
"Beruntung banget Nathan ngedapetin dia dan dari pada dia sama dokter yang waktu itu lebih baik dia sama Nathan" jelas Barqi mengingat ingat Aldi si dokter sombong.
"Dokter siapa maksud lo?" tanya Ardi.
"Ada dokter waktu itu dateng kesini sama Ara dan dia gak mau jabat tangan sama kita" jawab Reza. Ardi mengangguk mengerti akan ucapan dari kedua temannya itu
Di dalam kamar Nathan tak henti hentinya membujuk sang istri untuk pulang bersamanya tapi tetap saja sang istri tidak ingin pulang. "Jujur hati aku masih sakit waktu kamu buang album punya aku" guman Ara tanpa menatap sang suami.
"Kamu pulang aja" ucap Ara karna untuk saat ini dia malas melihat sang suami.
"Kamu ikut aku?" tanya Nathan yng sangat berharap jika sang istri ingin ikut pulang bersamanya. Ara menggelengkan kepalanya dan ingin berlalu karna sudah terdengar adzan isya.
Ara mengenakan mukena nya dan berlalu meninggalkan Nathan yang masih menatapnya. "Gimana cara bujuk dia?" guman Nathan karna dia baru kali ini membujuk wanita karna sebelumnya dia lah yang di bujuk oleh wanita.
Nathan langsung keluar dari kamar sang istri dan langsung turun saat turun dia melihat sang istri tengah mengobrol bersama dengan Wulan istri Ardi. "Maafin aku waktu itu ya gak bisa nolongin kamu" ucap Wulan berulang kali saat mengingat kejadian yang hampir 5 tahun lalu.
"Itu udah lama banget.....aku juga udah gak inget kapan itu" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Lagi pula kan ngelahirin Deri lebih penting ya kan sayang" ucap Ara sambil mencubit pipi gembul anak Ardi dan Wulan karna tadi Wulan sudah menceritakannya semua kepada Ara kenapa dia tidak menolong Ara. Wulan hanya menanggapinya dengan senyuman dan membenarkan ucapan yang di katakan oleh sang suami yang mengatakan bahwa Ara memang baik.
"Yaudah aku ke mushola dulu" ucap Ara karna tadi dia sempat melihat sekilas sang suami yang sedari tadi menatapnya. Wulan mengangguk mengiyakannya sedangkan Ardi dan yang lainnya mereka sudah terlebih dahulu ke mushola dan Wulan dan Diana lah yang tinggal untuk menjaga anak anak mereka.
Nathan mengikuti sang istri dan ikut melaksanakan sholat isya. Setelah sholat isya Ara membereskan mukenanya dan kembali turun ke bawah dan masih melihat sang suami yang sedang mengobrol dengan Ardi dan yang lain. Ara tidak memperdulikannya dan dia membuka kotak nasi yang sudah ada di ruang makan mereka.
"Siapa yang pesen nasi kotak?" tanya Ara menyingkap nasi kotak yang berisi nasi biasa dan lauknya ayam.
__ADS_1
"Bos kita" jawab Reza.
"Ardi?" tanya Ara. Reza mengangguk mengiyakannya. Ara tidak melanjutkan percakapannya lagi dan mengambil satu nasi kotak.
"Eh tungguin orang" ucap Barqi yang melihat Ara sudah membuka nasi kotak.
"Ini orang dateng semua" jawab Ara karna memang anak anak panti sudah berkumpul sejak tadi.
"Suami lo sama kita aja belum disini tadi" ucap Barqi. Ara tidak menjawabnya dan melahap makanan miliknya.
"Iiiihh rakus lo" ucap Reza saat melihat Ara makan dengan sangat lahap.
"Ini nak" ucap Fatimah menyodorkan satu kotak nasi kepada Nathan.
"Gak usah repot repot bu....saya bisa ambil sendiri" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya sedangkan Ara dia hanya menatap sekilas wajah sang suami dan kembali menyantap makanannya.
"Qi mana buku lo mana biar gue koreksi" teriak Ara dari atas karna memang mereka sekarang berada di atas.
"Cari aja di sana" teriak Barqi kembali. Ara masuk ke dalam kamar Barqi dan mengambil beberapa buku yang ada tugas tugas Barqi. Ara mendudukkan tubuhnya di meja belajar Barqi dan memindahkan laptop Barqi ke atas ranjang karna Ara yakin pasti Barqi nanti akan belajar.
Nathan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap sang istri yang sedang fokus mengoreksi jawaban Barqi dengan menggunakan kaca mata karna dia takut penglihatannya tambah rusak jika tidak menggunakan kacamata saat belajar.
Barqi masuk ke dalam kamarnya dan berniat ingin melanjutkan belajarnya tapi dia melihat Ara dan Nathan di dalam kamarnya yang sama sekali tidak memerhatikannya. Nathan sibuk memandangi sang istri sedangkan Ara dia fokus mengoreksi jawaban Barqi dengan menggunakan headphone milik Barqi.
Barqi masuk ke dalam kamarnya itu dan berniat ingin mengambilkan laptop miliknya dan Nathan tersadar akan Barqi. "Lanjutin aja...biar gue tidur di kamar sebelah" ucap Barqi kepada Nathan sambil melebarkan senyumannya. Nathan membalas senyuman Barqi yang mengerti akan keadaannya sekarang tanpa di beritahu ataupun apa.
__ADS_1
Barqi hanya tersenyum dan langsung mengambil laptopnya dan berlalu keluar masuk ke dalam kamar Ara yang terletak di sebelah kamarnya. Barqi kembali melanjutkan belajarnya yang terjeda tadi.
"Ara" panggil Ardi masuk ke dalam kamar Barqi dan dia melihat Nathan yang menatap ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Ara melepaskan headphone yang melekat di telinganya dan menatap ke arah Ardi.
"Gue sama Wulan mau pamit pulang" jawab Ardi menatap Ara.
"Kok cepet banget?" tanya Ara kepada Barqi.
"Udah malem juga....lo juga kayaknya banyak kerjaan" jawab Ardi.
"Yaudah hati hati" ucap Ara dan kembali mengenakan headphone itu dan melanjutkan mengoreksi jawaban Barqi.
"Saya permisi pak" ucap Ardi sopan sambil melebarkan senyumannya. Nathan membalas senyuman ramah Ardi dan Ardipun langsung keluar dan berpamitan dengan orang orang panti.
Nathan kembali menatap lekat sang istri yang sama sekali tidak terlihat lelah itu sedangkan dia sudah mengantuk akibat menunggu sang istri. Nathan tertidur di atas ranjang itu dengan bersender dengan bantal yang terletak di atas pahanya karna terlalu lelah menunggu sang istri. Sedangkan Ara dia masih belum mengantuk dan masih segar untuk mengoreksi jawaban Barqi.
Sudah tiga jam Ara mengoreksi jawaban milik Barqi dan itu masih tersisa mata pelajaran matematika yang membutuhkan waktu lama untuk mengoreksinya dan jam juga sudah menunjuk pukul dua belas malam. Ara langsung tertidur dengan kepala yang terletak di atas meja dengan headphone yang masih melekat dan pena yang juga masih melekat di tangannya.
Nathan terbangun dari tidurnya dan melihat sang istri yang membungkuk dan akhirnya dia berdiri dan berjalan ke arah sang istri. "Ketiduran" ucap Nathan sambil menyibak rambut sang istri dengan senyum yang mengembang.
Nathan melepaskan headphone yang di kenakan sang istri dengan pelan dan meletakkan pena yang di tangan sang istri kembali ke tempatnya setelah itu dia menggendong sang istri dan membaringkan wanita itu di atas ranjang.
***Jangan lupa mampir ke novel terbaru author ya readerš¤
__ADS_1
Mkasih buat yang selalu ngedukung authorā¤***