Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Nathan si donatur


__ADS_3

Di depan kelas ara erina dan juga Andita berpapasan dengan nathan Vino dan juga bu adriana yang belum pergi dari depan kelas mereka ntah apa yang mereka bicarakan. "Kalian kenapa keluar?" tanya bu adriana yang membuat ara, Erina dan juga Andita kaget.


"Auuu" ucap ara tiba tiba.


"Ara kenapa?" tanya bu adriana hawatir begitupun dengan nathan tapi dia tidak menanyakan hal itu.


"Kaki ara luka buk" jawab Andita yang ikut berakting.


"Kenapa bisa luka?" tanya bu adriana.


"Tadi waktu ibu ngebangunin saya jadi kepentok deh lutut saya sama meja" jawab ara berbohong. Nathan hanya menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.


Ara menatap ke arah nathan karna dia takut jika nathan mengatakan yang sebenarnya. Viona juga ikut menatap ara dan nathan secara bergantian tatapan mereka sangat tajam seperti tatapan membunuh.


"Yasudah cepat bawa ara ke UKS" ucap bu adriana hawatir. Erina dan Andita pun mengiyakan perkataan bu adriana dan segera membawa ara ke UKS sedangkan nathan masih menatap ke arah mereka bertiga.


"Dia kenapa bohong gitu?" guman nathan sambil menatap kepergian mereka bertiga.


"Bagaimana pak?" tanya bu adriana karna tadi mereka sudah berbincang di depan kelas mengenai siapa yang bisa di berikan biaya siswa dan bu adriana menyarankan ara karna memang ara adalah murid dengan IQ tertinggi di sekolah itu dan IQ nya mencapai 151 kebayangkan seberapa pintarnya seorang ara rianti.


"Tapi buk dia tidak memiliki sopan santun apakah berhak?" tanya viona yang membuat nathan tidak suka.


"Ara memang seperti itu bu viona....memang cara bicaranya seperti itu bu" bantah bu adriana.


"Tapi bu...." ucap viona terpotong oleh nathan.


"Nanti kita tentukan dari hasil nilai UN tertinggi jika nilainya yang tertinggi kita akan memberikan biaya siswa kepada nya" bantah nathan kesal tapi masih sopan.


"Baik pak" jawab viona akan perkataan nathan.


Ara baru saja sampai di ruang UKS dengan di antarkan oleh Erina dan Andita. "Kenapa kalian ke UKS?" tanya dokter alma kepada Erina dan yang lain.


"Ini kaki ara luka buk dokter" jawab Andita dan langsung membaringkan ara di atas kasur pasien di UKS itu.


"Beneran luka? gak mau tidur?" tanya dokter alma karna memang jika ketiga sejoli itu ke UKS pasti ingin tidur dan dia juga tidak bisa melarang mereka karna dia tidak ada hak karna tugasnya adalah memeriksa anak anak yang sakit bukan memaksa anak anak untuk belajar.


"Ara beneran sakit lo buk" ucap Erina.


"Mana mungkin saya percaya" jawab alma tanpa menoleh ke arah mereka.


"Makanya ibu liat dulu" ucap Erina lembut dan alma langsung menatap ke arah mereka dan benar saja ara memang terluka.


"Beneran kalian ya....kenapa bisa luka?" tanya alma panik dan langsung mengambil peralatan untuk mengobati ara.

__ADS_1


"Orangnya aja gak tau kenapa bisa lupa buk apa lagi kita" jawab Andita.


"Kenapa luka ara?" tanya alma kepada ara.


"Gak tau juga bu" jawab ara.


"Coba di inget inget" ucap alma sambil mengobati luka di lutut ara.


"Ara juga gak inget bu yang ara inget waktu ara bangun tadi pagi abis itu nathan buka pintu dan pintu kena kaki ara abis itu ara liat kaki ara udah luka buk" jelas ara panjang lebar dengan sejujur jujurnya.


"Hah nathan?" tanya Andita bingung.


"Kenapa?" tanya ara bingung.


"Nathan si donatur?" tanya Andita sedikit tak percaya. ara hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Andita. Andita sedikit terkejut begitupun dengan Erina dan juga alma.


"Kenapa nathan buka pintu kamar lo? dia tinggal di panti juga?" tanya Andita lagi penuh selidik.


"Enggak dia gak tinggal di panti" jawab ara jujur. Andita ingin melanjutkan pertanyaanya tapi ponsel yang ada di dalam saku nya berbunyi dan itu membuatnya mengurungkan niat untuk bertanya lebih lanjut kepada ara.


"Paman rizal?" ucap Andita.


"Siapa?" tanya ara kepada Andita.


"Halo paman" ucap andita saat mengangkat telpon dari rizal.


"Andita ara dimana? dia baik baik aja? tadi paman udah hubungin ponselnya berkali kali tapi gak di angkat" tanya rizal hawatir akan keadaan keponakannya itu.


"Ara baik baik aja paman....ini dia sama kita" jawab Andita menoleh ke arah ara.


"Kenapa?" tanya ara kepada Andita tapi Andita tidak menjawab pertanyaan ara.


"Mana dia kasih telponnya sama dia" perintah rizal Andita pun langsung memberikan ponsel miliknya kepada ara.


"Ini paman mau ngomong sama lo" ucap Andita sambil menyodorkan ponsel miliknya ke ara.


Ara meneriman ponsel itu.


"Halo paman" ucap ara saat meletakkan ponsel milik Andita di telinganya.


"Kamu baik baik aja sayang? kamu kenapa gak jawab telpon paman?" tanya rizal kepada ara dengan nada hawatir.


"Ara baik baik aja paman" jawab ara tenang.

__ADS_1


"Kenapa tadi malam buru buru pulang? trus telpon dari paman kenapa gak di jawab?" tanya rizal lagi yang membuat ara ingat akan tas nya yang tertinggal di atas meja di hotel C.


"Kemaren ara udah capek banget makanya ara pulang duluan dan soal telpon paman yang gak ara angkat ara rasa asti tas sama ponsel ara ketinggal di tempat lamaran sheyla kemarin" ucap ara merengek kepada riza.


"Kenapa bisa tinggal sih nak?" tanya rizal heran.


"Tapi ara belum tau juga...nanti ara liat ke sana" jawab ara.


"Yaudah kamu hati hati" ucap rizal.


"Paman tinggal dimana?" tanya ara karna dia berniat untuk menemui rizal.


"Paman di rumah kakek" jawab rizal karna memang setiap dia pulang ke indonesia pasti dia tinggal dirumah orang tuanya.


"Beneran?" tanya ara memastikan.


"Iya sayang kenapa emangnya?" tanya rizal.


"Nanti ara mau kesana boleh?" tanya ara dengan nada polosnya.


"Haha boleh lah sayang....paman malah seneng kalo kamu main kesini kalo perlu nginep disini" jawab rizal sedikit terkekeh akan pertanyaan keponakannya itu.


"Yaudah nanti ara kesana ya" ucap ara dan rizal hanya mengiyakan dan mereka pun langsung mematikan telpon yang masih terhubung itu bersamaan.


"Eh kalian ada bawa tas gw?" tanya ara langsung saat panggilan sudah tidak terhubung lagi.


"Gak kita langsung nyariin lo tadi malam" jawab Andita datar.


"Eh gw sriusan lin Gausah becanda" ucap ara dengan mata yang berbinar karna itu adalah pengobat sedihnya.


"Sriusan" jawab Andita kembali.


Hikssss.....Hiksss...


Ara langsung menangis ketika mengetahui ponselnya hilang karna di dalam ponsel itu banyak sekali hal hal yang sangat penting di hidupnya bukan masalah ponsel atau apa tapi kenangan di dalam itu yang membuatnya menangis. Dia menangis juga bukan karna kehilangan ponsel saja tapi dia mengingat ucapan teo tadi malam tapi dia dia tidak ingin memberitahu masalah ini kepada siapapun termasuk amel elin dan juga pamannya. Dia juga tidak ingin menanyakan hal itu kepada rizal pamannya karna dia ingin mencari tahu sendiri dulu nanti jika dia belum menemukan apa apa baru dia menanyakannya kepada rizal.


"Eh jangan nangis" ucap Anditadan langsung memeluk ara.


"Kalian tau kan kalo di dalam ponsel itu gw bisa ngilangin kesedihan gw" ucap ara kepada amel dan juga Andita.


"Iya kita tau....nanti kita coba cari sama sama" bujuk Erina keada ara.


"Gw beneran gak mau kehilangan kenangan itu semua Er, Dit..kalian tau kan Hikssss...Hikkkkssss" ucap ara dan kembali menangis di dalam pelukan Andita dan juga Erina.

__ADS_1


__ADS_2