Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Semoga


__ADS_3

"Gak boleh ngebantah" potong Nathan dengan senyum yang mengembang sedangkan Ara dia terlihat kesal dan langsung berlalu dari ruang ganti itu dengan perasaan kesal dan kaki yang menghentak dan mulut yang tiada henti mengumpat sang suami.


"Apa apaan dia tadi bilang boleh sekarang bilang gak boleh" ketus Ara dengan mendudukkan tubuh nya di ayunan bulat di depan televisi. Nathan yang sudah selesai mengganti pakaiannya nampak menghampiri wanita nya itu.


"Apa yang kamu kerjain?" tanya Nathan lembut kepada sang istri saat melihat sang istri tengah memainkan ponsel. Ara tidak menjawab dan mendorong tubuh sang suami.


"Minggir" ketua Ara dan mengambil remot televisi dan menyalakan televisi itu. Nathan sudah menebak dari awal bahwa sang istri marah kepada nya pun memilih untuk mengikuti perkataan wanita itu dari pada dia tambah marah lagi kepada nya. Nathan memilih untuk mengambil laptop dan juga ponsel nya dan bekerja di kursi belakang sang istri.


"Kenapa dia ngacuhin aku?" guman Ara dengan menatap sang suami yang fokus akan laptop dan tidak mencoba menenangkannya ataupun berbicara kepada nya.


"Ada apa?" tanya Nathan yang mengetahui jika istri nya itu mengintipnya.


"Apa nya?" ketus Ara.


"Kamu kenapa ngeliat aku kayak tadi?" tanya Nathan kepada istrinya itu.


"Siapa yang ngeliat kamu?" tanya balik Ara. Nathan meletakkan laptopnya itu ke atas meja yang ada di depannya itu dan berjalan ke arah sang istri yang kembali masuk dan berlindung di dalam ayunan bulat itu.


"Kamu tadi ngeliat aku" jawab Nathan dengan menatap lekat wanita yang sedang duduk dan bersandar di dalam ayunan bulat itu.


"Aku gak ngeliat kamu" bantah Ara padahal dia tadi menatap lekat sang suami.


"Jangan bohong, Aku bisa ngeliat tadi" ucap Nathan.


"Minggir, Kamu ngehalangin aku" ketus Ara yang mengalihkan pembicaraan dan mencoba menggeser tubuh sang suami supaya bisa sedikit ketepi tapi usahanya itu tidak berhasil karna Nathan sedikit pun tidak berpindah dari sana.


"Kamu marah dengan aku karna aku gak ngebujuk kamu kan?" tanya Nathan dengan menatap lekat wanita nya itu.


"Buat apa aku marah?" tanya balik Ara.


"Keliatan dari wajah kamu kalo kamu itu marah karna gak di bujuk dan aku memilih buat kerja dari pada ngebujuk kamu" jawab Nathan.


"Aku gak marah, Udah sana kamu balik kerja lagi" bantah Ara.


"Aku gak mau kerja lagi" ucap Nathan.


"Kembali lah bekerja bukannya pekerjaan kamu lebih penting dari aku?" tanya Ara tanpa menatap lelaki nya itu.


"Siapa bilang jika pekerjaan aku lebih penting dari kamu?" tanya balik Nathan.

__ADS_1


"Aku" jawab Ara.


"Dari mana kamu tau?" tanya Nathan.


"Kamu memilih bekerja di banding ngebujuk aku yang lagi marah sama kamu, bukan kah itu sudah cukup menjelaskan jika kamu lebih mementingkan kerja dari pada aku?" jelas Ara jujur.


"Benar bukan dugaan aku" ucap Nathan.


"Dugaan apa?" tanya Ara.


"Kamu marah karna aku ngacuhin kamu" jawab Nathan dengan mencubit hidung sang istri akibat gemas.


"A....aku gak marah" bantah Ara gagu dan ingat akan kejujurannya tadi.


"Udah jangan ngebantah lagi, Sini" jawab Nathan dan menggendong sang istri paksa dengan gendongan depan karna Ara memang lebih suka di gendong seperti itu dari pada di gendong ala bridal.


"Lepasin aku" ucap Ara dengan berusaha lepas dari sang suami. Nathan tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi di dekat laptopnya tadi dan mendudukkan sang istri di atas pangkuannya.


"Gak ada gunanya kamu mau kerja karna aku juga udah menyuruh semua perusahaan buat nolak kamu" jelas Nathan.


"Kenapa kamu jahat banget sih?" ketus Ara.


"Karna aku gak mau kamu kerja, Makanya jangan macam macam sama aku" jawab Nathan mengancam sang istri. memang tadi siang saat sang istri sedang asik bermain dengan Andra, Nathan menyuruh Viona menghubungi seluruh perusahaan untuk tidak menerima Ara bekerja makanya dia tidak boleh Ara melihat ponsel nya tadi siang.


"Kamu bantu aku aja untuk membuat desain bangunan" jawab Nathan.


"Aku gak mau" jawab Ara.


"Jadi?" tanya Nathan.


"Aku mau kerja" teriak Ara.


"Kamu ngebantu aku membuat desain ini juga bekerja bodoh dan aku akan membayar nya jika desain mu itu bagus" jelas Nathan.


"Benaran?" tanya Ara dengan wajah bahagianya karna dia ingin menambah tabungannya. Nathan mengangguk mengiyakannya.


"Baik aku terima tawaran pekerjaan mu ini" jawab Ara dan ingin beranjak turun dari pangkuan sang suami tapi Nathan mencegahnya.


"Hey lepaskan" teriak Ara.

__ADS_1


"Mau kemana memangnya?" tanya Nathan menatap lekat sang istri dengan tangan yang melingkar di pinggang ramping itu.


"Bekerja" jawab Ara dan menatap kembali sang suami.


"Besok saja" jawab Nathan dengan menenggelamkan kepalanya di perut sang istri.


"Aku mau mencoba malam ini" bantah Ara dan mencoba menyingkirkan kepala sang suami dari perut nya tapi kepala itu sama sekali tidak bergerak dan beranjak.


"Jika uang saja semangat sekali" guman Nathan dengan wajah yang masih di perut sang istri.


"Kamu bekerja bila aku menyuruh mu" jawab Nathan tanpa menatap sang istri. Ara menatap tengkuk sang suami itu.


"Jika kamu tidak menyuruhku?" tanya Ara.


"Tidak usah bekerja" jawab Nathan dan mengusap kepalanya ke pertu sang istri dan itu membuat Ara geli dan darah menstruasinya keluar dengan deras.


"Hey lepaskan" ketus Ara yang tidak nyaman akan darah yang terus mengalir itu.


"Sebentar saja" bisik Natha dengan wajah sang masih tenggelam di perut datar istrinya itu.


"Aku ini sedang datang bulan, Lihat semakin lancar keluar gara gara kamu" ketus Ara, Nathan melepaskan kepalanya dan perut sang istri dan menatap lekat wanita itu.


"Kapan kita memiliki anak? Jika ada anak kan bisa kita bermain bersama" ucap Nathan yang nampak sedih. Ara tersentak kaget akan ucapan sang suami.


"Kamu sungguh ingin memiliki anak?" tanya Ara kepada sang suami. Nathan mengangguk mengiyakannya dengan menatap sedih ke arah sang istri.


"Bersabar lah, Tuhan akan memberikan kita anak secepatnya" ucap Ara lagi dan memeluk kepala sang suami dan menenggelamkannya di dada nya.


"Semoga" jawab Nathan dan membalas pelukan sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Maafin aku yang sudah menunda kehamilan, Aku akan berhenti memakan pil itu" guman Ara dan mengusap lembut kepala sang suami dan tanpa sadar air matanya menetes sendiri.


"Aku mencintai mu" guman nya kembali dan mencium kepala sang suami.


"Kamu harus menunggu, Aku akan memberimu anak" ucap Ara dengan mengusap lembut kepala sang suami. Nathan mengangguk mengiyakannya.


"Yasudah mari kita istirahat, ini sudah malam" ajak Ara yang ingin berdiri tapi Nathan kembali menahannya.


"Biar aku yang menggendong mu" jawab Nathan dan langsung menggendong sang istri ke arah ranjang. Nathan membaringkan sang istri di atas ranjang dan setelah itu dia ikut membaringkan tubuh nya di samping sang istri.

__ADS_1


Ara nampak menatap langit langit kamar nya itu dengan pikiran yang di penuhi oleh ucapan sang suami. "Apa ini akam baik baik saja?" guman Ara.


"Kamu memikirkan apa?" tanya Nathan dengan memeluk tubuh sang istri.


__ADS_2