Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Teman perempuan


__ADS_3

Matanya mengikuti pandangan mata Nathan. "Pantesan senyumnya bahagia banget" guman Vino dan ikut merasakan bahagia Nathan karna senyuman Nathan itu sudah sangat lama tak terlihat saat Ara pergi dari hidupnya.


Nathan memang orang yang sangat dingin dan susah untuk tersenyum dan di ajak bergurau dari dulu. Setelah bertemu dengan Ara dia nampak jauh berbeda dan dia juga sering tersenyum. Dan saat Ara sudah tidak lagi kelihatan senyum bahagia Nathan pun ikut tak lagi kelihatan.


Ntah kenapa dia seperti itu. Ara itu ibarat penerang di dalam hidup Nathan pikir Vino karna Vino sudah mengenal Nathan sejak kecil dan Nathan sangat jarang sekali tersenyum sebahagia saat ini kecuali saat dia masih kecil dan masih bersama dengan teman perempuannya.


"Auuu" ucap Ara saat bangun karna merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Nathan sadar saat mendengar rengekan Ara itu.


"Gue kenapa suka banget tidur di balkon" ucap Ara sambil memukul pelan kepalanya. Ara kembali menggerakkan tubuhnya supaya bisa seperti semula tanpa sadar akan Nathan yang sedari tadi menatapnya sambil tersenyum.


"Encok ni lama lama badan gue kalo keseringan tidur di balkon" ucap Ara dan langsung berdiri.


"Kalian apa kabar?" tanya Ara ntah untuk siapa menghadap ke langit langit pagi hari di amerika itu yang nampak sangat cerah.


"Ara" panggil Erina yang sudah bangun.


"Gue di balkon" teriak Ara dan baru sadar jika Nathan menatapnya.


"Ngapain negliatin gue gitu?" ketus Ara.


"Siapa yang liatin kamu" ketus Nathan yang tak mau kalah.


"Sabun mana?" tanya Erina saat sudah sampai di balkon.


"Di kamar mandi lah mana mungkin ada di balkon" jawab Ara.


"Sabun mandi lo" ucap Erina.


"Sabun mandi gue di bawah itu" ucap Ara sambil menunjuk ke bawah tempat handuk mereka.


"Minta" ucap Erina dan berlalu pergi. Erina memang sangat suka menggunakan sabun mandi Ara karna sabun itu sangat harum dan tahan lama di tubuh.


"Lo ngajak gelud hah? dari tadi ngeliatin orang" ketus Ara karna memang dia tidak suka jika di tatap seperti itu.


"Kamu gak inget aku?" tanya Nathan.


"Lo Nathan" jawab Ara menebak padahal dia tidak tau jika itu Nathan atau bukan.


"Dari mana kamu tau?" tanya Nathan.


"Kalo ada Vino pasti ada lo dan suara lo itu gak asing di telinga gue" jelas Ara tanpa menoleh ke arah Nathan karna sibuk dengan bunga yang ia tanam itu.


"Trus kemaren kenapa gak inget aku?" tanya Nathan.


"Buat apa gue nginget orang yang udah marah marah sama gue ditambah lagi itukan bukan salah gue" ketus Ara dan langsung masuk ke dalam apartemennya dan mengunci pintu untuk menuju ke balkon.

__ADS_1


"Semarah itu?" tanya Nathan kepada diri sendiri.


"Makanya jangan suka marah marah" jawab Vino yang sedari tadi berdiri di sampingnya tanpa dia sadari.


"Hah" ucap Nathan kaget saat mendengar suara Vino.


"Makanya kalo lo yang salah jangan marah marah sama orang" ucap Vino lagi.


"Ngapain lo disini?" tanya Nathan kembali datar.


"Ngapain lagi kalo gak nyari udara segar" jawab Vino.


"Sejak kapan?" tanya Nathan.


"Sejak lo mandangin Ara" jawab Vino santai.


"Nguping lo ya" ketus Nathan.


"Siapa yang nguping" ketus Vino tak terima.


"Kalo gak lo siapa hah?" ketus Nathan.


"Jangan suka marah marah Nathan" ucap Vino dan langsung berlari meninggalkan Nathan yang masih berada di balkon.


****


Dan sekarang mereka harus membahas ini dengan Windi dan juga teo sebagai orang tua Ara sekarang.


"Nyonya" panggil Mamat saat melihat Nita dan juga Andre.


"Windi sama Teo ada di rumah?" tanya Nita lembut.


"Ada nyonya silahkan ikut saya" ucap Mamat langsung tanpa basa basi. Kita dan Andre pun mengikuti Mamat dan mobil milik Andre sudah terparkir rapi di halaman rumah itu.


"Permisi nyonya ada yang mencari nyonya" ucap mang Mamat.


"Siapa?" tanya Windi dengan nada sombongnya itu dan Nita sangat tidak menyukai itu.


"Nyonya Nita dan tuan Andre" jawab Mamat.


"Yasudah kamu boleh pergi" ucap Nita seperti bos sombong dan angkuh.


"Tumbenan kamu kesini" ucap Nita dan langsung cupika cupiki dengan Nita sedangkan Andre dn juga Teo hanya bersalaman.


"Aku mau jenguk cucu kamu" jawab Nita sambil melebarkan senyumannya.

__ADS_1


"Mereka masih di rumah Fikri" jawab Windi karna memang sudah beberapa hari ini Sheyla menginap di rumah orag tua Fikri.


"Yah susah payah dong aku bawa ini buat dia" ucap Nita sambil memperlihatkan paperbag yang ia bawa untuk anak Sheyla.


"Nanti biar aku yang kasih sama dia" ucap Windi. Nita hanya membalas dengan senyumannya.


bi Nur nampak membawakan nampan karna memang sebelumnya Nita sudah memberi tahu jika ada tamu langsung buatkan makanan dan minuman.


"Silahkan diminum tuan nyonya" ucap bi Nur dan langsung pergi meninggalkan mereka.


Nita meminum minuman itu begitupun dengan Andre karna sudah di persilahkan. "Oiya Teo aku sama Nita datang kesini juga ada keperluan lain selain menjenguk anak Sheyla" ucap Andre yang membuka suara karna dia melihat Nita masih diam.


"Tujuan lain gimana re?" tanya Teo kepada Andre.


"Kan Nita juga udah bilang sama Windi kalo mau jodohin Ara sama Nathan" jelas Andre terhenti.


"Jadi tolong kamu kasih tau sama Ara lagi pula inikan juga udah empat tahun sesuai dengan keinginannya" jelas Andre kembali.


"Dia sekarang kayaknya gak di indonesia re" jawab Teo karna memang dia dan juga istrinya tidak mengetahui tentang Ara dan Rizal lah yang mengetahui itu.


"Anak sendiri aja gak tau dimana sekarang" guman Nita kesal.


"Kalian coba suruh Sheyla aja yang telpon dia kan Sheyla juga dekat sama dia...kalo bisa secepatnya pernikahan Ara dan Nathan di laksanakan" jelas Nita yang mencoba menahan emosinya.


"Yaudah nanti aku suruh Sheyla telpon dia ya" jawab Windi yang ikut serta dalam ucapan itu.


"Kenapa gak sekarang?" tanya Nita.


"Tunggu Sheyla pulang ke rumah" jawab Windi.


"Sekarang aja suruh Sheyla sambung tiga biar aku sama mas Andre juga bisa dengar" ucap Nita dengan melebarkan senyumannya.


"Yaudah iya bentar" ucap Windi dan langsung menelpon Sheyla.


Menghubungkan.....


"Halo mami" jawab Sheyla saat telpon itu sudah tersambung.


"Tolong kamu telpon Ara sambungin ke telpon mami" ucap Windi sambil menatap ke arah tiga orang yang menatapnya.


"Untuk apa mi?" tanya Sheyla.


"Nanti kamu tanya sama dia dia mau apa gak di jodohin" jawab Windi.


"Ara mana mungkin mau mi" jawab Sheyla karna memang dia tau betul Ara.

__ADS_1


"Kamu bilang aja gini nanti mami mau nagih janji kamu yang bilang empat tahun lalu kalo kamu belum juga dapat pasangan maka kamu harus siap di jodohin" jelas Windi mengajarkan Sheyla.


__ADS_2