Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Tumbenan diem


__ADS_3

Ara sebenarnya sedikit sedih karna harus berpisah dengan Roni dan juga Rini tapi mau bagaimana lagi dia juga sedikit kasihan kepada Dania dan juga David dan dia juga yakin bahwa Dania dan juga David akan menjaga dan merawat Roni dan juga Rini dengan baik.


Mobil yang di kendarai oleh Dania dan juga David langsung meninggalkan pekarangan panti dan Ara dan yang lain langsung masuk kembali ke dalam panti. Ara naik ke atas menuju kamarnya untuk mengganti baju dan dia tidak mengajak Erina dan juga Andita karna mereka berdua sedang bermain bersama anak anak panti.


"Udah pulang lo?" tanya Barqi yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Hmm" jawab Ara datar tanpa menoleh ke arah Barqi diapun langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya itu.


"Kenapa tu bocah?" guman Barqi bingung karna biasanya dan setaunya seorang Ara rianti adalah orang yang sangat periang dan jarang sedih.


Barqi langsung turun ke bawah mungkin untuk menjaga gerbang menggantikan Reza karna Reza tadi pamit dengannya untuk pergi ke rumah mertuanya dan Barqi mengiyakannya.


Di dalam kamar ara sudah slesai mengganti baju tanpa mandi karna dia kedinginan ntah kenapa dia kedinginan padahal hari lumayan terik dia menggunakan hodie miliknya yang berwarna kuning dan menggunakan celana panjang dan langsung keluar dari kamar itu dia juga menggunakan kaos kaki karna memang dia selalu menggunakan kaos kaki dan dia melepaskan kaos kakinya saat ingin menyentuh air.


Ara langsung menemui kedua temannya yang sedang bermain bersama dengan anak anak. "Kalian gak ganti baju?" tanya Ara yang baru saja sampai di depan dan langsung duduk di dalam ayunan.


"Boleh juga tuh...gue gak nyaman kalo di luar pake baju sekolah" ucap Andita dan langsung berlalu sedangkan Erina hanya mengikuti Andita dari belakang karna dia juga ingin mengganti pakaiannya dengan pakaian ara. Karna mereka bertiga memang sering menggunakan baju dan barang barang satu sama lain.


"Nak" panggil Fatimah saat berpapasan dengan Erina dan juga andita di tangga.


"Ibu" ucap Erina langsung menyalami punggung tangan Fatimah begitupun dengan Andita.


"Ibu tinggal disini?" tanya Erina karna memang mereka berdua juga sudah dekat dengan Fatimah karna dulu waktu Fatimah di rumah sakit mereka berdua juga sering menjenguk Fatimah dan menemani Fatimah.


"Iya nak" jawab Fatimah.


"Sejak kapan bu? kok kita baru sadar?" tanya Andita bingung karna memang sejak dulu dulu Fatimah tidak tinggal di sana.


"Ibu tinggal disini satu bulan yang lalu" jawab Fatimah.


"Barengan sama Ara ibu tinggal disini?" tanya Erina.


"Iya nak" jawab Fatimah. Andita dan Erina hanya mengangguk mengerti dan Fatimah pun berpamitan untuk turun karna ingin memasak untuk makan siang andita dan Erina mengizinkan dan mereka langsung masuk ke dalam kamar Ara yang ada di panti itu.


Mereka masuk dan mengunci pintu kamar itu karna mereka tau pasti kamar yang Ara tempati tidak memiliki ruang ganti makanya mereka mengunci pintu kamar itu.


Erina menggunakan baju kaos pendek oversize dengan celana joger milik Ara sedangkan Andita menggunakan baju kemeja dan juga celana jins milik ara. Setelah selesai mengganti pakaian mereka berdua langsung turun untuk menemui ara yang sedang bermain bersama dengan anak anak panti di taman panti.

__ADS_1


"Udah?" tanya Ara saat melihat kedua temannya sudah datang.


"Lo liat gimana?" ketus Andita. Ara tidak menjawab perkataan Andita dia hanya diam mungkin dia masih memikirkan perkataan Teo semalam.


"Lo kenapa?" tanya Erina kepada Ara.


"Gapapa" jawab Ara datar.


"Ra" panggil Andita yang merasa Ara menyembunyikan sesuatu.


"Hmm" jawab ara datar yang masih duduk di ayunan tanpa menoleh ke Andita dan juga Erina.


"Lo ada masalah?" tanya Andita kepada Ara. Ara hanya menggelengkan kepalanya dengan lemas itu membuat Andita tidak percaya jika Ara tidak memiliki masalah.


"Gak usah boong" ketus Andita.


"Gue gak boong" jawab ara datar dan mengayun sedikit ayunan yang ia duduki itu.


"Ara kalo lo gak punya masalah lo gak bakal lesu gini" ucap Erina.


"Huh.....Gue kangen sama kak Dewa" jawab Ara sedikit berbohong karna memang dia juga merindukan Dewa tapi yang membuatnya sedih adalah pernyataan Teo yang mengatakan bahwa dirinya bukan anak kandung Teo dan juga windi.


"Sejak kapan lo pinter?" ketus Erina karna dia tidak mau kedua sahabatnya itu larut dalam kesedihan terus menerus.


"Gue kan emang dari dulu pinter" ketus Andita lagi.


"Sejak kapan hah lo pinter? sejak kapan lo bisa jadi sebijak ini hah?" ketus Ara kepada Andita.


"Ya dari dulu lah" bantah Andita dengan wajah yang di tekuk dan itu membuat Ara dan Erina terkekeh.


"Hahaha" Ara dan Erina tertawa mengejek Andita.


"Apaan hah?" bentak Andita sengaja karna dia juga tau maskdu dari ucapan Erina yang ingin menghibur ara.


"Dih liat nih Er temen lo baperan" ucap Ara sambil mencubit pipi Andita sedikit kencang.


"Sakit bego" bentak Andita langsung menepis tangan Ara dari pipinya.

__ADS_1


"Bukan temen gue" jawab Erina yang masih terkekeh.


"Gue pergi aja gak ada yang mau ngakuin gue sebagai temen" ucap Andita dan ingin berlalu tapi tangannya di tarik oleh Ara.


"Emang lo bukan temen kita ya kan Er?" tanya ara yang sudah menghentikan tawanya begitupun dengan Amel.


"He'eh" jawab Erina sambil mengangguk kepalanya.


"Yaudah lepasin" bentak Andita.


"Denger dulu Anditaa" ucap Ara tanpa berdiri dan masih duduk di atas ayunan itu.


"Lo itu sodara kita bukan temen kita tau kan?" ucap ara mencubit pipi Andita yang tidak terlalu berisi itu.


"Tau lo baperan" ketus Erina.


"Gue sayang sama kalian" ucap Andita dan langsung memeluk ara dan juga Erina yang duduk di atas ayunan dan itu membuatnya harus membungkukkan tubuhnya.


Mereka bertiga berpelukan erat karna memang mereka menyayangi satu sama lain. Ara sedikit meneteskan air matanya dengan wajah yang dia tenggelamkan di antara erina dan juga Andita.


"Hey" ucap Barqi yang mengagetkan ketiga wanita yang sedang berpelukan itu. Ara dengan segera menghapus air matanya.


"Ngajak gelud lo hah" bentak Andita kepada Barqi.


"Santai mas broo" jawab Barqi.


"Untung aja gak copot nih jantung" ketus Erina kepada Barqi.


"Maap kalian sih pelukannya fokus banget" jawab Barqi yang menatap Ara belum mengalihkan pandangannya.


"Ara" panggil Barqi.


"Hmm" jawab Ara dan langsung menoleh ke arah Barqi.


"Tumbenan diem?" tanya Barqi.


"Lo mau gue mgebacot gak jelas disini kayak orang gila? lo mau gue maki maki lo?" ketus Ara kepada Barqi.

__ADS_1


"Santai bos kan gue cuma nanya" ketus Barqi.


"Lo kenapa kesini? bukannya jagain gerbang hah? mau gue potong gaji lo?" tanya Ara dengan melebarkan matanya kepada Barqi.


__ADS_2