Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Sayuran


__ADS_3

Vino dan Erina sudah sampai di lantai tiga dan langsung masuk ke dalam kamar Nathan. "Dia kenapa kak?" tanya Erina kepada Nathan dan menatap sahabatnya itu.


"Tuan" ucap dokter Tama yang baru saja masuk ke dalam kamar itu. Tama adalah dokter pribadi keluarga pernandess sejak 10 tahun lalu dan dia juga sudah menikah dan memiliki dua anak dan anak anaknya itu sangat akrab dengan keluarga Adijaya begitupun dengan istrinya.


Tama memang sudah di anggap keluarga oleh Adijaya grup.


"Obati istri saya dok" perintah Nathan langsung dengan wajah yang nampak sangat hawatir. Tama langsung memeriksa Ara dan Erina berdiri karna dia mengerti Tama memerlukan tempat untuk memeriksa sahabatnya itu.


Sedangkan Nathan duduk dan menggenggam tangan istrinya itu dengan wajah yang sangat nampak hawatir. "Bagaimana dok?" tanya Nathan saat melihat Tama sudah selesai memeriksa istrinya itu.


"Sepertinya nyonya mudah telat makan tuan" jawab Tama. Nathan membulatkan matanya dan merasa bersalah karna dirinya lah istrinya itu terlambat makan.


"Dia punya penyakit magh dok?" tanya Nathan menatap lekat Tama karna dia takut jika istrinya itu kenapa napa.


"Tidak ada tuan dan nona juga sehat sehat saja tapi dia kekurangan asupan makanan hijau tuan" jelas Tama karna memang Ara sedikit kurang mau memakan sayuran.


"Terima kasih" ucap Nathan langsung dan kembali menatap lekat istrinya itu. Tama mengerti akan kehawatiran Nathan terhadap Ara dan diapun memilih untuk membiarkannya dan berpamitan dengan Vino.


Vino mengantarnya keluar kamar dan di dekat pintu kamar itu sudah terlihat bersih karna tadi bi Imah membersihkannya tanpa memberitahu.


Setelah selesai mengantarkan dokter Tama keluar kamar Vino kembali masuk untuk menemui calon istrinya yang masih berada di dalam kamar Ara dan juga Nathan.


"Vin suruh bibi masakin makanan buat Ara" ucap Nathan tanpa menatapnya dan matanya hanya terfokus ke wajah yang nampak pucat itu. Vino tidak menjawabnya dan langsung berlalu dan ingin keluar kamar.


"Suruh bibi masakin sayuran yang banyak" perintah Nathan lagi dan menatap Vino.

__ADS_1


"Ara cuma suka bayam kak" ucap Erina.


"Suruh bibi masakin sayur bayam banyak banyak" perintah Nathan dan kembali menatap istrinya itu.


Vino langsung menyuruh bi Hasnah untuk membuatkan makanan yang di suruh oleh Nathan tadi. Sedangakan Erina masih mencoba meletakkan tempat minya kayu putih dan membuka tutupnya dan meletakkannya ke hidung Ara supaya Ara bisa bangun dari pingsannya.


"Ra bangun" ucap Erina sedikit kelelahan karna memegang minyak kayu putih itu.


"Sini minyak nya" ucap Nathan. Erina langsung menyodorkan minyak kayu putih itu kepada Nathan.


"Hey bangun" ucap Nathan sambil meletakkan minyak kayu putih itu di dekat hidung istrinya dan berharap istrinya itu bangun.


"Ayo bangun" ucap Nathan yang masih hawatir karna istrinya itu belum juga terbangun.


"Minggir" ketus Ara sambil mendorong kepala suaminya tapi tidak terlalu keras dan dia berbicara juga tidak dengan nada meninggi karna dia belum terlalu kuat. Nathan yang mendengar suara istrinya itu dan merasakan ada yang mendorong kepalanya langsung membuka matanya dan melihat istrinya yang berusaha ingin duduk tapi sedikit kesusahan.


Nathan langsung membantu istrinya itu untuk duduk dan meletakkan bantal ke belakang tubuh istrinya itu. Ara menyenderkan tubuhnya di sana.


"Sayang" panggil Vino yang baru saja masuk ke dalam kamar Nathan. Ara yang tidak menyadari jika Erina ada di dalam sana langsung menoleh ke arah Vino dan juga Erina.


"Oiya gue baru inget...gue mau marahin lo kalo ketemu sama lo" ucap Ara yang masih sedikit lemah.


"Jangan ngabisin tenaga" ketus Nathan dan melirik datar ke arah istrinya itu.


Tok..tok..tok

__ADS_1


Ketus bi Hasnah dengan membawa nampan. "Masuk bi" perintah Nathan. bi Hasnah langsung masuk dan meletakkan makanan itu di lemari kecil di samping tempat tidur itu.


"Saya permisi tuan" ucap bi Hasnah.


"Makasih ya bi" ucap Nathan sambil melebarkan senyumannya. bi Hasnah membalasnya dengan senyuman dan setelah itu keluar dari kamar itu.


Nathan mengambil makanan yang di bawakan oleh bi Hasnah tadi dan memangku makanan itu di pahanya. "Buka mulut" perintah Nathan sambil menyodorkan sendok makan kepada istrinya itu.


Ara hanya menatap makanan yang ada di dalam sendok itu. "Gak ada ayam atau ikan?" tanya Ara menatap malas ke arah makanan yang hanya ada sayuran dan nasi putih saja tanpa ada lauk lauk lain.


"Kamu harus banyak makan sayur kata dokter" jawab Nathan.


"Gue gak suka kalo cuma makan ini" ucap Ara sambil melepaskan wajahnya berharap suaminya itu mengerti.


"Jagain dia jangan sampai dia kemana mana" ucap Nathan dan langsung berlalu dengan membawa piring milik istrinya itu ke bawah.


Sesampai di bawah Nathan langsung memasak ayam goreng untuk istrinya itu dan tadi pembantu ingin membantunya tapi dia melarang dan ingin memasak sendiri.


Setelah selesai memasakkan ayam dan memasukkanya ke dalam piring makanan istrinya itu dia kembali ke atas dan langsung masuk ke dalam kamar. Nathan langsung mendudukkan tubuhnya tepat di samping istrinya itu.


"Nat kita pergi dulu" ucap Vino karna dia tidak mau menyaksikan apa yang di lakukan oleh saudaranya itu biarpun hanya menyuapi Ara makan. Vino langsung berlalu dari kamar itu.


"Ra gue pamit...besok dateng" ucap Erina dan langsung berlalu menyusul calon istrinya itu.


"Kenapa kamu gak makan tadi? kenapa kamu malah ngurusin aku?" tanya Nathan di sela sela saat dia menyuapi istrinya itu makan.

__ADS_1


__ADS_2