Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Pamit


__ADS_3

Ara tidak mengubris perkataan Nathan dia langsung masuk ke dalam anti menemui Barqi dan yang lain dan berniat untuk pamit.


"Pulang lo?" tanya Reza yang melihat Ara baru saja masuk ke dalam panti. Ara hanya mengangguk mengiyakan dan langsung masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua diikuti oleh Nathan.


Ara ingin mengambil koper miliknya yanga da di atas lemari tapi dia tidak sampai karna yang meletakkan koper itu adalah Reza yang jauh lebih tinggi darinya. Nathan yang sedari tadi melihatnya dari pintu langsung masuk ke dalam kamar untuk membantu Ara mengambilkan koper itu.


"Kalo butuh bantuan itu bilang" ucap Nathan yang enteng sekali mengambil koper itu tanpa menaikkan kedua kakinya.


"Ya kan gue gak tau kalo lo ikutin gue" jawab Ara langsung mengambil alih koper yang ada di tangan Nathan.


Ara mengambil semua baju miliknya yang ia bawa dan memasukkannya ke dalam koper miliknya. "Kamu mau kemana bawa baju banyak banyak?" tanya Barqi yang baru saja sampai di dalam kamar Ara karna pintu kamar Ara tidak di tutup.


Nathan yang sedari tadi memperhatikan Ara dari kursi yang ia duduki langsung mengalihkan pandangannya kepada Barqi.


"Gue mau tinggal sama paman sama bibi gue" jawab Ara tanpa menoleh ke arah Barqi.


"Dimana?" tanya Barqi. Ara tidak menajwab pertanyaan Barqi dia hanya pokus ke pakaian miliknya yang ingin ia bawa dan lebih tepatnya semua pakaiannya.


"Oiya qi gaji lo,,,Reza,,,Ibu,sama Diana udah gue transfer untuk 6 bulan kedepan maaf cuma segitu yang gue mampu" ucap Ara yang menghentikan sebentar aktifitasnya itu dn setelah itu dia kembali melanjutkannya.


"Itu aja udah banyak banget ra" jawab Barqi karna memang Ara menggaji mereka perkepala 3juta.


"Barqi" panggil Reza.


"Kenapa?" teriak Barqi dari dalam kamar Ara.


"Gantiin gue jagain gerbang gue mau ke pasar nemenin Diana belanja" teriak Reza lagi.


"Iya" teriak Barqi.


"Gua keluar" ucap Barqi dan langsung berlalu meninggalkan Ara dan juga Nathan di dalam kamar itu.


Hanya tercipta keheningan di antara Nathan dan juga Ara dan hanya terdengar suara koper yang beranjak akibat Ara memasukkan barang barang.

__ADS_1


"Udah juga" ucap Ara karna memang dia sudah selesai berkemas.


"Itu buku kamu gak di bawa?" tanya Nathan yang melihat buku buku Ara masih tersusun rapi.


"Gak" jawab Ara kepada Nathan.


"Sini" ucap Nathan langsung mengambil alih koper yang di tangan Ara dan langsung keluar dari kamar itu begitupun dengan Ara yang hanya mengikutinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Fatimah saat melihat Ara turun bersama dengan Nathan yang membawa koper milik Ara.


"Ara mau tinggal di rumah bibi Ara bu" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya.


"Yah udah pergi lagi aja" ucap Fatimah sedih.


"Ara bakal sering sering kesini kok" ucap Ara langsung memeluk Fatimah karna dia menganggap Fatimah seerti ibu kandungnya.


Fatimah hanya membalas senyumannya. "Kamu jaga diri baik baik ya sayang...ibu sayang sama kamu" ucap Fatimah sambil membelai lembut rambut Ara dan mencium pipi Ara.


"Siap buk komandan" ucap Ara sambil hormat kepada Fatimah dan tiu membuat Fatimah terkekeh.


Ara langsung pergi dan berpamitan kepada semua orang panti termasuk anak anak. Sedangkan Nathan dia suruh pulang tapi Nathan tidak mau dan terpakasa dia menyuruh Nathan untuk menunggunya di luar dekat gerbang bersama dengan Barqi.


Setelah selesai Arapun langsung mengahmpiri Nathan yang sedang asik mengobrol bersama dengan Barqi ntah apa yang mereka bicarakan.


"Gue titip panti" ucap Ara sambil melebarkan senyumannya.


"Siap" ucap Barqi sambil mengangkat jempol tangannya.


"Gue percaya sama kalian" ucap Ara melebarkan senyumannya kapada Barqi.


"Yaudah gue pamit ya...ayo" ucap Ara sambil mengajak Nathan untuk pergi.


Nathan hanya mengikuti Ara masuk ke dalam mobil dan sebelum dia masuk mobil ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Nathan langsung membuka pesan itu dan tiu adalah pesan dari Agam yang mengirim informasi tentang Zidan orang tua kandung Ara.

__ADS_1


Nathan sangat terkejut ketika melihat jika Zidan dan juga Rianti orang tua Ara sudah meninggal dunia sejak 14 tahun yang lalu. Dia menatap ke arah Ara yang berada tepat di sampingnya dengan tatapan iba akan wanita yang di sampingnya itu.


"Kenapa liatin gue gitu?" tanya Ara yang sadar jika Nathan menatapnya.


"Gapapa" jawab Nathan dan langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah kakek Ara untuk mengantar Ara pulang.


"Berat banget buat gue ninggalin panti" guman Ara dan langsung menundukkan kepalanya.


Nathan sedari tadi tak henti henti mengawasi Ara karna di pikiran nya adalah bagaimana jika Ara tau kalau orang tuanya sudah tiada di dunia ini? apakah dia akan sesedih waktu itu? pertanyaan pertanyaan itu menghantui fikiran Nathan karna dia tidak mau jika wanita yang ia sukai itu bersedih.


Mobil yang di kendarai oleh Nathan sudah sampai di rumah kakek Ara. Nathan langsung turun dari mobilnya dan mengambil koper milik Ara.


"Biar gue aja" ucap Ara yang baru saja berdiri di samping Nathan dan ingin mengambil alih koper itu.


"Kamu duluan aja biar aku yang bawa" ucap Nathan. Ara langsung berjalan ingin membuka pintu tapi suara Teo yang terdengar olehnya mengurungkan niatnya.


"Kak apa yng kamu lakuin sampai Ara tinggal di panti?" tanya Eizal kepada Teo.


"Aku gak ngelakuin Apa apa" jawab Teo santai. Rizal hanya diam dan tidak menjawab perkataan Teo. Nathan baru saja sampai di dekat Ara dengan membawa koper milik Ara.


Dia ingin menanyakan kenapa Ara masih berdiri disini tapi dia mengurungkan niatnya saat mendengar suara orang yang sedang berbicara di dalam dan itu terdengar jelas di telinganya.


"Kamu udah ke makam Zidan sama Rianti selama kamu di indonesia?" tanya Teo kepada Rizal.


"Udah" jawab Rizal.


"Kamu liat gak kalo makam Dewa pacarnya Ara deket an sama makam Zidan dan Rianti" ucap Teo yang membuat Nathan kaget karna dia tau siapa Zidan dan Rianti itu.


"Iya aku tau" jawab Rizal datar.


"Gimana kalo Ara tau kalo aku sama windi bukan orang tuanya melainkan Zidan sama Rianti yang udah gak ada orang tua kandungnya" ucap Teo bingung. Ara tersentak mendengar itu dia ingin sekali menangis mendengar pernyataan itu tapi dengan sekuat tenaga dia menahannya.


"Aku gak sanggup liat Ara sedih liat dia terpukul nerima kenyataan ini kak" jawab Rizal karna memang dia tidak mau keponakannya itu bersedih.

__ADS_1


"Lambat laun semaunya akan ketahuan oleh Ara zal" ucap Teo.


"Tapi kak aku beneran gak sanggup kalo liat Ara sedih...aku sayang sama dia" ucap Rizal sedih. Ara berusaha menahan tangisnya. Nathan sedari tadi menatap ke arah Ara tanpa di sadari oleh Ara.


__ADS_2