
Terlihat Rafael yang sudah terlelap di samping Rizal sedangkan rizal hanya menepuk pelan bokong Rafael. Ara dan Kya langsung mendudukkan tubuhnya di sofa di depan Rizal.
"Paman" panggil Ara ragu kepada Rizal.
"Hmm" jawab Rizal dengan mengalihkan pandangnya kepada Ara.
"Ara mau ngelanjutin study Ara man tapi Ara gak punya biaya" ucap Ara sedikit ragu kepada pamannya itu.
"Emang kamu mau kuliah dimana nak?" tanya Kya kepada Ara.
"Cita cita Ara dari dulu mau kuliah di amerika mau ambil jurusan arsitektur bi" jawab Ara.
"Emang papi kamu gak mau biayain kuliah kamu?" tanya Rizal.
"Bukan gitu man tapi Ara...." ucap Ara sedikit bingung harus menjawab apa karna tidak mungkin dia mengatakan bahwa Teo bukan orang tuanya.
"Tapi apa nak?" tanya Rizal yang melihat keponakannya itu menggigit bibir bawahnya seperti orang ketakutan.
"Hey jawab paman sayang" ucap Rizal lembut kepada Ara.
"Tapi kalo paman gak mau Ara juga gak maksa" jawab Ara cepat.
"Paman mau banget sayang" jawab Rizal.
"Ara beneran ini paman Ara udah gak sanggup kalo ngebiayain hidup Ara sendiri nanti makanya Ara minta paman kuliahin Ara" jelas Ara memastikannya.
"Iya biar paman yang biayain semua kebutuhan kamu" jawab Rizal sambil melebarkan senyumnya.
"Iya nak kamu jangan hawatir masalah itu paman sama bibi bakal biayain hidup kamu di amerika" sambung Kya. Ara langsung memeluk tubuh bibinya itu dia ingin sekali menangis tapi sekuat tenaga dia menahannya.
"Makasih bibi" ucap Ara yang menenggelamkan wajahnya di pelukan Kya.
"Sama sama sayang" jawab Kya dan membalas pelukan Ara. Rizal tersenyum melihat pemandangan itu.
"Oiya nak kenapa kamu gak kuliah di amsterdam aja? biar tinggal sama paman sama bibi disana" ucap Rizal. Ara langsung melepaskan pelukannya dari Kya dan beralih menatap pamannya itu.
"Ara dari dulu mau kuliah di Amerika man....dan kalo bisa abis selesai ujian Ara langsung kesana aja" ucap Ara ragu dan kembali menggigit bibir bawahnya.
"Kok cepet banget? kenapa gak tunggu kakak kamu selesai nikah aja sayang?" tanya Kya.
"Ara mau beradaptasi di sana bi Ara pengen secepatnya pergi kesana kalo bisa sekarang tapikan Ara belum ujian" jelas Ara. Kya dan Rizal mengerti apa yang di maksudkan oleh Ara. Pasti Ara ingin belajar untuk mengikhlaskan Dewa dan memulai hidup baru di Amerika itu yang di pikirkan oleh Rizal dan juga Kya.
__ADS_1
Tapi kenyataannya Ara ingin beranjak pergi dari indonesia karna ingin mencari keberadaan orang tua kandungnya karna setaunya di amerika teknologi melacaknya lebih canggih di banding di negara lain.
"Yaudah iya....di amerika ada apertemen pribadi milik paman" ucap Rizal.
"Beneran Ara boleh tinggal disana?" tanya Ara.
"Iya sayang...nanti setiap bulannya bibi sama paman bakal kirim uang buat kamu nanti kalo sempet kita juga bakal sering sering kesana kalo gak kamu aja yang ke amsterdam biar jet pribadi bibi yang jemput kamu" jelas Kya panjang lebar.
"Ya allah bi paman Ara makasih banget Ara sayang kalian" ucap Ara dan kembali memeluk Kya. Rizalpun beranjak dari duduknya dan duduk dk samping Ara dan memeluk keponakannya itu.
Ara meneteskan air matanya di pelukan Kya dan juga Rizal tapi mereka berdua tidak sadar Jika keponakannya itu menangis.
Tok...tokk.tokk
Suara ketukan pintu membuyarkan pelukan paman bibi dan keponakan itu. Ara dengan segera menghapus air matanya. Rizal membukakan pintu rumah itu karna memang gerbang rumahnya itu tidak di tutup mungkin karna tadi Kya lupa menutupnya.
"Rumah Ara riyanti?" tanya kurir kepada Rizal.
"Ara paket kamu nak" teriak Rizal. Ara langsung teringat akan barang endors nya yang ia berikan alamat rumah kakeknya ini.
Ara langsung keluar menuju pintu depan untuk mengambil barangnya. "Saya Ara rianti" ucap Ara.
"Makasih" ucap Ara ramah sambil melebarkan senyumannya. Kurir itu hanya membalas senyuman Ara dan langsung pamit pergi.
Ara dan Rizal kembali masuk ke dalam. Ara membuka barang yang ingin ia promosikan itu dan barang itu adalah Scincar yang harganya lumayan mahal dan dari brand lumayan ternama.
"Barang apa nak?" tanya Rizal.
"Ini paman Ara di endors buat promosiin ini". jawab Ara sambil menyodorkan scincar itu kepada Rizal.
"Mau di bantuin sayang?" tanya Kya kepada Ara. Ara mengangguk mengiyakan dan Kyapun mebantunya yakni memoto Ara yang sedang memegang dan menggunakan Scincar itu di dekat lemari hias di kamar yang ada di dekat ruang keluarga.
"Makasih bibi" ucap Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Sama sama sayang" jawab Kya dengan membalas senyuman Ara.
"kamu udah bisa cari uang sendiri yah" ucap Rizal sambil melihat lihat barang barang milik Ara yang di antarkan oleh kurir tadi.
"Ya gitu lah man kalo gak dari mau dapet uang buat anak panti" jawab Ara.
"Kamu punya panti sayang?" tanya Rizal. Ara hanya mengangguk mengiyakannya.
__ADS_1
"Udah larut kamu gak mandi?" tanya Kya yang sudah mengetahui tentang panti yang didirikan oleh Ara dan juga Dewa.
"Males Ara mandi....Ara juga gak bawa baju" jawab Ara.
"Yaudah tidur aja ini udah malem" ucap Rizal.
"Ara mau tidur sama Rafael" ucap Ara.
"Yaudah iya" jawab Rizal langsung mengangkat Rafael menuju ke kamar yang ada di dekat ruang keluarga. Ara langsung merebahkan tubuhnya di samping keponakannya itu.
Sedangkan Rizal dan juga Kya langsung keluar dari kamar itu menuju kamar mereka yang ada di depan kamar yang di tiduri Ara dan juga Rafael.
*****
Di kediaman Adijaya mereka baru saja selesai memakan sarapan malam mereka dan duduk di ruang keluarga yang ada di lantai 2.
"Ceritain sama bunda" ucap Nita langsung saat mendudukkan tubuhnya di samping Nathan.
"Cerita apa bun?" tanya Nathan bingung.
"Kenapa semalam Ara bisa sama kamu" ucap Nita dengan menatap lekat wajah anaknya itu.
"Nathan harus cerita dari mana?" tanya Nathan yang tidak tau ingin bercerita dari mana.
"Ara kenapa bisa mabuk?" tanya Nita.
"Mungkin karna dia punya masalah bun makanya dia sampe mabuk gitu" jawab Nathan yang tidak mengatakan apa masalah Ara.
"Masalah apa?" tanya Nita lagi.
"Nathan juga gak tau" jawab Nathan berbohong padahal dia tau.
"Nathan kamu jangan bohong sama bunda" ucap Nita menatap lekat mata anak nya itu.
"Nathan beneran gak tau bunda" jawab Nathan lagi.
"Trus kamu ketemu sama Ara dimana?" tanya Nita lagi.
"Waktu Nathan mau pulang kerumah Nathan liat Ara jalan sendiri kayak orang gila di pinggir jalan kadang nangis kadang ketawa makanya Nathan samperin" jelas Nathan panjang lebar.
"Trus kenapa gak kamu bawa pulang aja?" tanya Nita penuh selidik kepada anaknya itu padahal dia juga suka jika Ara menginap di rumahnya.
__ADS_1