Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Pergi


__ADS_3

"Karna kamu lebih penting" jawab Nathan lagi.


"Kalian kenapa bisa disini?" tanya Ara kepada semua orang yang ada di dalam kamar itu.


"Kami udah lihat berita di televisi tadi" jawab Erina.


"Jadi?" tanya Ara dengan menautkan kedua alisnya.


"Kami takut kamu melakukan hal bodoh seperti dulu lagi saat kamu mengetahui berita itu" jawab Andita sedangkan Erina dia ragu ingin menjawab nya.


"Keluar lah" ucap Ara yang masih ingin sendiri.


"Tapi ra.." bantah Erina yang terpotong oleh Ara.


"Aku gak bakal ngelakuin apa apa, Aku cuma mau istirahat" potong Ara dan berdiri dari duduk nya. Mereka semua belum keluar dan Ara menatap mereka yang belum keluar.


"Aku mohon" ucap Ara lagi.


"Baiklah" ucap Erina yang mengalah dan langsung menyuruh semua orang keluar tapi tidak dengan Nathan yang masih berdiri di dekat istrinya itu.


"Kenapa kamu gak keluar?" tanya Ara kepada suaminya itu.


"Aku mau menemani kamu" jawab Nathan dan mendekat ke arah sang istri.


"Kaluar lah, Aku mau sendiri" ucap Ara dan berjalan ke arah jendela.


"Tapi sayang...." ucap Nathan yang terpotong oleh Ara.


"Aku mau sendiri, Tolong ngertiin aku" potong Ara tanpa menatap sang suami dan membuka jendela kamar yang tertutup itu.

__ADS_1


"Jangan ngelakuin hal yang aneh" ucap Nathan dan langsung berlalu. Ara berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu itu setelah mengunci pintu Ara kembali ke dekat ranjang dan tidak ke dekat jendela lagi.


Ara menatap tangannya yang membengkak itu dan tersenyum melihatnya. "Kenapa gak aku aja yang mati tadi?" tanya Ara dengan tertawa melihat tangannya yang terluka itu.


"Kenapa harus paman dan bibi? kenapa gak aku aja?" teriak Ara yang terdengar oleh Nathan yang berada di luar kamar.


"Hah" teriak Ara kembali dan membanting apa yang ada di dekatnya.


Pranggg


Terdengar jelas bunyi hempasan benda kaca yang di penting oleh Ara di telinga Nathan. "Sayang" panggil Nathan yang hawatir akan sang istri.


"Pergi" teriak Ara dan melempar lampu tidur yang ada di atas lemari sebelahnya itu ke pintu kamar itu.


"Sayang buka pintu nya" ucap Nathan, Semua orang yang ada di bawah pun menghampiri Nathan yang berdiri di depan pintu kamar Ara.


"Pergi, Jangan ganggu aku" teriak Ara kembali dan melempar barang barang ada di dekatnya ke pintu kamar itu.


"Mana kunci cadangan kamar ini?" tanya Nathan kepada Erina.


"Gak tau kak" jawab Erina.


"Tolong carikan kunci cadangan kamar ini" ucap Nathan. Erina mengangguk mengiyakannya dan langsung berlalu masuk ke ruangan ruangan dan mencari cari kunci cadangan kamar yang di tempati oleh Ara.


"Hahaha, Kalian membenci ku bukan? makanya kalian meninggalkan ku" ucap Ara menunjuk ke arah poto yang keluarga yang ada di kamar itu.


"Kenapa semua orang yang aku sayang meninggalkan ku" teriak Ara dan kembali menangis. Sungguh Ara sudah seperti orang gila kadang menangis dan kadang tertawa. Nathan dan yang lain yang berada di depan kamar itu bisa mendengar jelas ucapan demi ucapan yang di keluarkan oleh Ara.


Ara berjalan ke arah jendela. Ara langsung tersungkur di dekat jendela itu dengan tatapan yang entah kemana dan air mata yang selalu mengalir. "Kenapa hidupku bisa seperti ini?" ucap Ara dengan menangis terisak.

__ADS_1


"Kenapa?" teriak Ara dengan menangis sekencang kencangnya. Ara menyenderkan tubuh nya di sudut jendela yang terbuka itu dengan salah satu kaki yang terjuntai dan air mata yang tak henti hentinya mengalir sampai satu jam lama nya dan membuatnya lelah dan akhirnya dia tertidur dengan menyender seperti itu.


"Bagaimana?" tanya Nathan kepada Erina dan Andita.


"Ini kunci yang kami temukan" jawab Andita sambil menyodorkan kunci yang mereka temukan kepada Nathan. Nathan mencoba seluruh kunci yang di berikan Andita dan kunci terakhir yang ia coba baru cocok.


Nathan membuka pelan pintu itu karna dia sudah tidak mendengar suara sang istri. Nathan menoleh ke bawah dan terlihat banyak sekali kaca kaca yang terpecah belah dan lampu tidur yang juga hancur. Nathan melihat sang istri yang hampir saja terjatuh ke luar jendela dan diapun dengan segera manangkap wanita nya itu.


Nathan menangkap sang istri dengan sedikit kasar tapi itu tidak membuat istrinya itu terbangun. Nathan menyenderkan kepala sang istri di dada bidangnya dan menatap lekat wajah wanitanya itu. Nathan menggendong istrinya itu menuju ke ranjang yang sudah di bereskan oleh Erina dan membaringkan istrinya itu ke atas ranjang itu. "Gue gak sanggup liat dia nangis" ucap Nathan yang terdengar oleh Erina.


"Apa Ara belum ngasih tau sama kakak masalah stresnya?". tanya Erina kepada Nathan.


"Apa maksud kamu?" tanya Nathan balik kepada Erina.


"Ara pernah ngalami despresi berat waktu SMP dan waktu itu dia hampir aja bunuh diri dan untungnya kak Dewa nyelamatin dan despresi itu mulai sedikit hilang waktu kak Dewa datang di kehidupannya" jelas Erina kepada seluruh orang yang ada di dalam kamar Ara sedangkan Andita dia hanya menatap sahabat nya itu dengan tatapan iba.


"Tapi dia kayak nya baik baik aja" ucap Azlan.


"Dia selalu menyembunyikan kesedihannya sama semua orang dan kadang dia juga menyembunyikan kesedihannya dari kami tapi kami memaksanya bercerita" jawab Andita.


"Tapi saat Dewa meninggal dia sepertinya gak terlalu stres" ucap Vino.


"Waktu kak Dewa meninggal stresnya kembali dia sedikit pendiam dan gak terlalu banyak ngomong dan waktu gak ada yang menemaninya satu hari itu baru dia ngeluapin emosinya" jelas Erina lagi.


"Benaran dia pernah despresi?" tanya Nathan dengan menatap sang istri.


"Hem, Dan dia juga menunda kehamilannya karna takut waktu dia hamil penyebab stres dan despresi nya kembali makanya dia nunda kehamilan dia, Tapi beberapa hari lalu dia ngehubungin aku dia bilang bakal berhenti mengonsumsi pil KB itu dan mau hamil tapi kejadian ini pasti bakal ngurungin niat dia balik" jelas Erina panjang lebar. Nathan kaget mendengar pernyataan Erina.


"Kenapa dia gak ngasih tau masalah ini sama aku?" tanya Nathan yang heran akan itu karna dia sama sekali tidak mengetahui masalah sang istri yang menunda kehamilan dan masalah despresi yang di alami oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Karna dia gak mau kakak berfikir jika dia gak sayang sama kakak makanya dia menyembunyikannya dari semua orang kecuali kami berdua, Tapi kakak percaya dia beneran cinta dan sayang sama kakak dan dia gak mau kehilangan kakak" jelas Andita. Nathan menatap lekat wanitanya yang tertidur lelap dengan wajah sembab itu.


"Apa obat yang bisa nyembuhin despresi nya?" tanya Nathan kepada Erina dan juga Andita.


__ADS_2