
Rifal membaringkan Valen di atas tempat tidur, tempat terakhir mereka bercinta setelah Valen dinyatakan hilang saat itu.
Rifal melonggarkan celananya lalu berjalan menutup pintu kamar, karna dia tau di Villa ini bukan hanya dia dan Valen, tapi ada Nando juga.
Andai saja dia tau Valen sudah kembali padanya hari ini, dia akan mencegah Nando untuk datang ke Bali yang akan menganggu momenya.
Tapi, Semogah saja Nando mengerti dan tidak melakukan kesahan yang akan membuat Rifal memotong gaji pria itu.
''Fal,'' gagap Valen. ''Kamu mau ngapain?'' tanyanya membuat Rifal tersenyum manis.
''Lakuin hal yang udah lama nggak kita lakuin sayang, aku merindukan dirimu dan tubuhmu yang membuat ku nyaman.'' Rifal berkata dengan suara serak membuat Valen menautkan kedua tanganya seraya mendunduk.
''Aku nggak bisa.''
''Kenapa?'' potong Rifal dengan cepat setelah dia membuka bajunya dan terekspos dengan sempurna dadah bidang milik Rifal.
''Aku lagi halangan,'' jawabnya dengan malu membuat rahang tegas Rifal turun.
Dengan wajah kecewa Rifal tetap membaringkan tubuhnya memeluk erat Valen. ''Udah berapa hari?'' tanya Rifal menahan gejolak yang hampir sudah ingin dia keluarkan.
Namun terhalang karna Valen sedang datang tamu, waktunya sangat tidak tepat tamu itu datang menghampiri Valen.
''Tadi pagi,'' jawabnya membuat Rifal semakin mengeratkan pelukanya.
''Kita lakuin satu minggu yang akan datang, ya,'' ucap Valen lembut mengusap rambut Rifal.
Posisi mereka saat ini berpelukan mesrah.
''Lama,'' sanggah Rifal.
''Len,'' panggil Rifal kepada Valen sehingga mata mereka berdua bertemu.
Rifal sangat suka jika Valen mengusap rambutnya dengan posisi mereka sedang tidur seperti ini. Dia merasa di manja oleh Mommy Rina.
''Iya,'' jawabnya lembut masih setia mengusap rambut Rifal.
''Kita lakuin itu nggak bisa kalau kamu halangan?'' tanyanya dengan polos membuat Valen melotokan matanya.
Valen menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pertanyaan polos yang di lontarkan Rifal serta raut wajahnya yang polos.
''Lakuin hal itu dalam keadaan istri sedang datang bulan nggak baik,'' ujar Valen dengan lembut. ''Bisa mengundang penyakit untuk kamu dan aku.''
Rifal mengangguk paham, meski dibawah sana ada yang meminta untuk segera di lampiaskan kepada yang punya.
Namun Rifal paham, Valen sedang halangan jadi dia tidak bisa melakukan sesuatu.
__ADS_1
''Kamu mau kemana? Kamu marah?'' tanya Valen melihat Rifal bergerak dari posisinya.
Rifal tertawa lalu mengacak rambut Valen dengan gemas. ''Nggak akan aku marah sama kamu. Aku cuman mau ke kamar mandi nuntasin misi,'' ucapnya membuat Valen tertawa dengan ucapan Rifal.
Valen mengangguk lalu membiarkan suaminya untuk masuk kedalam kamar mandi. Sebagai wanita dewasa dia sudah tau apa yang di lakukan Rifal di dalam kamar mandi.
Valen turun dari tempat tidurnya berjalan membuka gorden jendela kamar, yang mereka tempati saat ini.
Setelah membuka gorden jendela kamar, Valen kembali ke tempat tidur membaringkan tubuhnya.
Dia mengangkat lengan baju yang dia kenakan, terdapat luka di sana yang terbalut perban tanpa Rifal lihat karna dia mengenakan baju panjang.
''Gue harus berterimakasih sama luka ini, karna luka gue bisa kembali,'' gumanya lalu menurunkan kembali lengan bajunya.
Sudah tiga puluh menit Rifal di dalam kamar mandi, pria itu belum juga keluar dari dalam kamar mandi.
Tok
Tok
Tok
''Valen! Rifal!''
Suara itu suara Nando, Valen sangat kenap dengan suara Nando. Jujur saja Nando tidak ingin menganggu waktu Rifal dan Valen saat ini, karna dia mengerti sepasang suami istri tengah menikmati waktu mereka berdua.
''Kenapa, Nan?'' tanya Valen setelah membuka pintu kamar.
''Anna nangis, maaf telah menganggu waktu kalian berdua,'' ucap Nando celingak celinguk di dalam kamar namun tidak melihat Rifal.
''Kemana Rifal?'' tanya Nando kepada Valen.
''Kamar mandi.'' Valen langsung melenggang pergi untuk ke kamar sebelah menemui anaknya yang tengah menangis.
Pintu kamar mandi di buka, Rifal berjalan dan tidak melihat Valen di sini.
''Nyari Valen?''
Rifal langsung melirik keasal suara, rupanya Nando di sana.
''Valen lagi ke kamar Anna, waktunya Valen jangan kau ambil semuanya. Bagikan juga untuk Kianna.'' Nando berucap lalu melenggang pergi, takut jika Rifal angkat suara dan akan memotong gajinya selama ini.
''Nando,'' hembus Rifal lalu berjalan menuju lemari tempat dia menyakinkan bajunya.
Rifal dengan cepat memakai baju dan celana untuk segera menyusul Valen.
__ADS_1
Rifal meninggalkan kamar untuk menuju kamar yang di tempti Kianna, anak menggemaskan yang membuat Rifal ingin menculiknya.
Dan ternyata anak itu adalah anaknya sendiri, jadi dia dengan bebas memeluk dan mengajak bermain Kianna.
Dia masih belum menyangka jika anak itu adalah anaknya, tentu saja Rifal bangga mempunyai anak menggemaskan dan secantik Kianna.
Maklum saja, Valen wanita cantik sehingga anaknya juga cantik. Kianna mengikuti hidung Rifal saat pria itu kecil.
Ceklek.
Rifal membuka kamar yang di Tempati oleh Kianna, Valen melirik kearah pintu yang di buka oleh Rifal yang sudah tampil tampan.
Wangi Rifal membuat Valen ingin mencium Rifal saat ini, pria itu sangat harum.
Terlebih dahulu Rifal mengunci kamar lalu mendekati Valen yang tengah menyusui Kianna.
''Kenapa bisa nangis anak papah ini,'' ucap Rifal menoel hidung Kianna dengan gemes.
Valen melirik Rifal yang sibuk mengajak Kianna bercanda. ''Nggak mau di panggil daddy?'' Valen bertanya, setahunya suaminya itu akan menyuruh anaknya saat dia tengah hamil memanggil dirinya dengan sebutan daddy.
''Nggak jadi,'' jawab Rifal tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Kianna membuatnya ikutan tersenyum melihat Kianna.
''Kenapa?'' tanya Valen penasaran.
''Aku nggak mau samaan kayak daddy Aska,'' jawabnya membuat Valen menggelengkan kepalanya.
Rifal menatap Valen. ''Enak yah jadi Kianna nyusu sama kamu,'' ujarnya membuat Valen langsung melotokan matanya kearah Rifal.
Tentu saja Rifal terkekeh, rupanya Valen sudah tau maksudnya berkata seperti ini.
''Kalau kamu halangan nggak ada salahnya, kan, kalau aku juga nyusu kayak Kia—''
''Stop!'' Valen tidak sanggup mendengar omongan vulgar keluar dari mulut suaminya.
Rifal kembali terkekeh lalu mengacak rambut Valen. ''Lepas Kianna nyusu, aku lagi, ya,'' ujarnya dengan senyuman tanpa dosa membuat Valen ingin menggeplak kepala Rifal saat ini.
''Nggak baik ya, Fal, ngomong kayak gitu di depan anak kecil,'' ucap Valen.
''Nggak apa-apa, Kianna, kan, belum ngerti apa yang papahnya bilang barusan.''
''Bukan cuman Kianna yang butuh, aku juga yang butuh,'' ujar Rifal menbuat Valen menggelengkan kepalnya.
''Cepat nyusun Kianna, lepas itu aku. Biarkan anak menggemaskan kita ini kita titip sama Nando dulu,'' ucap Rifal kelewat santai.
''Mana bisa Nando jagain anak.''
__ADS_1
''Aku mau juga kayak Kianna, Len.''