
Ara masuk ke dalam kamar di mana Okta dan Yuna berada. "Hey" sapa Ara kepada Okta dan Yuna, Okta menoleh ke arah ibu nya itu.
"Mama" jawab Okta dengan senyum yang melebar menatap Ara, Ara membalas senyuman itu dan mendudukkan tubuh nya di antara Yuna dan juga Okta.
"Dimana papa?" tanya Okta kepada Ara.
"Papa mu masih di sebelah" jawab Ara akan pertanyaan Okta itu.
"Ibu" panggil Yuna kepada Ara. Ara menoleh ke arah Yuna.
"Apa benar papa Okta adalah papa ku?" tanya Yuna kepada Ara karna tadi Okta yang bercerita kepada nya. Ara tidak tau ingin menjawab apa akan pertanyaan anak nya itu dan memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Kalian sedang bermain apa?" tanya Ara kepada anak nya itu.
"Kami sedang mendengarkan ini" jawab Yuna akan pertanyaan ibu nya itu. Ara mengangguk mengerti saat melihat itu dan setelah itu dia menoleh ke arah Okta yang mengerti dan memahami Yuna. Ara tersenyum menatap Okta dan mengusap lembut kepala anak itu.
"Dia seperti nya sangat senang saat mengetahui aku akan menjadi ibu nya" guman Ara dengan menatap lekat Okta. Nathan yang berada di dekat pintu tersenyum melihat sang istri yang sangat ramah dan seperti nya sayang dengan Okta meskipun Okta bukan anak mereka berdua tapi mereka berdua tetap menyayangi Okta.
"Aku sudah lama tidak bertemu bunda" guman Ara yang baru ingat akan Nita dan dia merindukan Nita dan juga Andre. Ara menoleh ke belakang berniat untuk mencari suami nya dan dia langsung melihat suami nya di dekat pintu.
"Hey" sapa Nathan dengan melambaikan tangan nya kepada sang istri.
"Bunda dan ayah dimana?'' tanya Ara kepada sang suami dengan menatap lekat suami nya itu.
"Kau masih ingat dengan mereka?" tanya Nathan dan berjalan mendekat ke arah istri dan anak anak nya itu.
"Memang nya aku kau yang mudah lupa dengan orang" ketus Ara dan membuang pandang nya dari sang suami. Nathan sudah sangat lama tidak melihat wajah yang selalu kesal dan ucapan yang selalu ketus itu.
"Bunda di jakarta begitupun dengan ayah, Mereka tidak kemana mana tidak seperti mu" jawab Nathan dengan melirik ke arah istri nya itu. Ara kembali menoleh ke arah suami nya itu.
__ADS_1
"Kau menyindirku?" tanya Ara dengan volume sedikit meninggi kepada suami nya itu.
"Pikir saja sendiri, Em" jawab Nathan dan langsung menggendong Yuna sang anak kandung yang baru ia temui.
"Kau tidak merindukan ayah?" tanya Nathan kepada Yuna yang ada di atas nya itu.
"Aku tidak bisa melihat ayah, Bagaimana cara nya aku bisa merindukan ayah?" tanya Yuna kepada Nathan dengan tatapan yang entah kemana. Ara tersentak kaget saat mendengar ucapan anak nya itu begitupun dengan Nathan yang juga kaget mendengar jawaban anak nya itu. Nathan kembali duduk sempurna dan meletakkan Yuna di atas paha nya, Nathan menoleh ke arah sang istri yang nampak sedih mendengar ucapan Yuna, Ara yang merasa air mata nya ingin jatuh pun langsung menundukkan kepala nya dan tidak ingin menangis.
"Hey kenapa kau berbicara seperti itu? bukan kah kau kemarin bisa menebak jika aku adalah ayah mu?" tanya Nathan kepada Yuna dengan menatap lekat Yuna.
"Aku juga ingin melihat wajah kalian tapi aku tidak bisa dan aku hanya bisa meraba wajah kalian ini" jawab Yuna dan meraba Wajah Nathan.
"Hey bukan kah kau waktu itu tidak pernah mengeluh hem?" tanya Ara kepada anak nya itu dengan menatap lekat anak nya itu, Nathan menatap istri nya yang menahan air mata itu.
"Karna waktu itu aku belum menemukan ayah dan sekarang aku sudah menemukan ayah, Aku ingin melihat wajah kalian seperti apa" jelas Yuna.
"Iya nanti kau pasti akan bisa melihat, Tapi kau harus berjanji kepada ibu untuk tidak berbicara seperti tadi lagi yah?" ucap Ara dengan senyum yang mengembang menatap anak nya yang sedang ada di pelukan suami nya itu.
"Pasti berat bukan untukmu membesarkan Yuna sendiri?" guman Nathan dengan menatap lekat wajah istri nya itu.
Dritttt
Ponsel Nathan berbunyi dan itu membuat nya harus mengambil ponsel nya, Ara mengambil alih Yuna dari Nathan.
"Bunda" nama yang tertera di layar ponsel nya.
"Siapa?" tanya Ara kepada Nathan.
"Bunda" jawab Nathan akan pertanyaan sang istri. Nathan langsung mengangkat telpon dari ibu nya itu.
__ADS_1
"Halo bunda" ucap Nathan saat telpon sudah terangkat.
"Nathan kau kembali lah sekarang ke jakarta dan ajak Okta" ucap Nita dengan suara hawatir dan membuat Nathan bingung.
"Apa yang terjadi?" tanya Nathan kepada ibu nya itu.
"Delina kecelakaan dan dia meminta untuk bertemu dengan Okta" jawab Nita akan pertanyaan Nathan.
"Oh baiklah, Aku akan kembali ke jakarta sekarang" jawab Nathan dan langsung mematikan telpon nya begitupun dengan Nita yang juga ikut mematikan telpon.
"Ada apa?" tanya Ara kepada sang suami dengan menatap lekat suami nya itu.
"Delina kecelakaan dan dia ingin bertemu dengan Okta" jawab Nathan akan pertanyaan sang istri.
"Oh" jawab Ara mengangguk mengerti dan wajah nya nampak kecewa saat mendengar nama Delina.
"Kau juga ikut, Ayo" ajak Nathan dan menarik tangan sang istri. Ara tidak menjawab nya karna dia juga merindukan kota asal nya dan dia hanya mengikuti Nathan.
"Ayo nak kita harus pulang ke jakarta" ajak Nathan kepada Okta.
"Kenapa pa?" tanya Okta kepada Nathan.
"Nanti papa akan menjawab nya" jawab Nathan dan langsung mengambil kunci mobil nya dan setelah itu mengambil alih Yuna dari Ara. Ara tidak menjawab nya dan menggendong Okta karna mereka sedang terburu buru. Mereka berempat turun dari lantai atas, Sesampai di bawah mereka bergegas dan masuk ke dalam mobil. Nathan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju ke jakarta.
Ara mengambil ponsel nya yang ada di dalam tas nya dan langsung menghubungi Roky.
"Halo kak, Ara akan ke jakarta malam ini karna ada urusan mendesak, Besok Ara akan pulang insya allah jika urusan di jakarta sudah selesai" jelas Ara saat telpon sudah terhubung.
"Hem baiklah, Jangan lupakan kami" jawab Roky dan langsung mematikan telpon itu begitupun dengan Ara.
__ADS_1
"Mana mungkin aku melupakan orang yang sudah membantuku" guman Ara dengan senyum yang mengambang menatap poto profil Roky.
"Kenapa kau tersenyum? berbalas pesan dengan siapa hem?" tanya Nathan dengan menatap lekat istri nya itu.