
"Erina sama Andita udah bangun?" tanya Ara menatap ke arah Vino karna dia tidak mendengar Erina maupun Andita yang terdengar memanggilnya ataupun ke dapur untuk makan.
"Mereka ke kamar lo tadi" jawab Vino dan langsung duduk di samping Ara dan sebelum itu dia mengambil makanan untuknya terlebih dahulu.
"Ra" panggil Erina. Ara menoleh ke arah sumber suara dan ternyata itu adalah kedua sahabatnya yang baru saja datang.
"Makan" perintah Ara kepada kedua sahabatnya itu.
"kenapa gak bangunin kita?" tanya Erina langsung mendudukkan tubuhnya di samping Andita yang duduk di depan Ara.
"Udah makan" jawab Ara datar. Vink sedari tadi menatap erina yang duduk tepat di depannya.
Erina dan Andita pun mengambil makanan masing masing dan setelah itu mereka berduapun menyantap makanan yang sudah dis sediakan itu. Hanya keheningan yang tercipta di meja makan itu karna tidak ada yang ingin berbicara termasuk Ara.
Ara langsung berdiri dari duduknya dan ingin keluar karna dia sudah selesai makan. "Mau kemana?" tanya Andita.
"Ke depan" jawab Ara datar dan langsung meninggalkan semua orang di dapur yang belum selesai makan termasuk Nathan.
"Aneh banget dia" ucap Erina karna memang tidak biasanya Ara seperti itu.
Sesampai di depan Ara langsung menggerakkan tubuhnya seperti orang berolahraga. Setelah beberapa saat dia menggerakkan tubuhnya dan merasa jika tubuhnya sudah sedikit segar dia langsung mendudukkan tubuhnya di ayunan yng ada di halaman itu dan sedikit menggoyangkannya.
"Hari ini gue bakal ninggalin indonesia" ucap Ara sambil memejamkan matanya dan menghirup udara pagi itu yang nampak sangat segar.
"Gue gak usah kasih tau kali ya sama Andita sama Erina biar mereka tau sendiri" guman Ara bingung.
"Hey" panggil Nathan yang baru saja keluar dan mendudukkan tubuhnya di ayunan yang ada di samping Ara. Ara menoleh sebentar ke arah Nathan dan setelah itu dia kembali menatap ntah kemana.
"Gak pulang?" tanya Ara kepada Nathan tanpa menatap Nathan.
"Nungguin Vino" jawab Nathan.
Hening..
Hening...
"Ra" panggil Vino yang baru saja sampai di depan dan dia juga baru selesai makan sedangkan Erina Andita mereka membereskan bekas makan.
"Kenapa manggil gue" ketus Ara menatap sekilas dan setelah itu kembali menatap ke sembarang arah.
__ADS_1
"Lo masih ada utang sama gue" ucap Vino. Ara langsung menatap bingung ke arah Alfin begitupun dengan Nathan.
"Utang apaan?" ketus Ara kepada Vino. Vino berjalan dia memegang tali ayunan yang Ara naiki dan dia menatap lekat wajah Ara sedangkan Nathan menatap tak suka akan pemandangan itu.
"Mau ngapain lo hah" teriak Ara kepada Vino tapi Vino tetap tak bergeming.
"Lo gak inget waktu itu gue bilang sama lo kalo lo harus ngasih nomor temen lo sama gue" jelas Vino dengan nada rendah tapi Nathan bisa mendengarnya.
Ara mengingat ingat perkataan Vino itu dan akhirnya dia ingat waktu itu Alfin meletakkan kartu namanya di saku jas kimianya.
"Temen gue yang mana?" tanya Ara membalas tatapan Vino.
"Erina" jawab Vino.
"Lo suka sama Erina?" teriak Ara. Vino langsung membekap mulut wanita yang di hadapannya itu.
"Lepasin dia" ketus Nathan dengan menepis kasar tangan vino.
"Lo mau gue kehilangan nafas hah" ketus Ara lagi.
"Makanya gak usah teriak teriak" jawab Vino.
"Lo beneran suka sama Erina? Erina gak pernah pacaran" ucap Ara.
"Beneran lah masak gue boong" jawab Ara datar.
"Tulis nomor ponselnya disini" ucap Vino sambil menyodorkan ponsel miliknya kepada Ara.
"Lo jangan modusin dia...dia kalo udah suka sama orang susah buat ngelepasin orang itu" jelas Ara karna memang seperti itulah Erina.
"Lo aja yang gak tau gue...gue gak pernah mainin cewek" ketus Vino.
"Siapa?" tanya Ara.
"Gue lah" jawab Vino membanggakan diri.
"Yang nanya" ketus Ara sambil terkekeh begitupun dengan Nathan yang mendengarkan itu.
"Udah tulis cepetan" ketus Vino yang menghentikan tawa Ara. Arapun langsung mengetik nomor ponsel Erina di ponsel milik Vino.
__ADS_1
"Lah kok ada nomor Erina di ponsel lo?" tanya Ara kepada Vino dengan tatapan bingung begitupun dengan Nathan yang bingung kenapa nomor erina sampai ada di dalam ponsel Vino.
"Beneran itu nomor ponselnya?" tanya Vino kepada Ara. Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan Vino.
"Yaudah sini ponsel gue" ucap Vino dan merampas ponsel miliknya yng ada di tangan Ara.
"Eh jawab pertanyaan gue kenapa nomor ponsel Erina ada di ponsel lo hah?" ketus Ara.
"Kepo" jawab Vino dan langsung meninggalkan Ara dn Nathan yang sedang duduk untuk kembali ke rumahnya.
"Gue duluan Nat" teriak Vino saat lumayan jauh dari Nathan dan juga Ara.
"Ara kita mau pulang" ucap Andita saat sudah sampai di luar dan sudah selesai membersihkan bekas makan mereka diikuti oleh Erina di belakang. Ara langsung memeluk kedua sahabatnya itu mungkin karna dia ingin ke amerika hari ini makanya dia memeluk kedua sahabatnya itu.
"Kenapa?" tanya Erina dan juga Andita bersamaan.
"Gue sayang sama kalian" ucap Ara dengan tangisnya.
"Kita juga sayang sama lo" ucap Erina dan mengeratkan pelukannya kepada Ara dan juga Andita begitupun dengan Andita.
Setelah beberapa saat mereka berpelukan dan di saksikan oleh Nathan Ara dengan cepat menghapus air mata yang sempat tumpah di pipinya itu. "Yaudah sana pulang" usir Ara kepada kedua sahabatnya itu.
"Dih kok jadi ngusir sih" ketus Andita.
"Gak usah banyak omong udah sana pulang" usir Ara lagi karna dia mau bersiap siap untuk berangkat dan tinggal menunggu paman dan bibinya pulang karna mereka tadi malam sempat berkomunikasi lewat telpon.
"Kita pulang" teriak Erina saat sudah berada di dalam mobil itu. Ara hanya menatap tanpa menjawab dan setelah itu mobil mereka pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah kakek Ara.
Ara ingin masuk ke dalam rumah dan waktu mengalihkan tubuhnya ke belakang dia hampir saja tertabrak dengan Nathan. "Lo belum pulang?" tanya Ara keada Nathan.
"Berani sendiri?" tanya Nathan.
"Siang bolong gini gak ada setan" jawab Ara seperti anak kecil.
"Emang berani sendiri di rumah?" tanya Nathan meyakinkannya.
"Berani lah....udah sana pulang" ucap Ara sambil mendorong tubuh kekar Nathan itu.
"Yaudah aku pamit" ucap Nathan dan langsung meninggalkan Ara.
__ADS_1
Ara tidak menjawab perkataan Nathan diapun menutup gerbang rumah itu dan setelah itu masuk ke rumah dan kembali ke kamarnya untuk bersiap siap berangkat.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaiannya dia langsung membawa koper dan barang barang miliknya kebawah tanpa di bantu oleh siapa siapa karna paman dan bibinya masih di dalam perjalanan pulang.