
"Sayang Delina meminta supaya mata nya di donorkan kepada Yuna" ucap Nathan kepada sang istri, Ara menoleh ke samping dan menoleh ke arah sang suami.
"Kau jangan menolak, Ini permintaan Delina, Dia juga meminta maaf kepada mu" ucap Yuda lagi kepada Ara. Ara menoleh pula ke arah Yuda.
"Dia meminta agar kau menerima nya" sambung Yuda lagi. Ara menoleh ke arah suami nya yang sedang menggendong anak nya dan sepert meminta persetujuan kepada suami nya itu.
"Terima lah" ucap Nathan saat mengerti akan tatapan sang istri.
"Aku akan menerima nya" jawab Ara dengan senyum yang melebar menatap Yuda.
"Terima kasih sudah mau menerima nya" ucap Yuda kepada Ara. Ara hanya membalas nya dengan senyuman dan tidak menjawab ucapan nya sedangkan Okta dia masih sedih dan menangis di bahu Ara.
Yuda langsung memanggil dokter untuk melakukan operasi terhadap almarhum Delina dan juga Yuna anak Natahn dan Ara untuk mendonorkan mata Delina kepada Yuna. Dokter mengiyakan nya dan membawa jenazah Delina masuk ke dalam ruangan operasi yang memang sudah di siapkan sejak tadi.
"Ayo nak" ajak dokter dengan nada lembut kepada Yuna.
"Ibu, Aku takut" ucap Yuna dengan memeluk erat tubuh sang ibu.
"Hey jangan takut, Ini tidak sakit" ucap Nathan yang mencoba menenangkan anak nya itu.
__ADS_1
"Ibu" panggil Yuna lagi karna dia tidak mendapatkan respon dari Ara.
"Jangan hawatir, Tidak akan terjadi apa apa" jawab Ara dengan mengusap lembut kepala anak nya itu sedangkan dokter memasang bius terlebih dahulu kepada Yuna saat Yuna berbicara dengan Ara dan Nathan. Dokter sudah selesai menyuntikkan bius kepada Yuna dan Yuna pun langsung tertidur. Ara memberikan anak nya itu kepada dokter tadi dan dokter tadi langsung membawa Yuna masuk ke dalam ruangan sedangkan Nita dan Andre mereka tidak tau harus bahagia atau tidak karna kebahagiaan mereka adalah menemukan Ara dan cucu mereka sedangkan kesedihan mereka saat melihat Okta yang nampak terpukul atas meninggalnya Delina sang ibu.
"Duduk lah dan tenang" ucap Nathan dan membimbing sang istri untuk duduk. Ara mengiyakan nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di depan ruangan itu tapi duduk nya itu tidak bertahan lama. Ara kembali berdiri dan mengintip ke dalam untuk melihat operasi tapi dia sama sekali tidak bisa melihat apa apa, Ara berbolak balik di depan ruangan operasi itu dia nampak sangat hawatir karna takut terjadi apa apa, Nathan, Nita, Andre dan juga Vino bisa melihat kehawatiran di wajah Ara sedangkan Okta dia kembali tertidur di pelukan Yuda karna kelelahan menangis.
"Hey duduklah, Kau tidak lelah berbolak balik ke sana kemari hem?" tanya Nathan kepada sang istri karna bukan sang istri yang lelah berbolak balik melainkan dia yang lelah melihat istri nya itu berbolak balik di hadapan nya.
"Banyak bicara kau ini" jawab Ara dan kembali melihat ke lampu tanda operasi sudah selesai atau belum tapi lampu itu masih menyala dan operasi masih berjalan.
"Kenapa lama sekali?" ucap Ara yang sedari beberapa jam lalu berbolak balik di depan ruangan itu.
"Astaga lama sekali" ucap Ara yang mulai semakin hawatir dan melihat ke dalam, Saat dia melihat ke dalam pintu lampu penandanda sudah atau belum operasi mati dan keluarlah dokter dan beberapa perawat dari dalam itu. Ara memundurkan tubuh nya dan menatap lekat dokter tadi.
"Bagaimana dok?" tanya Ara dengan wajah hawatir nya.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar" jawab dokter tadi dengan melebarkan senyuman nya kepada Ara, Ara nampak tersenyum lebar mendengar itu begitupun dengan Nathan yang juga ikut tersenyum mendengar itu di tambah lagi melihat senyum sang istri yang sudah sangat lama tidak terlihat itu.
"Empat hari lagi baru perban bisa di buka dan insya allah anak ibu sudah bisa melihat" ucap dokter itu lagi kepada Ara. Ara mengangguk mengerti dan keluarlah roling ranjang yang membawa Delina dan Yuna secara bergantian, Delina di bawa ke ruangan berbeda dari Yuna karna untuk memandikan jenazah dan mengafani nya. Sedangkan Yuna di bawa ke ruang rawat.
__ADS_1
Ara memilih untuk masuk ke dalam ruangan anak nya begitupun dengan yang lain karna percuma juga mereka ingin masuk ke ruang Delina karna tidak di bolehkan. Yuna belum sadar dari bius dan masih berada di dalam pengaruh bius. Beberapa menit mereka menunggu di ruangan Yuna dokter pun masuk ke dalam ruangan itu. "Tuan jenazah nona Delina sudah di bersihkan dan di kafani" ucap dokter itu kepada Andre.
"Baik" jawab Andre akan ucapan dokter tadi.
"Aku ikut memakamkan Delina" ucap Ara.
"Tidak usah, Kau di sini saja jaga Yuna nanti dia mencari mu" jawab Nathan yang melarang sang istri.
"Tapi Okta?" tanya Ara yang memikirkan Okta.
"Kalian pergi saja, Biar bunda yang menjaga cucu bunda" ucap Nita akan Ara dan Nathan suapaya tidak berdebat.
"Bunda tidak apa apa?" tanya Ara. Nita menggelengkan kepala nya dengan senyum yang melebar.
"Yasudah ayo" ajak Nathan dan menarik lembut tangan sang istri dan keluar dari sana sedangkan Yuda sudah terlebih dahulu keluar dari sana bersama dengan Okta. Andre juga ikut memakamkan Delina dan mereka pun masuk ke dalam mobil milik Nathan dan langsung mengikuti ambulance yang langsung membawa Delina ke pemakaman dan Tadi Sudah di bacakan yasin.
Di pemakaman semua sudah siap dan di siapkan oleh Vino, Erina, Andita dan Azlan dan banyak juga yang sudah menunggu di sana. Ara mengenakan jilbab yang di berikan Nita kepada nya tadi dan untung nya pakaian nya sopan dan hanya sedikit pendek rok nya itu tapi tidak terlalu pendek, Sesampai di pemakaman para petugas rumah sakit menurunkan jenazah Delina, Ara turun dari mobil dengan menggendong Okta yang sedang menangis di pelukan nya itu sedangkan Nathan dan Yuda mengikuti Ara dari belakang.
"Ara?" ucap Andita yang kaget saat melihat Ara bersama dengan Nathan dan yang lain. Semua orang yang mengenali dan merindukan Ara pun menoleh ke arah mana tatapan Andita dan benar saja itu memang Ara yang datang bersama Nathan dan Yuda dengan menggendong Okta.
__ADS_1
"Kapan dia datang?" guman Erina yang tidak tau ingin bahagia atau sedih saat ini karna keadaan yang sangat membuat perasaan nya ragu.