
"Ara" teriak Barqi kegirangan dan ingin memeluk Ara tapi Reza melarangnya.
"Dia udah punya suami" ketus Reza.
"Oiya gue lupa" jawab Barqi sambil menyengir kuda menghadap ke arah Ara.
"Ibu sama Diana mana?" tanya Ara yang tidak melihat ibu Fatimah dan Diana.
"Mereka ke pasar" jawab Reza. Ara mengangguk mengerti dan langsung naik ke lantai dua untuk melihat kamar dan yang pernah sia tempati dan Barqi mengikutinya.
"Siapa yang nungguin kamar ini?" tanya Ara kepada Barqi karna kamar itu nampak sangat bersih dan buku buku tersusun sangat rapi dan makin banyak buku di sana.
"Gue" jawab Barqi sambil melebarkan senyumannya. Ara berjalan masuk ke dalam kamar itu dan melihat lihat buku buku yang ada di dalam itu. Ada sebagian bukunya di sana.
"Lo baca buku?" tanya Ara kepada Barqi. Barqia mengangguk mengiyakannya.
"Makin pinter apa makin bego?" tanya Ara bergurau kepada Barqi.
"Gak tau juga gue" jawab Barqi yang mengerti akan ucapan Ara yang hanya mengajaknya untuk bergurau.
"Sini gue ajarin lo.....lo mau belajar apa?" tanya Ara kepada Barqi.
"Bahasa inggris" jawab Barqi.
"Kenapa harus bahasa inggris?" tanya Ara bingung karna banyak mata pelajaran lain dan Barqi lebih memilih bahasa inggris.
__ADS_1
"Itu satu satunya mata pelajaran yang gak pernah gue pelajaran dan gue mau jadi kayak lo yang bisa kuliah di luar negri" jelas Barqi. Barqi termotivasi terhadap sosok Ara biarpun tampangnya seperti preman seperti itu Barqi mempunyai cita cita yang sangat mulia yakni menjadi dokter supaya dia bisa membantu orang yang tidak mampu karna dia belajar dari masa lalunya dan dia juga mendaftar jalur biaya siswa dan dia sudah terdaftar di kampus luar negri yakni di amerika tapi dia tidak tau bahasa inggris makanya dia meminta Ara mengajarkannya itu.
"Emang pelajaran lain beneran udah ngerti?" ejek Ara kepada Barqi. Barqi mengangguk mengiyakannya.
"Emmm okeee" ucap Ara dan mencari cari ponselnya.
"Oiya gue lupa kan ponsel gue ketinggalan" ucap Ara memukul pelan dahinya. Ara melihat lihat ke sudut sudut kamar yang penuh dengan buku itu dan dia menemukan laptop.
"Laptop lo?" tanya Ara.
"Iya" jawab Barqi sambil melebarkan senyumannya.
"Wah hebat lo qi" ucap Ara dengan senyum yang mengembang dan tidak menampakkan kesedihan sama sekali di wajah cantik itu.
"Itu juga berkat lo yang ngegaji gue lebih....ya gue tabung duitnya kan gue sekarang makan lewat panti kalo punya keluarga kayak Rezal sih mungkin udah abis uangnya ini kan gue sendiri makanya gue bisa beli laptop itu" jelas Barqi dengan senyum yang mengembang sambil menunjuk laptop miliknya yang ia kumpulkan dari hasil keringatnya sendiri.
"Kenapa?" tanya Barqi.
"Ini aplikasi yang bisa bikin lo bahasa inggri dengan cepat...gue dulu pernah make aplikasi ini dan aplikasi ini rekomendasi dari mang Mamat" jelas Ara sambil membuka aplikasi itu dan mengenakan henset di telinganya karna aplikasi itu bisa menggunakan suara.
"Ini coba" ucap Ara langsung berdiri. Barqi mengenakan henset yang di berikan Ara dan memulai belajarnya.
"Mudah di pahami juga ya ra" ucap Barqi saat mendengar ucapan demi ucapan dari aplikasi itu.
"Lo belajar terus besok gue bakal uji sampe mana lo belajar" jawab Ara. Barqi mengiyakannya dengan mengangkat salah satu tangan jempolnya.
__ADS_1
Ara berjalan jalan melihat buku buku yang di pelajari oleh Barqi dan dia juga melihat lihat latihan latihan yang di kerjakan oleh Barqi dan di periksa oleh Barqi sendiri juga. Ara memeriksa semua tugas yang telah diisi oleh Barqi itu.
"Lo sendiri murid lo sendiri guru" ucap Ara dengan senyumnya dan menggeleng gelengkan kepala.
"Mau sewa guru gak punya uang" jawab Barqi yang masih fokus ke layar laptopnya. Ara melihat jika ada amplop berwarna coklat di antara banyak buku dan dia mengambilnya dan membukanya.
Mata Ara membulat sempurna saat membuka amplop itu. "Ini sriusan qi?" tanya Ara yang tak percaya saat melihat Barqi mendapatkan biaya siswa ke amerika dan mendapatkan jurusan kedokteran.
"Apanya?" tanya Barqi menatap ke arah Ara dan melepaskan sebelah henset yang ia gunakan.
"Lo beneran dapet biaya siswa ke amerika?" tanya Ara dengan mata yang masih membulat.
"Iya" jawab Barqi sambil melebarkan senyumannya.
"Jurusan kedokteran?" tanya Ara balik dengan wajah girangnya karna dia sangat bahagia melihat teman nya itu mendapatkan biaya siswa dan itu keluar negri.
"Iyaa" jawab Barqi sambil melebarkan senyumannya. Ara meloncat kegirangan.
"Barqi gue seneng banget dengernya" ucap Ara dengan wajah merahnya akibat kegirangan. Barqi tersenyum melihat wajah yang tak pernah bersedih itu menurutnya tapi kenyataannya wajah itu hanyalah topeng.
"Yeeeeee" teriak Ara kegirangan dengan meloncat loncat dan langsung keluar dari kamar itu.
Fatima dan Diana yang baru saja pulang heran saat melihat Ara yang meloncat loncat kegirangan. "Kamu udah pulang nak? kamu kenapa bahagia banget kayaknya?" tanya Fatimah.
"Barqi dapet biaya siswa ke amerika bu" jawab Ara yang masih sangat gembira dengan wajah yang masih memerah.
__ADS_1
"Hah Barqi dapet biaya siswa?" tanya Reza heran karna memang Barqi belum memberitahu siapapun masalah biaya siswanya dan Ara lah teman sekaligus keluarganya yang terlebih dahulu mengetahui tentang biaya siswanya.