
"Tapi kak aku beneran gak sanggup kalo liat Ara sedih...aku sayang sama dia" ucap Rizal sedih. Ara berusaha menahan tangisnya. Nathan sedari tadi menatap ke arah Ara tanpa di sadari oleh Ara.
Ara kembali melebarkan senyumnya dan kembali seperti semula seolah olah dia tidak mendengarkan apa apa. "Paman Ara pulang" ucap Ara dengan girang dan langsung masuk.
"Papi?" ucap Ara seerti orang yang tidak mengetahui apa apa.
"Kamu dari mana?" tanya Teo kepada Ara. Ara tidak menjawab perkataan Teo.
"Paman Ara ke atas" ucap Ara dan langsung berlalu diikuti oleh Nathan.
"Loh pak Nathan?" ucap Teo saat melihat Nathan masuk.
"pak Teo" ucap Nathan.
"Ayo" ketus Ara kepada Nathan.
"Saya permisi pak" pamit Nathan dan langsung mengikuti Ara kembali.
"Dia siapanya Ara zal?" tanya Teo kepada Rizal.
"Gak tau" jawab Rizal sambil mengangkat kedua bahunya karna memang dia tidak mengetahui siapa Nathan.
Di dalam kamar Ara. Ara langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
"Ini barang barang kamu" ucap Nathan yang masih berdiri di dekat pintu.
"Tarok disana aja" ucap Ara sambil menunjuk ke sembarang Ara tanpa menoleh ke arah Nathan.
"Lo pulang aja gue gak bisa nemenin lo kalo mau bertamu disini" jelas Ara tanpa menatap ke arah Nathan. Nathan mengerti akan itu pasti Ara masih sedih saat mendengar pernyataan Teo.
"Yaudah aku pamit" jawab Nathan. Ara tidak menjawab perkataan Nathan.
"Nat" panggil Ara yang langsung menatap ke arahnya.
"Hmm" jawab Nathan langsung berhenti dan menoleh ke arah Ara.
"Makasih ya" ucap Ara sambil melebarkan senyumannya kepada Nathan.
Sungguh sejuk sekali hati orang yang melihat senyuman itu karna memang senyuman itu nampak ikhlas dan sangat mempercantik wajah seorang Ara riyanti.
Nathan hanya membalasnya dengan senyuman dan langsung keluar dari kamar Ara dan dia tak lupa menutup pintu kamar Ara.
"pak Nathan mau kemana?" tanya Teo yang melihat Nathan turun dari tangga.
"Saya permisi ingin pulang pak" jawab Nathan.
__ADS_1
"Om saya pamit pulang" ucap Nathan dan mencium punggung tangan Rizal tapi tidak dengan Teo Nathan tidak memperlakukan Teo seperti dia memperlakukan Rizal.
Rizal hanya mengangguk mengiyakan dan setelah itu Nathan langsung keluardan menuju ke mobilnya setelah sampai dan masuk ke dalam mobil Nathan langsung melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah kakek Ara.
Di dalam kamar Ara terlihat masih merebahkan tubuhnya. "Huh" Ara mendengus kasar dan mencoba memejamkan matanya karna dia tidak mau menangis.
Di bawah Teo ingin berpamitan pulang. "Aku pulang dulu" ucap Teo dan langsung berdiri. Rizal hanya mengangguk mengiyakan perkataan kakaknya itu.
Teo langsung keluar dan menuju ke mobilnya dan setelah itu dia langsung melajukan mobilnya menuju taman untuk menjemput istrinya untuk pulang karna Windi Kya dan juga Rafael bermain di taman komplek.
"Sayang ayo kita pulang" ucap Teo yang baru saja samai dan langsung turun menghampiri istrinya dan juga Kya dan Rafael.
"Udah selese ngobrolnya?" tanya Windi kepada Teo. Teo hanya mengangguk mengiyakan.
"Om sama tante pulang dulu ya sayang" ucap Teo sambil mencium pipi Rafael. Rafael hanya mengangguk mengiyakannya.
"Babay om ante" ucap Rafael saat Teo dan juga Windi sudah masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya.
Setelah mobil Teo dan juga Windi telah jauh Kya pun mengajak anaknya itu pulang kerumah dengan berjalan kaki. Kya berjalan sambil bernyanyi nyanyi bersama dengan Rafael sampai akhirnya sampi di depan rumah.
"Udah pulang?" tanya Rizal yang melihat anak dan istrinya sudah pulang.
"Udah dady" jawab Rafael sambil melebarkan senyumannya.
"Udah" jawab Rizal.
"Mana dia?" tanya Kya kepada Rizal.
"Langsung ke atas" jawab Rizal.
"Apa dia ketemu sama kak Teo?" tanya Kya.
"Iya dia sempet ketemu" jawab Rizal.
"Udah lama dia pulang?" tanya Kya.
"Lumayan lama" jawab Rizal.
"Kamu sama dady kamu dulu ya sayang momy mau liat Onty kamu dulu" ucap Kya dan langsung melepaskan Rafael dari pelukannya dan mendudukkannya di samping Rizal.
Kya berjalan menuju atas untuk menemui Ara.
Tok tok tok
Kya mengetuk pintu kamar itu tapi tidak ada jawaban dan itu membuatnya harus langsung masuk ke dalam. "Astaga udah tidur pantesan gak ada respon" ucap Kya yang melihat Ara tertidur tengkurap.
__ADS_1
"Mana tidur pake sepatu lagi" ucap Kya menggeleng gelengkan kepalanya melihat keponakannya itu tidur menggunakan sepatu dan baju yang tadi dia pakai untuk pergi.
Kya melepaskan sepatu milik Ara setelah selesai dia meletakkan sepatu itu kembali ke tempatnya. Dia duduk di samping keponakannya itu sambil menatap lekat wajah yang tertidur nyenyak itu.
"Ngantuk banget ya?" ucap Kya sambil menyibakkan rambut Ara yang menutupi wajahnya. Kya melihat jam dan jam menunjuk pukul 17:40.
"Masih sore juga" ucap Kya sambil melebarkan senyumannya dan setelah itu dia langsung mencium wajah keponakannya itu setelah itu dia langsung keluar dan menutup pintu kamar itu dengan pelan.
Kya turun dan menemui suami dan juga anaknya itu. Setelah itu dia mengajak anaknya itu untuk membersihkan diri sedangkan Rizal sudah membersihkan tubuhnya dan menonton televisi yang ada di ruang tamu.
***
Di kediaman Adijaya Nathan baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaiannya. Dia kembali menatap lekat wajah wanita yang ada di layar ponselnya itu.
"Pasti dia sedih banget" ucap Nathan menatap sedih ke arah poto Ara.
"Mana besok dia ujian pasti kepikiran" guman Nathan.
"Nat" panggil Vino yang sudah berada di dalam kamar Nathan.
"Hmm" jawab Nathan tanpa menatap ke arah Vino
"Kita beberapa hari di tunjuk buat ngawasin anak sekolah SMK darma bangsa ujian" jelas Vino.
"Siapa yang suruh?" tanya Nathan.
"Tadi Viiona ngeEmail gue dia bilang kita harus ngawasin calon calon penerima biaya siswa itu ujian takutnya mereka nyontek" jelas Vino.
"UN mana bisa nyontek" bantah Nathan.
"Tapi kan mana tau mereka punya cara untuk bisa nyontek" jawab Vino.
"Yaudah sana keluar" usir Nathan kepada Vino.
"Sshhhttt" umpat Vino kesal dan langsung keluar dari kamar Nathan.
"Dia lagi ngapain apa dia masih mikirin itu? atau dia udah istirahat?" guman Nathan.
Senyumnya mengembang ketika mengingat Ara yang senyum kepadanya tadi sungguh sangat bisa menenangkan hati. "Tapi dia bisa ngembunyiinya dari orang lain" guman Nathan kembali dengan senyum yang masih mengembang.
"Nathan bunda nyuruh turun buat makan" teriak Vino yang terdengan oleh Nathan karna kamarnya tidak di tutup oleh Vino
Nathan langsung beranjak berdiri dan turun dari kamarnya itu menuju ke meja makan. Dan di meja makan sudah ada semua orang termasuk kedua orang tuanya.
Mereka pun menyantap makanan yang sudah di siapkan itu dengan lahap dan di sela sela makan mereka menyelipkan candaan di sana dan ruangan makan itu terdengan ramai akibat tawa mereka.
__ADS_1