
"Ini" ucap Nathan sambil menyodorkan kartu itu kepada istrinya. Ara ingin mengambilnya tapi Nathan masih memegang erat edicard itu. Ara menatap ke arahnya dan melototkan matanya. Nathan terkekeh melihat itu dan melepaskannya. Arapun mengenakan edicard itu.
Nathan berlalu dan kembali ke kursinya. "Baik hari ini saya akan menemani kalian ke tempat kontruksi" ucap Nathan dan menatap istrinya itu yang nampak masih cemberut.
Nathan dan semua orang yang ada di dalam rungan itu keluar dan Ara berjalan paling belakang karna dia malas melihat suaminya itu. Nathan menghentikan langkahnya.
"Kenapa pak?" tanya Jenny kepada Nathan.
"Kalian duluan saja" jawab Nathan dan masih berdiri di sana sambil menunggu istrinya itu. Semua orang berlalu pergi dan Ara ingin ikut juga tapi Nathan dengan segera menarik tangan istrinya itu.
"Kenapa?" tanya Ara menatap tak suka ke arah Nathan.
"Kenapa gak bilang kalo kamu magang di perusahaanku?" tanya Nathan kepada istrinya itu.
"Aku kalo tau aku magang di perusahaan kamu aku tolak dari awal" ketus Ara.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Aku gak mau" jawab Ara dan menepis tangan suaminya itu yang melekat di tangannya.
"Tunggu" teriak Nathan dan langsung menyusul istrinya itu.
Semua orang menaiki kendaraan umum untuk pergi ke tempat pembangunan tapi tidak dengan Ara dan juga Andita yang menumpang mobil yang di kendarai oleh Alfin dan Viona menaiki kendaraan umum.
"Mobil kamu mana?" tanya Nathan kepada Ara. Ara tidak menjawabnya dan memilih mendengar lagu dan mengenakan henset.
"Kalo orang nanya itu di jawab" ketus Nathan dan melepaskan henset yang ada di telinga istrinya itu.
"Apa?" ketus Ara yang pura pura tak tau apapun.
"Mobil kamu mana?" tanya Nathan kembali.
"Mobil di kampus" jawab Ara datar.
"Kenapa gak di bawa malah naik kendaraan umum?" tanya Nathan menatap lekat istrinya itu karna memng mereka berdua duduk di kuris belakang dan Andita, Vino duduk di kursi depan.
__ADS_1
"Semua orang naik kendaraan umum masa aku sendiri yang naik kendaraan pribadi" jawab Ara.
"Udah sampai" ucap Vino dan langsung turun dari mobil begitupun dengan Andita. Ara ingin keluar tapi Nathan mencegahnya dengan memegang tangannya.
"Lepasin aku mau turun" ucap Ara datar.
Cup
Nathan langsung mencium bibir istrinya itu dan tidak ada yang melihatnya. Ara meronta ronta dan berusaha melepaskan ciuman itu tapi Nathan tidak memperdulikannya.
Nathan tak tinggal diam saat melihat istrinya itu tak merespon ciumannya dan akhirnya dia menggigit pelan bibir itu sampai akhirnya terbuka. bibir Nathan menjelajahi mulut wanita itu dan Arapun sudah terbawa suasana karna kelembutan yang di berikan oleh suaminya itu.
"Ini punya aku" ucap Nathan saat melepaskan ciuman itu.
"Jelas jelas ini bibir aku kenapa kamu yang ngaku ngaku hah?" ketus Ara.
"Itu udah jadi punya aku" jawab Nathan dan mencium sekilas bibir manis milik istrinya itu.
"Ayo turun" ajak Nathan. Ara tidak menjawab perkataan suaminya itu dan langsung keluar terlebih dahulu.
Ara mengikuti Nathan dari belakang karna dia tidak mau orang melihatnya. "Pak" sapa Viona saat melihat Nathan sudah berdiri di dekatnya.
"Ini pak topinya" ucap salah satu tukang memberikan topi kepada Nathan.
"Terima kasih" jawab Nathan. tukang itupun berlalu dan kembali melanjutkan perkerjaannya.
"Ngapain emang kita kesini pak?" tanya Ara karna memang dia belum mengetahui tujuannya ke pembangunan itu.
"Bukannya kalian ingin meneliti di sini?" tanya Nathan.
"Iya pak" jawab Jenny.
"Yasudah ini pakai topi pelindung untuk kalian" ucap Nathan sambil menyodorkan topi itu kepada Jenny dan menyisakannya satu untuk istrinya.
"Ini untuk kamu" ucap Nathan dan menyodorkan topi pelindung itu kepada istrinya.
__ADS_1
Ara tidak menjawab perkataan Nathan dan memilih untuk mengambilnya dan memakainya dan setelah itu dia langsung berlalu masuk ke dalam bangunan yang belum jadi itu tanpa memperdulikan dan menunggu orang lain.
Nathan yang hawatir jika terjadi sesuatu terhadap istrinya pun langsung mengikuti sang istri dan semua orang yang melihat itu bingung dan bertanya tanya tapi tidak dengan Vino dan Andita yang sudah mengetahui itu.
"Kamu jangan kebiasaan masuk sendiri ntar kamu kenapa kenapa lagi" ucap Nathan yang sudah berdiri di samping istrinya itu.
"Ngapain nyusul?" tanya Ara menatap Nathan sekilas.
"Kamu yang ngapain masuk ke sini" tanya balik Nathan.
"Mau neliti lah" jawab Ara.
"Kalian neliti di sini cuma satu hari" ucap Nathan.
"Kenapa satu hari? bukannya pak Tristan bilang satu bulan?" tanya Nathan.
"Itu kalian kerja di toko yang sudah di bangun sama perusahaan kita" jawab Nathan.
"Toko apa emangnya?" tanya Ara menatap sang suami.
"Toko bunga" jawab Nathan.
"Loh kok jadi ke toko bunga?" tanya Ara bingung.
"Iya toko bunga di sana kalian juga bakal belajar" jelas Nathan.
"Sumpah ya aku beneran gak ngerti kenapa bisa neliti di toko bunga bukannya kami ini jurusan arsitektur?" tanya Ara karna memang dia bingung.
"Aku juga gak tau tapi ini ak Tristan yang bilang sama aku...dia udah meating sama aku sama Vino juga" jelas Nathan.
"Terserah deh" jawab Ara dan kembali berlalu.
Semua orang yang meneliti pun langsung meneliti di sana begitupun dengan Ara dan sedari tadi Nathan hanya menatap sang istri yang nampak sangat pokus kepada pekerjaannya dengan senyum yang mengembang.
Setelah selesai meneliti di bangunan yang belum jadi itu Ara dan semua teman temannya berpamitan ingin kembali ke kampus dan besok mereka akan kembali ke toko bunga yang di katakan oleh Nathan tadi karna dia juga sudah menjelaskan kepada semua orang.
__ADS_1
Sebenarnya itu bukan permintaan pan Tristan melainkan permintaan Nathan karna toko bunga itu adalah miliknya dan toko itu juga tidak terlalu jauh dari perusahaannya dan dia ingin melihat istrinya itu menjaga toko bunga nya makanya dia seperti itu biarpun tidak masuk akal dengan jurusan yang ada.
Tapi itu juga termasuk penelitian yaitu meneliti masalah penjualan dan mereka juga harus belajar mengenal hal hak semacam itu dan di sana mereka juga pasti akan belajar dan bisa lebih leluasa mengambar bangunan impian mereka di sana karna di sana sejuk dan banyak bunga.