
"Turun" perintah Nathan kepada Ara.
"Auuu sakit" rengek Ara berpura pura karna dia malas turun dan dia juga suka di gendong seperti itu.
"Kenapa masih sakit?" tanya Nathan hawatir akan keadaan Ara.
"Iya makanya jangan suruh gue turun" jawab Ara.
"Yaudah gak usah turun" jawab Nathan.
"Nih orng mudah banget di kibulin" guman Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Kenapa senyum?" tanya Nathan karna dia bisa merasakan senyuman Ara itu.
"Siapa yang senyum?" ketus Ara kepada Nathan.
"Trus kamu mau kemana?" tanya Nathan.
"Turunin gue bentar" perintah Ara. Nathan langsung menurunkan tubuh Ara. Ara duduk di depan agar itu Nathan pun ikut berjongkok di dekat Ara.
Ara mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tasnya dan menelpon paman nya itu.
"Halo paman" panggil Ara saat panggilannya sudah di angkat.
"Kenapa nak?" tanya Rizal kepada Ara.
"Paman dimana?" tanya Ara. Nathan bisa mendengar itu dengan sangat jelas.
"Oiya paman lupa bilang sama kamu...paman ada urusan kayaknya malam paman pulang kamu ke rumah papi kamu dulu aja kalo gak mau kunci pager sama kunci rumah ada sama bu salamah" jelas Rizal.
"Mana mungkin Ara sendiri ngacok deh paman" ketus Ara seperti anak kecil.
"Yaudah kamu pulang kerumah papi kamu aja malam ini" ucap Rizal.
"Gue gak mau pulang ke rumah papi" guman Ara. Nathan bisa melihat kebingungan di wajah wanita yang ada di depannya itu.
"Ara di rumah temen Ara tapi nanti paman jemput Ara ya" ucap Ara.
"Iya nanti paman bakal jemput kamu emang rumah teman kamu dimana?" tanya Rizal kepada Ara. Ara bingung sekali ingin menjawab apa karna dia juga tidak tau ingin pergi kemana.
"Nanti Ara share lokasi nya" jawab Ara.
"Yaudah" ucap Rizal sambil mematikan ponselnya bersamaan dengan Ara.
"Gue mau kemana ya?" ucap Ara yang terdengar oleh Nathan.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Gak ini gue bingung mau kemana kalo ke rumah Erina pasti nanti malam dia ngajakin gue ke party sama kayak Andita" jelas Ara.
__ADS_1
"Rumah papi kamu?" tanya Nathan ragu. Ara menggelengkan kepalanya.
"Yaudah ke rumah bunda aja" ajak Nathan. Ara sebenarnya sangat suka jika di pertemukan dengan Nita tapi dia juga tidak enak jika harus menunggu disana.
"Gue gak enak sama bunda" jawab Ara. Nathan terkekeh mendengar itu.
"Kenapa gak enak?" tanya Nathan tanpa menghentikan tawanya.
"Ya gak enak aja...tapi tadi paman ada bilang sama gue kalo kunci rumah sama kunci pagar di titip sama bu Salamah di sebelah" ucap Ara sambil menunjuk ke arah rumah bu Salamah di samping rumah kakeknya.
"Trus?" tanya Nathan dengan menatap lekat wajah Ara.Nampak sekali dari raut wajahnya jika dia takut sendirian di rumah sebesar itu.
"Gue takut sendirian" jawab Ara sambil menundukkan pandangannya karna malu.
"Hahaha" tawa Nathan terpecah mendengar pengakuan dari Ara.
"Kenapa lo ketawa hah?" ketus Ara.
"Kamu juga bisa takut? seharusnya setan yang takut sama kamu bukan kamu yang takut sama setan" jawab Nathan dengan kembali terkekeh.
"Iiihhh gue sriusan" jawab Ara sambil mengerucutkan bibirnya. Nathan tidak menjawab perkataan Ara dia hanya tertawa tanpa henti.
"Atau gak lo temenin gue di rumah" ucap Ara yang membuat Nathan menghentikan tawanya.
"Mana boleh laki laki sama perempuan yang belum muhrim tinggal satu atap" bantah Nathan.
"Ya kan kita gak ngapa ngapain" jawab Ara.
"Nanti ni gerbang di buka lebar lebar trus pintu rumah juga di buka lebar lebar biar orang orang gak ngira kita bedua ngapa ngapain di dalem" jelas Ara.
"Tapi..." ucapan Nathan terpotong oleh Ara yang menggenggam tangannya.
"Gue mohon plis.." ucap Ara sambil memohon dan menggengam tangan Nathan dan memelaskan wajahnya berharap Nathan mau.
"Duduk di depan tapi ya" ucap Nathan.
"Eh tapi.." ucap Ara terpotong.
"Yaudah kalo gak mau aku pulang aja" potong Nathan.
"Iya iya" ketus Ara.
"Gendong gue buat minta kunci sama bu Salamah di sebelah" ucap Ara karna memang dia sangat suka di gendong.
Nathan hanya menuruti kemauannya dan menggendong Ara. Ara sngat merasa bahagia di gendong seperti itu Nathanpun langsung melangkah menuju rumah di samping rumah kakek Ara itu. Setelah selesai meminta kunci rumah dengan bu Salamah Nathan kembali menggendong Ara.
"Nat" panggil Ara saat berada di punggung Nathan.
"Hmm" jawab Nathan sambil melangkah pelan sekali keluar dari pekarangan rumah bu Salamah.
__ADS_1
"Lo tau gak gue suka banget di gendong kayak gini" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya. Nathan bisa merasakan senyuman dari wajah wanita yang mendekap di punggungnya itu.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Gue juga gak tau...dulu gue sering banget di gendong sama laki laki yang udah gue anggep kayak kakak gue sendiri" jelas Ara.
"Dimana dia sekarang?" tanya Nathan.
"Gue juga gak tau dimana keluarga mereka" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Udah sampe" ucap Nathan karna memang mereka sudah sampai. Ara membuka gerbang rumah itu tanpa menutupnya kembali karna itu janjinya dengan Nathan.
Nathan langsung masuk ke dalam pekarangan rumah itu dengan masih menggendong Ara.
"Bentar ya gue ganti baju dulu" ucap Ara dan langsung turun dari punggung Nathan.
"Kaki kamu gak sakit lagi?" tanya Nathan. Ara tidak menjawab perkataan Nathan dan langsung masuk ke dalam kamarnya dan menggantikan pakaiannya dengan baju santainya.
"Lo mau makan?" tanya Ara yang sudah sampai di dekat Nathan.
"Kamu ngagetin aja" ucap Nathan kaget.
"Maap" jawab Ara sambil melebarkan senyumannya.
"Lo mau makan?" tanya Ara.
"Boleh" jawab Nathan.
"Bentar gue beli di depan dulu" ucap Ara dan berlalu meninggalkan Nathan yang sedang duduk di teras rumah kakek Ara itu.
Nathan hanya menatap kepergian Ara. Dia tersenyum melihat Ara ntah apa yang ia senyumkan itu.
Drittt
Suara ponsel Nathan yang menandakan ada yang menghubunginya. Nathan langsung mengangkat telpon itu.
"Kenapa?" tanya Nathan langsung kepada orang yang menelpon itu.
"Lo dimana bunda nyariin lo" tanya Vino kepada Nathan di balik telpon itu.
"Gue di rumah kakeknya Ara" jawab Nathan.
"Ngapain lo disana?" tanya Vino.
"Ara sendirian di rumah makanya dia minta di temenin sama gue" jawab Nathan.
"Eh gak boleh cowok sama cewek yang belum muhrim satu rumah" ketus Vino di balik telpon.
"Gue juga tau makanya gue sekarang duduk di teras rumahnya bukan di dalam rumahnya bego" ketus Nathan kepada Vino.
__ADS_1
"Ooh yaudah gue nyusul kesana..gue juga ada urusan sama Ara" ucap Vino dan langsung mematikan telpon itu.
"Urusan apa dia sama Ara?" tanya Nathan kepada diri sendiri.