
Valen menghentakkan kakinya kesal, belum ada satu jam dia berjanji akan mengabaikan Rifal, namun dia sudah lupa dengan tujuannya.
“Kalau ngomong yang jelas, Len,” ucap Rifal diseberang Telfon. “Apa iya kalau orang hamil ngomongnya kurang jelas?”
Valen semakin kesal dengan Rifal, dia seperti di ejek oleh suaminya sendiri. “Awas aja kamu, Fal.” Lepas itu, Valen mematikan ponselnya secara sepihak.
Dia menonaktifkan ponselnya agar Rifal tidak dapat menghubunginya kembali. “Pokoknya gue harus cuekin Rifal, biar dia tau rasa.”
“Valen, halo. Valen!” Rifal memanggil nama Valen.
****
Rifal hanya dapat mengumpat karna ponsel milik Valen tidak aktif. Rifal mencoba menghubungi Rina namun tidak di angkat-angkat oleh Rina karna wanita itu tengah asik memilih baju untuk calon cucunya.
Rifal tidak menyangka jika omongan Mommy Rina itu benar-benar adanya, jika hati wanita itu sensitif apa lagi saat hamil.
****
Rara, Kayla, Frezan dan juga anak-anak mereka telah masuk kedalam mobil untuk menuju Mall berbelanja sesuka hati mereka, dan Frezan mengatakan jika dia yang akan membayar keseluruhan belanja mereka nantinya.
Rara mengajak Kayla untuk ikut karna dia tidak bisa menjaga anak-anak sebanyak itu. Apa lagi tingkah mereka yang berbeda-beda.
“Kita nggak ngajak Farel?” Tanya Rara.
Mobil milik Frezan telah meninggalkan pekarangan rumah.
“Aku Telfon Nathan dulu,” ucap Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Frezan tengah menelfon dengan Nathan jika dia akan menjemput Farel di apartemen milik Nathan. Sementara Nathan tengah bertugas di rumah sakit.
Farel tengah berada di apartemen dijaga oleh bibi pengasuh yang sudah dibayar oleh Frezan dan juga Nathan.
“Apa kata, Nathan?” Tanya Rara setelah melihat Frezan sudah memutuskan sambungan telfonya bersama Nathan.
“Farel ada di apartemen. Kita jemput dia dulu,” ucap Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Mendengar nama Farel membuat Dyta yang mempunyai rambut keriting itu menjadi masam, setelah beberapa hari tidak bertemu dengan Farel dia akan kembali bertemu.
__ADS_1
Dari balik kaca spion mobil, Rara memperhatikan jika sahabat sekaligus kakak iparnya itu sedang tidak baik-baik saja. Karna sepanjang perjalanan Kayla hanya melamun dan mengembuskan naafas berat.
Rara tau apa yang dipikirkan oleh Kayla saat ini tentang suaminya, dia akan hidup tanpa suaminya dan kedua anak-anaknya akan tumbuh dewasa tanpa sosok Elga.
Beberapa bulan ini, Rara melihat Kayla dengan wajahnya yang tidak biasa, seperti seorang wanita yang tengah hamil.
“Kay,” panggil Rara melihat kearah belakang.
“Kenapa, Ra?” Tanya Kayla.
“Kamu baik-baik aja ‘kan?” Tanya Rara dan dibalas anggukan kepala oleh Kayla.
“Gue baik-baik aja,” jawab Kayla disertai dengan senyumannya yang manis. Rara mengangguk, meski dia tau jika Kayla saat ini tengah berbohong padanya.
Istri mana yang baik-baik saja di tinggal oleh suaminya? Sementara kedua anaknya masih membutuhkan sosok Elgara.
Apa lagi keponakannya yang bernama Dyta selalu saja mencari Elga. Rara pernah memberikan saran kepada Kayla untuk membawa Dyta saja ke kantor polisi menemui Elgara.
Namun Kayla tidak mau, menurutnya Dyta masih kecil untuk mengetahui hal ini. Kayla akan memberitahukan putrinya jika waktunya sudah tepat.
Dyra juga mencari Elga, namun tidak sesering Dyta mencari Elga.
Rara langsung terdiam mendengar suara keponakannya yang lucu itu berbicara dengan suara kecilnya.
Kayla mengusap rambut keriting milik Dyta, “Om Eza pergi, kok papah nggak ikut kita, Mah,” ucap Dyta lagi membuat Rara tersenyum tipis mendengar penuturan Dyta.
“Papah lagi sibuk kerja, buat kamu sama Dyra nanti kalau sekolah ditempat mamah dulu,” kata Kayla masih mengusap rambut keriting Dyta.
Dyta hanya mengangguk, sementara Dyra tengah bermain boneka bersama dengan Hasya. Sementara Tegar? Dia duduk paling belakang seraya memejamkan matanya karna rasa ngantuk menyerangnya.
Hati Frezan juga tersentil saat mendengar pertanyaan dari anak Elga. Mobil milik Frezan telah sampai di apartemen milik Nathan.
Bibi yang bertugas menjaga Farel langsung mengantar Farel masuk kedalam mobil. Nathan sudah menelfon sang bibi tadi untuk membantu Farel siap-siap.
Farel langsung masuk kedalam mobil, duduk paling belakang bersama dengan Tegar.
Farel melihat Dyta sebelum dia naik mobil, dia memberikan senyuman pada Dyta namun anak mungil itu langsung memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Frezan kembali melajukan mobilnya untuk segera ke Mall yang diperintahkan oleh Rara.
Tidak ada yang mengeluarkan suara di sepanjang perjalanan.
Saat ini Rifal tengah memesan minuman dan makanan karna tenggerokanya yang kering. Para pelayan datang membawa makanan untuk Rifal.
Rasanya bosan ditempat ini, hanya ada wanita yang sedang asik berbelanja dengan suaminya kemasan wajah terpaksa menemani istrinya berbelanja.
Rifal tersenyum kecil melihat ibu hamil tengah makan bersama dengan suaminya. Sekali-kali suaminya itu mengembuskan nafas berat karna permintaan istrinya yang banyak.
Melihat ibu hamil itu membuat Rifal memikirkan Valen. Dia mengambil ponselnya untuk kembali menghubungi Valen namun nomor Valen masih tidak aktif.
Rifal memakan makananya seraya memikirkan Valen. “Kalau Valen ngambek, bisa-bisa gue tidur diluar,” menolognya seraya memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya.
Mobil milik Frezan telah sampai di depan Mall yang mereka ingin kunjungi.
“Ayok turun anak-anak,” kata Rara dengan semangat empat lima. “Pokoknya kalian boleh belanja mainan sesuka hati kalian, ada om Eza yang bayarin, hehehe,” ucap Rara dengan tertawa kecil membuat merek bersorak riah.
Frezan hanya menggelengkan kepalnya melihat tingkah Rara. “Jangan banyak gerak, luka di tangan kamu belum sepenuhnya sembuh,” peringat Frezan.
“Rasa sakit ini nggak seberapa dari kebahagiaan yang kamu kasi ke aku,” ucap Rara membuat Frezan mengusap rambut Rara.
“Bucin,” sahut Kayla membuat Rara tertawa kecil.
Mereka semua telah turun dari mobil, Farel bersama dengan Tegar berjalan berdekatan. Sementara Dyra dan Hasya juga bersama bergandengan tangan.
Kayla bersama dengan Dyta, Rara dengan Frezan. Mereka semua berdekatan apa lagi mereka membawa anak kecil.
Kedatangan mereka di Mall menjadi pusat perhatian, terutama Frezan yang mencuri perhatian beberapa wanita di Mall yang memuji ketampananya.
Rara yang sadar dengan mata wanita itu mencibirkan bibirnya lalu memegang lengan Frezan dengan erat sehingga Frezan melihat tangan Rara bergantungan dengan erat.
Frezan menyungkirkan senyumana tipisnya. “Mereka semua nggak ada apa-apanya di banding sama kamu,” kata Frezan membuat Rara memasang raut wajah angkuh.
“Tentu saja.”
Mereka berjalan untuk menuju tempat permainan, karna mereka ingin membawa anak-anak mereka untuk bermain dan membeli permainan baru.
__ADS_1
“Kay. Kamu kenapa?” Tanya Rara dengan panik melihat wajah Kayla yang pucat.
“Gue mau ke toilet dulu, Ra.