
"Lo duluan aja ke bawah....barang gue ada yang ketinggalan" jawab Ara dan langsung berlari menuju ke apartemennya padahal tidak ada satupun barangnya yang tertinggal.
Nathan langsung memencet tombol 1 untuk menuju ke lantai bawah dan di dalam lift itu Andita menatap tak suka terhadap Nathan karna Nathan telah membuat sahabatnya bersedih.
Lift pun berhenti. Nathan langsung keluar dan menuju ke depan dan langsung manaiki mobilnya. Di dalam mobil dia sedari tadi menatap kursi yang biasanya diisi oleh sang istri tapi saat ini kursi itu kosong dan tidak ada lagi yang memutar lagu mobil itu dengan suara keras dan tidak ada lagi temannya berdebat.
"Aku merindukannya" guman Nathan langsung menghentikan mobilnya tepat di depan perusahaan miliknya karna memang dia sudah sampai.
Nathan langsung turun dan masuk ke dalam perusahaan saat masuk banyak karyawan yang menyapanya tapi dia tidak membalasnya satupun ataupun membalas dengan senyuman seperti biasa.
"Kenapa pak Nathan?" tanya salah satu pegawai menatap heran ke arah Nathan.
"Gue juga gak tau" jawab pegawai lain.
"Sifat dingin nya balik lagi nih" jawab pegawai itu lagi.
"Jangan sampe...gue lebih suka pak Nathan yang selalu senyum sama kita kayak dua bulan ini" ucap pegawai itu.
"Gue juga suka pak Nathan yang selalu senyum sama kita dari pak Nathan yang dingin kayak yang sebelumnya dan hari ini sifat itu balik lagi" ucap salah satu pegawai dengan expresi ngerinya mengingat Nathan yang sebelum menikah dengan Ara selalu dingin dan terlihat menyeramkan.
"Udah ayo kita balik kerja lagi" ucap salah satu pegawai dan semua pegawai kembali ke meja masing masing dan ke pekerjaan masing masing.
****
Ara dan Andita sudah sampai di toko bunga milik Nathan dan langsung bersiap siap untuk bekerja seperti biasa. Ara seperti biasa terlebih dahulu memeriksa bunga yang ia tanam beberapa hari lalu.
"Yah kok mati" teriak Ara prustasi melihat bunga mawar putih yang ia tanam beberapa hari bersama dengan Nathan mati.
__ADS_1
"Apa ini pertanda kalo gue sama Nathan emang gak di takdirkan untuk hidup bersama?" ucap Ara yang terdengar oleh Andita. Andita tadi menghampiri Ara yang berteriak dan dia tidak mau mengganggu Ara dan dia mendengar apa yang di katakan oleh Ara.
Ara memilih untuk membuang bunga yang sudah mati itu. Setelah itu dia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi sofa yang husus untuk beristirahat semua orang.
"Huh" Ara mendengus panjang dengan air mata yang mengalir mengingat kata kata yang suami kemarin.
"Ra" sapa Damian yang melihat Ara tidak bersemangat seperti biasa. Ara langsung menundukkan kepalanya dan menghapus air matanya.
"Hmm" jawab Ara dan menoleh ke arah Damian.
"Kamu kenapa?" tanya Damian kepada Ara.
"Emang gue kenapa?" tanya balik Ara dengan sedikit terkekeh.
"Lo tadi nangis kan?" tanya Damian.
"Itu mata lo merah" jawab Damian.
"Bunga yang kemarin gue tanem mati" jawab Ara sedih padahal dia bersedih bukan karna itu melainkan karna memikirkan perkataan sang suami kemarin.
"Gak mungkin cuma karna bunga" jawab Damian.
"Beneran" jawab Ara meyakinkan damian.
"Udah gak usah bohong sama aku" jawab Damian.
"Gue gak boong" jawab Ara.
__ADS_1
"Eh kalian berdua ngapain disini?" ketus Andita karna dia tau jika Ara tidak mau Damian mengetahui masalahnya makanya dia muncul.
"Lo gak punya mata?" ketus Ara.
"Lanjut kerja" perintah Andita. Damian kembali ke pekerjaannya begitupun dengan Ara.
"Lo jangan terlalu capek.....lo baru sembuh" ucap Andita. Ara menoleh ke arahnya.
"Makasih udah ngingetin gue" jawab Ara dengana senyum yang mengembang. Andita tidak menajwab dan kembali ke pekerjaannya.
*****
"Nat" panggil Vino saat melihat Nathan tak bersemangat di dalam ruangannya. Nathan tidak menajwab dan mencoba lebih fokus lagi ke pekerjaannya tapi tetap tidak bisa.
"Lo yakin mau pisah sama Ara?" tanya Vino ragu. Nathan menghentikan kerjanya dan menatap lekat ke arah Vino.
"Jika anda hanya ingin menyampaikan itu lebih baik anda keluar" jawab Nathan datar. Vino mengerti itu.
"Maafin saya pak" ucap Vino dan sedikit membungkukkan tubuhnya dan langsung berlalu meninggalkan ruangan Nathan.
Nathan menyenderkan tubuhnya di kursinya itu dan memijat kepalanya menggunakan tangannya. "Gue laper" guman Nathan dan langsung teringat akan sang istri yang biasanya menyiapkan makanan untuknya.
"Gue mau makan masakan dia" guman Nathan dan ingin menelpon sang istri tapi dia ingat jika dia sudah tidak saling sapa lagi dengan sang istri sejak kemarin.
"Huh" Nathan kembali menyenderkan tubuhnya.
"Viona bawakan makanan untuk saya" perintah Nathan dari balik telpon karna dia tadi menelpon Viona.
__ADS_1
Viona ingin menjawab tapi telpon itu sudah tidak terhubung. Viona membelikan makanan dan setelah itu langsung masuk ke dalam ruangan Nathan dengan membawa kotak yang berisi makanan.