk Lea yang mudah pilek,” menolog gadis itu.


“Kakak cantik.”


Lea langsung membalikkan tubunya, rupanya yang memanggilnya adalah Agrif.


Agrif langsung berlari melihat Lea.


Agrif tidak sendiri, dia sedang bersama dengan dokter Zul.


“Kakak cantik, katanya pergi sebentar, kok lama sih,” aduh anak itu memeluk Lea.


Lea mensejajarkan tingginya dengan Agrif. “Maaf,” hanya kata itu saja yang mampu Lea ucapkan pada Agrif.


Dokter Zul menghampiri Lea dan Agrif. “Daniel sedang sendiri, Silahkan untuk menemaninya. Jika terjadi sesuatu pada pasien, langsung hubungi saya atau dokter Nathan,” kata Zul,


“Makasih dok,” jawab Lea.


“Sama-sama, kalau begitu saya pamit,” pamit dokter Zul dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.


“Yuk, kita kembali di ruangan papah kamu,” ajak Lea kepada Agrif.


“Ayok!” semangat Agrif lalu mereka bergandengan tangan untuk menuju ruangan Daniel.


Ceklek

__ADS_1


Pintu tempat Daniel Di rawat dibuka oleh Lea dan Agrif. Agrif berjalan mendahului Lea lalu berjalan menuju bansal milik Daniel yang masih setia memejamkan matanya dengan tabung Oksigen melekat pada tubuhnya.


“Pah,” panggil Agrif dengan nada senduh.


“Ayok bangun. Agrif kesepian papah nggak ada,” ucap anak itu menggoyahkan lengan milik Daniel.


“Apa papah nggak lapar nggak bangun.”


“Ayok bangun pah, kita makan bersama kakak cantik.”


“Ayok pah, bangun. Agrif udah lapar nih.”


Rentetan ocehan dikeluarkan oleh Agrif membuat Lea yang mendengarkanya merasa kasihan dengan anak itu.


“Agrif,” panggil Lea dengan lembut.


“Papah kamu udah makan kok,” kata Lea memberikan pemahaman kepada Agrif.


“Gimana caranya?” Tanyanya dengan heran. “Papah kan nggak pernah bangun kakak cantik.”


Lea tersneyum dengan lembut. “Kamu lihat ini,” tunjuk Lea pada selang infus yang menempel pada tangan Daniel.


“Didalamnya ada cairan. Jadi papah kamu nggak bakalan kelaparan,” jelas Lea.


“Kata siapa?” Tanya Agrif lagi.


“Kata dokter.”

__ADS_1


“Papah sukanya makan sayur sama ikan. Bukan beginian,” tunjuknya pada cairan infus.


Lea tersenyum masam, dia tidak tau harus menjawabnya seperti apa.


“Kakak cantik, Agrif ada PR,” kata anak itu membuat Lea bernafas legah. Setidaknya dia lolos dari pertanyaan Agrif yang bahkan mulutnya kakuh untuk menjawabnya seperti apa.


“Yaudah kita kerjain pr kamu,” kata Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.



Di sisi lain, Rina dan mertuanya sudah memesan makanan seraya menunggu kedatangan supir untuk menjemput mereka.


“Kamu makan sayur-sayuran, Len. Biar kamu selalu semangat beraktivitas,” saran Rina kepada menantunya itu.


“Iya Mom,” ucapnya.


“Setelah sekian lama menunggu cucu, akhirnya Allah titipkan janin di perut kamu,” kata Rina dengan bahagia.


Valen juga tersenyum kearah Rina, meski dia tidak suka makan sayuran dia tetap mengiyakan perktaan Rina.


“Mommy ke kamar mandi dulu,” pamit Rina lalu melenggang Pergi meninggalkan Valen.


Valen melihat punggung Rina yang melenggang pergi meninggalkan dirinya dimeja makan.


Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawa makanan. Dia meletakkan diatas meja tempat Valen ingin makan.


Lalu Valen melirik makanana tersebut. Dan melihat ada beberapa sayuran diatasnya. Padahal tadi dia tidak memesan sayuran.

__ADS_1


__ADS_2