Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Mandul


__ADS_3

"Kamu udah selesai kerja?" tanya Ara tanpa menatap sang suami dan melanjutkan bekerjanya dan berlalu meninggalkan suami. Nathan mengikuti sang istri dari belakang.


"Udah...ayo kita pulang" ajak Nathan. Ara mengangguk mengiyakannya dan melepaskan celemek yang ia gunakan.


"Gue duluan" ucap Ara kepada Andita.


"Hati hati" jawab Andita. Ara langsung berlalu begitupun dengan Nathan yang hanya mengikutinya dari belakang dan itu membuat semua teman teman Ara bingung apa lagi Damian.


"Dit" panggil Damian.


"Hmm" jawab Andita dan menoleh ke arah Damian.


"Ara sama pak Nathan ada hubungan apa?" tanya Damian.


"Mereka suami istri" jawab Andita santai karna memang Ara tidak pernah melarang jika sahabatnya mengatakan yang sejujurnya. Mata Damian membulat sempurna dia terkejut akan jawaban yang keluar dari mulut Andita.


"Lo seriusan? sejak kapan mereka jadi suami istri?" tanya Damian masih belum percaya.


"Udah tiga bulan mereka nikah" jawab Andita.


"Semoga lo bahagia ra" guman Damian dan langsung melepaskan celemek yang ia gunakan dan langsung berlalu meninggalkan toko bunga itu dan menuju ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sana.


******


"Sayang aku pulang" ucap Vino saat sudah sampai di dalam apartemen mereka. Erina yang berada di dapur langsung menghampiri sang suami.


"Kenapa lama?" tanya Erina yang masih mengenakan celemek.


"Nathan jemput Ara makanya aku jalan kaki pulang" jawab Vino. Erina mendekat ke arah sang suami.


"Mereka udah baikan?" tanya Erina dengan wajah bahagianya.


"Udah kayaknya" jawab Vino.

__ADS_1


"Alhamdulillah" ucap Erina bahagia karna dia ingin sekali melihat sang sahabat bahagia.


"Kamu udah masak?" tanya Vino.


"Baru aja selesai.....ayo kita makan" ajak Erina. Vino hanya mengikuti sang istri. Sesampainya di dapur Erina langsung mengambil makanan untuk sang suami dan untuknya dan setelah itu dia duduk di kursi yang ada di sana dan mereka pun menyantap makanan yang di buat oleh Erina dengan sangat lahap.


******


"Sayang" panggil Nathan saat melihat sang istri sibuk dengan ponsel.


"Hmmmm ada apa?" tanya Ara menatap sang suami yang tengah mengemudi.


"Kamu kenapa sibuk banget sama ponsel?" tanya Nathan memanyunkan bibirnya.


"Kamu kan sibuk sama kemudi kan gak mungkin aku ajak kamu ngomong" jelas Ara.


"Apa kamu mau hamil sayang?" tanya Nathan menatap sang istri.


"Kenapa kamu malah nanya itu?" tanya Ara heran menatap sang suami.


"Sayang jawab aku" ucap Nathan langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan apartemen mereka.


"Ayo kita turun udah nyampe kan?" tanya Ara dan langsung membukakan pintu mobil dan langsung turun.


Nathan hanya mengikuti sang istri dari belakang dan mereka pun langsung menaiki lift. Di dalam lift hanya tercipta keheningan Ara menundukkan kepalanya bingung karna dia masih memikirkan ucapan sang suami.


"Apa aku harus hamil di usia semuda ini?" guman Ara bingung dan membayangkan sakitnya melahirkan karna dia pernah melihat Kya dulu saat melahirkan Rafael.


"Iiii" ucap Ara ngeri dan membuat sang suami yang mendengarnya terheran heran.


"Ada apa?" tanya Nathan kepada sang istri.


"Aku takut melahirkan" jawab Ara jujur dengan wajah takutnya.

__ADS_1


"Emangnya kamu pernah ngelihat orang melahirkan?" tanya Nathan menatap lekat sang istri. Ara mengangguk mengiyakannya.


"Kenapa kamu ngeliat nya? bukannya gak boleh orang yang belum pernah melahirkan ngeliat itu?" tanya Nathan heran.


"Aku gak sengaja denger waktu bibi Kya meraung waktu ngelahirin Rafael makanya aku liat" jelas Ara tanpa malu.


"Sayang sayang" ucap Nathan sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat sang istri yang nampak sangat menggemaskan itu.


Ting


Litf itu berhenti. "Ayo" ajak Nathan kepada sang istri dan menggenggam tangan sang istri. Ara tidak menolaknya dan malah dia mengikutinya.


Ara dan Nathan langsung masuk ke dalam apartemen mereka. "Nat" panggil Ara saat melihat sang suami melepaskan jas miliknya. Nathan menoleh ke arah sang istri yang seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Nathan berjalan mendekat ke arah sang istri dengandua kancing kemeja yang tidak di kancing dan itu menampakkan otot dadanya yang bisa menggoda seluruh wanita yang melihatnya.


"Apa bakalan cepet buat kita punya anak nanti?" tanya Ara karna dia belum mengetahui masalah itu dan dia menanyakannya kepada sang suami dan berharap Nathan mengerti dan menjawabnya.


"Aku juga gak tau setau aku kalo di antara kita ada yang mandul maka kita gak akan bisa milikin keturunan tapi kalo kita berdua sehat sehat aja kita cuma nunggu kapan Allah ngasih keturunan buat kita" jelas Nathan dengan melebarkan senyumannya.


"Gimana kalo aku gak bisa hamil? apa kamu mau nyari wanita lain dan nikah dengan dia buat ngedapetin keturunan?" tanya Ara sedih.


"Sampai kapanpun aku gak bakal cari wanita lain karna aku cuma cinta sama kamu" guman Nathan yang mengerti akan raut wajah sang istri dan dia tidak mau mengungkapkan apa yang ia katakan di dalam hati itu dan dia hanya ingin membuktikannya.


"Kalau begitu ayo kita nyoba" goda Nathan.


"Bukannya kamu mau mandi?" tanya Ara sedikit takut karna dia takut jika melakukannya lagi akan sakit seperti kemarin.


"Abis ini baru kita mandi" jawab Nathan dan langsung ******* bibir sang istri yang manis itu dan akhrinya merekapun melakukannya lagi malam itu.


Sudah sekitar dua jam mereka beradu di atas ranjang dan akhirnya merekapun sampai batasnya. "Kenapa rasa nya beda banget dari kemarin?" guman Ara dengan wajah yang memerah karna dia sangat menikmatinya.


"Terima kasih sayang" ucap Nathan sambil mencium pucuk kepala sang istri dan langsung memeluk sang istri. Ara tidak menolaknya dan malahan dia mempererat pelukannya dan langsung terlelap di dada bidang sang suami yang berkeringat itu. Nathan menyusul sang istri yang sudah berada di alam mimpi.

__ADS_1


Keesokan paginya


Ara terlebih dahulu bangun dari pada sang suami karna dia ingin ke kamar mandi. "Lega abis buang air kecil" ucap Ara dengan mengenakan baju handuk miliknya yang di letak di samping ranjang sejak kemarin malam.


__ADS_2