
"Itukan kita Bukan dia" jawab Nathan akan ucapan sang istri.
"Tapi dia juga harus ikut" ucap Ara lagi dengan menatap lekat wajah sang suami.
"Iya tapi biarkan mereka membawa Yuna, Mereka pasti merindukan cucu nya" jawab Nathan lagi akan ucapan sang istri.
"Tapi bagaimana....." ucap Ara yang terpotong oleh Nathan.
"Dia nanti kita ajak bersama tapi lain waktu, Sekarang kita berdua saja" potong Nathan dan langsung menarik sang istri dan menuju lift dan menuruni lantai tiga. Ara tidak menjawab nya dan memilih untuk diam dan hanya melihat suami nya itu.
"Kenapa kau menatap ku?" tanya Nathan kepada sang istri yang menatap nya dengan tatapan lekat.
"Siapa yang menatap mu?" tanya balik Ara dan membuang wajah nya dari Nathan. Nathan tidak menjawab nya karna lift sudah terbuka dan sang istri juga sudah berlalu keluar dari lift itu, Nathan ikut keluar dari lift itu dan menyusul sang istri yang sudah berada di luar.
"Mau kemana kau?" tanya Nathan dengan berdiri di dekat mobil nya.
"Ke makam" jawab Ara dan menghentikan langkah kaki nya dan menoleh ke arah sang suami.
"Kau ingin jalan kaki?" tanya Nathan kepada sang istri. Ara mengangguk mengiyakan nya.
"Naik, Makam lumayan jauh dari sini" ucap Nathan dan langsung masuk ke dalam mobil, Ara tidak menjawab ataupun merespon dan dia juga tidak beranjak dari sana dan masih berdiri di dekat gerbang.
"Biar saya yang membuka nya pak" ucap Ara kepada satpam yang ingin membuka gerbang. Ara membuka pintu gerbang itu lebar lebar dan mobil Nathan pun keluar dari pekarangan rumah itu dan masih ada di depan. Nathan tersenyum melihat istri nya yang membuka gerbang itu karna mengingatkan nya akan kelakuan sang istri semasa sekolah saat dia ke sekolah sang istri dan sang istri lah yang membukakan gerbang untuk nya. Ara menutup kembali gerbang tadi dan berlari menghampiri mobil sang suami dan setelah itu masuk ke dalam nya.
__ADS_1
"Siapa yang mengizinkan mu masuk?" tanya Nathan datar kepada sang istri. Ara menatap ke arah suami nya itu dengan dahi yang mengerut.
"Yasudah aku akan keluar" ucap Ara yang ingin keluar tapi dengan segera Nathan menarik tangan wanita itu.
"Aku hanya bergurau" ucap Nathan dengan memegang tangan sang istri, Ara menoleh ke arah sang suami dengan menatap datar sang suami.
"Duduk lah kembali sayang" ucap Nathan dengan nada lembut nya kepada sang istri. Ara tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di samping kemudi, Nathan melepaskan tangan nya dari sang istri dan setelah itu dia langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke makam saat jam sebelas siang dan hampir jam dua belas siang.
"Ponsel mu selama ini kenapa tidak aktif?" tanya Nathan kepada sang istri. Ara menoleh ke arah Nathan dan baru ingat jika ponsel nya ia tinggalkan di dalam koper dan koper nya itu masih ada di bandung.
"Aku ingin melupakan kalian waktu itu" jawab Ara datar dan mengambil ponsel sang suami yang ada di dalam tempat ponsel di samping nya itu.
"Kenapa kau ingin melupakan kami?" tanya Nathan kepada sang istri.
"Karna aku masih kecewa saat itu saat mendengar kau menghamili Delina" jawab Ara dan membuka ponsel sang suami dan membuka bagian kamera untuk melihat bentuk wajah nya sekarang.
"Dulu bukan sekarang" potong Ara akan ucap sang suami itu. Nathan tidak menjawab nya karna mereka sudah sampai di pemakaman.
"Sudah sampai" ucap Nathan kepada sang istri. Ara menurunkan ponsel itu dan menoleh ke depan dan benar saja mereka sudah sampai di makam. Ara kembali meletakkan ponsel sang suami di tempat duduk nya di dekat tas nya dan setelah itu langsung beranjak turun dari mobil itu. Ara berjalan masuk ke dalam pemakaman itu begitupun dengan Nathan yang hnya mengikuti istri nya itu.
"Kenapa makam mereka sedikit berdebu?" ucap Ara saat melihat makam kedua orang tua nya dan Dewa sedikit berdebu.
"Pak Sunarto sudah meninggal beberapa tahun lalu" jawab Nathan yang bisa mendengar ucapan sang istri. Mata Ara membulat saat mendengar itu tapi dia memaklumi karna memang pak Sunarto sudah tua.
__ADS_1
"Benar?" tanya Ara kepada Nathan.
"Hem" jawab Nathan mengangguk mengiyakan nya.
"Anak nya bagaimana?" tanya Araagi kepada sang suami.
"Anak nya ada di panti asuhan mutiara dan istri nya pergi meninggalkan nya dan membawa harta yakni sertifikat rumah" jelas Nathan kepada sang istri.
"Kasihan sekali anak nya" guman Ara dan memilih untuk berdoa terlebih dahulu di hadapan makam kedua orang tua nya itu dan juga Dewa, Nathan juga ikut mengirimkan doa untuk saudara dan mertua nya itu bersama dengan istri nya.
"Maafkan Ara yang baru ke sini sekarang" guman Ara dengan mengusap lembut batu nisan sang ibu. Nathan bisa melihat jika sang istri merasa bersalah meninggalkan jakarta dan tidak menjenguk makam kedua orang tua nya.
"Aku akan membersihkan makam mama dan papa dan juga kak Dewa" ucap Ara yang ingin membersihkan makam itu.
"Makam ini penjaga nya jarang datang, Nanti saja kita membersihkan nya dan membawa peralatan dari rumah karna di sini tidak ada peralatan nya" jelas Nathan dengan menarik tangan sang istri yang baru saja ingin berlalu dari sana. Ara mengiyakan nya karna dia juga sedikit kelelahan hari ini dan dia juga berniat hari ini ingin mengunjungi panti.
"Yasudah ayo kita pulang" ajak Nathan kepada sang istri, Ara mengangguk mengiyakan nya dan berjalan bersama dan berpapasan dengan sang suami.
"Temani aku ke panti" ucap Ara dengan menatap lekat suami nya itu. Nathan mengangguk mengiyakan nya dengan senyum yang melebar. Sesampai mereka di dekat mobil mereka langsung masuk ke dalam mobil.
"Hampir saja" ucap Ara yang hampir menduduki tas milik nya dan ponsel sang suami, Ara menunggu di luar sebentar untuk mengambil ponsel dan tas nya itu dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam mobil itu dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi itu. Nathan kembali melajukan mobil nya menuju ke panti asuhan mutiara. Ara kembali memainkan ponsel sang suami.
Drittt
__ADS_1
Ponsel itu bergetar saat Ara memainkan nya dan terlihat nama Nita dan panggilan itu adalah panggilan vidio. "Siapa?" tanya Nathan dengan menatap sekilas sang istri dan setelah itu kembali pokus ke kemudi nya.
"Bunda" jawab Ara dan langsung mengangkat panggilan vidio dari mertua nya itu.