
''Buat kak Nando.''
Lea menyerahkan undangan pernikahannya kepada Nando.
Nando tersenyum perih menerima undangan dari Lea, ''makasih, Lea.''
Lea mengangguk. ''Sama-sama. Kalau gitu Lea pamit yah,'' pamitnya kepada Nando.
Lea tersenyum manis kepada Nando lalu benar-benar pergi dan masuk kedalam mobil Nathan.
Mereka tidak sengaja bertemu dengan di jalan trotoar, pria itu berjalan kakih di sepanjang jalan trotoar untuk merayakan ulang tahunya.
Gila bukan? Namun itu hanya sebuah alasan agar ia mempunyai pekrjaan untuk melupakan Lea.
Sehingga Lea menyuruh Nathan untuk menghentikan mobilnya dan ingin memberi langsung Nando undangan pernikahannya.
Nando menatap undangan pernikahan Lea dan Nathan, lalu ia menarik nafas dalam-dalam.
''Ayok, Nando. Kau pasti bisa melupakan Lea. Kau harus tau, jika gadis itu hanya singgah sesaat di hatimu. Lagian, dia juga orang baru. Aku yakin kau pasti bisa melewati ini semua.'' Nando menyemangati dirinya sendiri.
Bohong, jika matanya tidak memerah saat mengatakan hal barusan. Lea memang gadis yang baru singgah di hatinya, dia juga hanya gadis ingusan menurut Nando, karna saat itu mereka bertemu saat usia Lea 19 tahun, dan sekarang usia gadis itu sudah 20 tahun.
Gadis itu benar-benar mempropagandakan isi hati Nando, Lea benar-benar menciptakan kegalauan yang selama hidupnya, Nando tidak pernah rasakan.
Benar kata Valen, jika ini semua karma untuk dirinya.
''Pastikan jika di hatimu sudah tidak ada keraguan lagi.'' Nathan berkata seraya fokus menyetir mobil.
Lea menatap Nathan. ''Di hati Lea nggak ada sama sekali keraguan. Hati Lea udah mantap buat nikah sama dokter Nathan.''
Nathan mengangguk tanpa mengalihkan pandanganya dari depan. Pagi ini mereka akan ke Bandung.
Tujuannya ke Bandung untuk ziarah kubur di makam Alex, papihnya Nathan.
Sebelum menikah, mereka harus meminta restu kepada orang tua mereka, meskipun kedua orangnya sudah tidak ada.
Dari Jakarta ke Bandung akan menempuh perjalan dua jam, apalagi mereka pergi menggunakan mobil pribadi.
Nathan sudah mengambil cuti di rumah sakit, dan Lea juga sudah minta libur selama acara pernikahannya nanti.
Lea menguap didalam mobil, padahal perjalanan mereka menuju Bandung baru beberapa menit.
''Kalau mau tidur, tidur aja. Nanti aku bangunin kalau udah nyampe,'' ucap Nathan melirik Lea lalu kembali fokus menyetir mobil.
''Lea ngantuk, soalnya semalam nggak bisa tidur,'' ujar gadis itu membuat Nathan menaikkan alisnya sebelah.
__ADS_1
Padahal semalam ia tidak slep call dengan Lea, karna ia tau mereka akan ke Bandung.
''Kenapa sampe begadang?'' tanya Nathan membuat Lea cenggengan kearah dokter Nathan.
''Soalnya, kalau Lea mau bepergian nggak bisa tidur, selalu terbayang-bayang,'' ucapnya dengan malu membuat Nathan menggeleng tak habis pikir.
Lea benar-benar seperti anak kecil saja.
''Kamu tidur aja,'' ucap Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Lea.
''Lea boleh nggak tidur di belakang?'' pinta gadis itu.
''Emangnya kenapa kalau di sini?'' heran Nathan karna Lea ingin pindah ke belakang untuk tidur.
''Kalau di sini kaki Lea bakalan terlipat. Kalau tiduran di belakang kakinya bisa lurusan dikit,'' jelas gadis itu.
‘’Yaudah kalau itu mau kamu.''
‘’Nggak apa-apa, kan, kalau Lea nggak di samping dokter Nathan lagi nyetir mobil?'' Lea lebih dulu memperjelas.
''Nggak apa-apa.''
Lea akhirnya pindah ke belakang, di kursi belakang ada bonoka Spiderman milik Rafael yang bisa ia jadikan guling.
Perlahan-lahan Lea sudah memejamkan matanya.
''Cantik dan imut,'' puji Nathan yang menatap wajah Lea dari kaca mobilnya.
Nathan singgah di alfamidi untuk membeli snack dan minuman, ia baru satu jam menempuh perjalanan, masih ada satu jam lagi ia akan sampai di Bandung.
Nathan turun dari mobilnya, setelah memastikan mobilnya sudah terkunci karna di dalam ada Lea.
Nathan membeli cemilan, minuman dan makanan ringan untuk Lea.
Setelah membeli semua itu, Nathan langsung menuju kasir untuk membayarnya. Barang belanjanya ada tiga kantongan berisi full.
Nathan langsung kembali ke mobil.
‘’Udah bangun?'' tanya Nathan saat melihat ke belakang Lea sudah duduk anteng dengan wajah bangun tidur.
Lea hanya mengangguk, seraya mengumpulkan nyawanya.
''Pindah kedepan, aku beliin cemilan, minuman dan makanan ringan untuk kamu.'' Perintah Nathan menyuruh Lea pindah kedepan.
Mata Lea langsung berbinar-binar saat melihat tiga kantongan full berisi makanan.
__ADS_1
Lea langsung pindah ke depan, sementara Nathan kembali menjalankan mobilnya untuk segera ke Bandung.
Selain ingin siarah, mereka juga akan berkunjung di wisata Bandung. Saat sampai di Bandung dia akan mendiskusikan dengan Lea, tempat mana yang akan mereka kunjungi.
Lea mengambil kacang telur lalu membukanya.
''Minuman ada di kantong sebelah situ,'' tunjuk Nathan.
Lea langsung membuka kantongan yang di tunjuk oleh Nathan, ada lima jenis minuman yang Nathan beli.
Dan Lea memilih teh gelas untuk ia minum.
''Ini semua untuk Lea?'' tanya Lea seraya mengunyah kacang telurnya.
''Untuk siapa lagi kalau bukan untuk kamu.'' Lea tersenyum lebar kearah Nathan.
Di pastikan hidupnya tidak akan kelaparan jika ia bepergian dengan Nathan.
''Lea,'' panggil Nathan tanpa mengalihkan pandangnya dari jalan raya.
''Iya,'' jawab Lea.
''Bukain aku teh kotak juga. Masa kamu tega biarin aku nggak minum, padahal aku lagi nyetir,'' celetuk Nathan membuat Lea langsung menepuk jidatnya.
Ia lupa membukakan untuk Nathan. Lea sudah berhasil menusuk teh kotak tersebut, ia langsung memberikannya kepada Nathan.
''Bantuin, aku lagi nyetir.'' Padahal, Nathan bisa saja melakukannya. Membawa mobil seraya minum teh kotak yang di berikan Lea, tanpa memerlukan bantuan Lea.
Lea langsung mendekatkan teh gelas itu, Nathan langsung meminumnya dengan Lea yang memegang teh kotak tersebut.
''Romantis banget, ya, kita,'' ujar Nathan menbuat pipih Lea bersemuh merah.
Nathan terkekeh melihat tingkah menggemaskan Lea sat ini.
''Dokter Nathan mau kacang?'' tanya Lea.
''Belum halal, nanti kalau udah halal baru mau,'' goda Nathan membuat Lea bingung.
Ia tidak tau apa yang di maksud oleh Nathan saat ini. Ia menawarkannya kacang telur yang sedang ia makan, namun Nathan menunggu sampai halal dulu.
''Emangnya kacang yang Lea makan nggak hala?'' tanyanya dengan polos membuat Nathan tersenyum masam.
Akhirnya Nathan menyuruh Lea untuk menyuapinya kacang garuda, dirinya fokus menyetir.
‘’Masih jauh?'' tanya Lea.
__ADS_1
Lea belum pernah ke Bandung, jadi wajar saja jika ia bertanya apakah tempatnya masih jauh atau tidak.
‘’Tiga puluh menit lagi, kalau jalan nggak macet kita bisa tiba tiga puluh menit lagi. Kalau jalan macet, sekitar satu jaman lagi baru sampai Bandung,'' jawab Nathan menbuat lea mengangguk.