
"Kamu kesinggung sama ucapan Azlan tadi?" tanya Andita kepada Ara.
"Jelas aja enggak, dia emang gak bisa ngejaga ucapannya" jawab Ara dengan tersenyum padahal dia sangat tersinggung akan ucapan Azlan.
"Auuuu" rengek Ara karna perut nya kembali sakit.
"Ada apa?" tanya Nathan kepada sang istri.
"Gapapa" jawab Ara dan kembali berdiri seperti semula dan melihat jam di dinding rumah sakit itu yang sudah menunjuk pukul 19:00 dan menandakan jika hari sudah malam.
"Hey kita belum mandi sama belum ganti baju" ucap Ara. Nathan melihat jam yang ada di dalam ruangan Erina itu dan melihat jika jam sudah menunjuk 19:01.
"Yaudah ayo kita pulang" ajak Nathan kepada sang istri. Ara mengangguk mengiyakannya dan berjalan menuju ke dekat Erina dan yang lainnya untuk berpamit.
"Ayah, bunda" panggil Ara saat sudah sampai di dekat Nita dan juga Andre.
"Iya sayang" jawab Nita dengan menatap Ara begitupun dengan yang lainnya.
"Kenapa ra?" tanya Erina.
"Ara mau pamit pulang, Soal nya kan ini udah mulai malam dan Ara sama kak Jo belum mandi tadi pas kesini" jelas Ara kepada seluruh orang sambil menyengir.
"Yaudah pulang ya kamu juga harus istirahat supaya cepat hamil" jawab Meli sambil melebarkan senyumannya karna dia sudah menganggap Ara seperti anak sendiri. Ara membalas senyuman Meli dan mencium punggung tangan orang yang ada di dalam ruangan itu kecuali Erina, Vino, Andita dan juga Azlan.
Setelah selesai bersalaman Ara dan Nathan langsung berlalu keluar dari ruangan itu dan keluar dari rumah sakit. Ara membuka pintu mobil untuk nya sendiri karna dia berjalan lebih dahulu dari Nathan. Ara mendudukkan tubuh nya di samping kemudi dan menyenderkan tubuh nya di kursi kemudi itu.
"Huh" Ara mendengus kasar karna dia teringat akan ucapan Azlan dan merasa bersalah kepada Nathan karna telah menunda kehamilan. Nathan yang baru masuk ke dalam mobil bisa mendengar dengusan sang istri dia menatap wanita yang tengah duduk di samping nya itu dan baru melajukan mobil nya keluar dari pekarangan rumah sakit tadi.
__ADS_1
Di dalam mobil itu sangat hening dan tidak ada juga suara musik karna biasa nya yang menghidupkan musik di dalam mobil pribadi Nathan itu adalah Ara tapi saat ini nampak nya mood wanita itu tidak baik. Nathan bisa melihat kesedihan di wajah sang istri dan dia berpikir asti itu karna ucapan Azlan tadi.
"Kamu kenapa?" tanya Nathan dengan menghentikan mobilnya di tepi jalanan sepi dan menatap lekat wanita nya itu. Ara menoleh ke arah nya dengan wajah lemah akibat kelaparan dan belum menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Kamu kesinggung sama ucapan Azlan tadi?" tanya Nathan dan kembali menatap lekat wajah sang istri dan menatap lekat wajah wnita itu. Ara menggelengkan kepala nya menandakan dia tidak tersinggung akibat ucapan Azlan padahal dia sangat tersinggung.
"Lalu kenapa kamu murung?" tanya Nathan lagi yang tidak mau menanyakan masalah tadi karna takut wanitanya itu kembali sedih.
"Kamu gak ngasih aku makan dari tadi siang" jawab Ara dengan wajah sedih nya dan memegang perut nya yang terasa sangat lapar itu. Nathan yang awal nya serius akhirnya terkekeh mendengar ucapan sang istri.
"Ara beneran lapar kak" ucap Ara yang melihat sang suami yang terkekeh.
"Kenapa gak bilang dari tadi hah?" tanya Nathan dengan mencubit pelan pipi wanita nya itu.
"Udah cepetan Ara bener bener laper ini loh kak" jawab Ara dengan menepis tangan sang suami dari pipi nya. Nathan kembali tersenyum dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ada apa? katanya mau makan" tanya Nathan.
"Aku mau itu" jawab Ara sambil menunjuk ke penjual martabak telor yang ada di pinggir jalan dan di sana juga nampak lumayan ramai.
"Kamu yakin?" tanya Nathan kepada sang istri. Ara mengangguk mengiyakannya dengan senyum yang melebar.
"Ayo" ajak Ara saat melihat suami nya itu tidak bergerak dan diapun langsung turun dari mobil. Nathan terpaksa mengikuti sang istri dari belakang. Ara berjalan menuju ke penjual martabak telor itu.
"Kamu duduk di sini, Biar aku yang pesan" ucap Ara dengan menarik satu kursi untuk sang suami. Nathan tersenyum dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang di persilahkan sang istri.
"Pak lima ya, Saya tunggu di sana" ucap Ara sambil menunjuk ke arah sang suami.
__ADS_1
"Baik nona" jawab penjual tadi dan langsung membuat pesanan milik Ara. Ara pun berlalu dari sana dan menuju ke dekat sang suami yang nampak sedang memainkan ponsel nya.
"Sudah?" tanya Nathan.
"Baru aja aku mesen nya" jawab Ara.
"Makan disini?" tanya Nathan. Ara mengangguk mengiyakannya dengan senyum yang melebar. Nathan sedikit ragu untuk makan di sana dan Ara bisa melihat dari raut wajah suaminya itu.
"Kamu gak bakal mati makan disini, Coba kamu lihat banyak orang yang makan disini dan aku juga sering makan disini" jawab Ara sambil menunjuk ke arah pelanggan yang membeli martabak telor itu.
"Ini nona baru tiga, Dua lagi masih di masak nona" ucap penjual tadi karna Ara sudah beberapa kali mampir untuk membeli makanan itu. Ara mengangguk mengiyakannya dan mengambil garpu karna martabak itu sudah di potong kecil kecil sesuai kebiasaan Ara.
"Kamu kenapa mesen nya banyak banget?" tanya Nathan kepada sang istri yang sudah melahap makanan itu.
"Sebenar nya ini aja belum cukup, Apa lagi nanti kalo kamu udah nyoba pasti minta tambah lagi" jelas Ara dengan mulut yang berisi.
"Jngan ngomong waktu makan" ucap Nathan. Ara senyum menghadap ke arah sang suami dengan mulut yang nampak berisi. Pekerja tadi mengantarkan dua porsi martabak telor lagi dan meletakkan nya di depan Ara.
Nathan nampak sedikit ragu untuk memakannya. "Udah makan aja gak bakal kenapa napa kok" ucap Ara yang melihat suami nya itu ragu untuk memakan makanan nya. Nathan menusukkan satu potong martabak itu ke garpu dan menggigit pelan makanan itu untuk mencoba.
"Bagaimana?" tanya Ara kepada sang suami saat melihat suami nya mengunyah martabak telor itu.
"Gak terlalu buruk" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya dan melahap semua martabak yang masih ada di garpu nya itu.
"Makanya jangan lihat dari tempat nya, Tapi rasakan kenikmatan nya" ucap Ara dan kembali melahap makanan nya itu. Nathan hanya melebarkan senyumannya dan ikut melahap makanan milik nya dengan sangat lahap.
Nathan dan Ara nampak sangat lahap memakan itu dan Ara sudah menghabiskan dua porsi dan Nathan tiga porsi. "Pak tiga lagi" teriak Ara kepada penjual itu. penjual itu mengangguk mengiyakannya dan membuat pesanan milik Ara.
__ADS_1