
Sedangkan pekerja yang masih sakit itu sudah di urus oleh Viona karna Nathan yang menyuruhnya.
Ara dan Nathan langsung masuk ke dalam jet pribadi milik kelurga Nathan dan mereka duduk bersampingan. Pilotpun menerbangkan jet itu menuju ke indonesia.
"Kepala kamu masih sakit?" tanya Nathan kepada Ara saat Ara sibuk menatap awan awan yang ia lewati.
"Gak sakit lagi" ucap Ara dan menoleh sekilas suaminya itu dan setelah itu kembali menatap awan awan.
"Kamu gapapa?" tanya Nathan karna melihat istrinya itu nampak tak semangat.
"Jujur gue sebenernya males pulang ke indonesia" ucap Ara tanpa menoleh ke arah Nathan.
"Trus kenapa tadi minta pulang?" tanya Nathan.
"Kan Erina mau nikah gak mungkin gue gak dateng" jawab Ara dan menatap sekilas suaminya itu dan setelah itu kembali menatap awan awan.
Nathan tidak menajwab perkataan istrinya itu karna jet yang mereka tumpangi sudah mendarat dan sudah sampai di indonesia. Ara langsung turun diikuti oleh Nathan yang membawakan koper mereka.
Nampak pak Abi yang sedang menunggu mereka. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil. Ara sibuk dengan ponselnya karna dia berbalas pesan dengan Sheyla.
"Siapa di rumah?" isi pesan Ara.
"Gak tau" balas Sheyla.
"Kenapa lo bisa gak tau? emang lo dimana?" tanya Ara.
"Aku di rumah Fikri dan mungkin cuma bibi yang ada di rumah" balas Sheyla.
"Kemana mami sama papi?". balas Ara.
"Keluar kota mungkin" balas Sheyla.
"Yaudah see you" balas Ara.
"Emang kamu pulang?" tanya Sheyla.
__ADS_1
"Pulang ke mana?" tanya Ara kembali.
"Pulang ke indonesia" balas Sheyla.
"Iya" balas Ara singkat.
"Tumben gak ngabarin aku" balas Sheyla.
"Gue cuma pulang bentar dan itu cuma mau liat nikahan Erina" balas Ara.
"Oohh sampai ketemu di acara Erina ya" balas Sheyla.
"❤" balas Ara dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Gue boleh peluk lo?" tanya Ara kepada suaminya itu sambil menatap lekat wajahnya.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Kalo gak boleh ya udah" jawab Ara dan kembali menatap jalan yang ia lewati.
"Siapa yang bilang gak boleh...mau selamanya juga gapapa" ucap Nathan dan langsung memeluk istrinya itu. Ara tidak menolak itu karna itu yang ia butuhkan dan hari di indonesia juga masih larut karna mereka berangkat pagi dari amerika.
Nathan mengusap lembut kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang karna tak biasanya Ara yang sedang dalam keadaan sadar meminta pelukan dan pelukan itu sangatlah nyaman.
Ara semakin mengeluarkan air matanya di pelukan suaminya itu. "Kenapa?" tanya Nathan karna dia tak bisa melihat wajah istrinya itu yang berada di dalam pelukannya.
Ara dengan segera menggelengkan kepalanya tanpa menengadahkan kepalanya. Nathan tak ingin kembali bertanya dan memilih untuk diam dan kembali mengusap lembut rambut wangi istrinya itu.
Mobil yang di kendarai oleh pak Abi sudah berhenti di halaman yang sangat luas itu. Nathan ingin turun tapi istrinya itu tidak ada respon. "Hey" panggil Nathan lembut dan menyingkirkan rambut rambut yang ada di wajah istrinya itu dan mata istrinya itu tertutup.
"Ketiduran?" ucap Nathan dengan sudut bibir yang terangkat saat menatap istri kecilnya itu tertidur tepat di dalam pelukannya. Bukan kah itu sudah biasa baginya? tapi kenapa dia sangat senang hari ini melihat istrinya yang tertidur di dalam pelukannya itu dan itu bukan yang pertama dan mungkin yang ke sepuluh atau yang ke dua puluh.
Ara yang merasa ada sentuhan di sekitar wajahnya langsung terbangun dengan mata yang tidak terlalu tampak di mata orang yang melihatnya. "Udah nyampe?" tanya Ara menatap Nathan.
"Iya" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya. Ara langsung turun dari mobil itu dan langsung masuk ke dalam rumah dengan pintu yang di bukakan oleh pengawal.
__ADS_1
"Mana semua orang?" tanya Ara karna tak melihat siapapun di dalam rumah itu mau itu pelayan maupun Nita dan yang lainnya.
"Coba kamu liat jam" ucap Nathan. Ara langsung mengangkat tangannya dan melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
23:42 panatas saja tidak ada satupun orang yang nampak di rumah itu ternyata hari sudah larut. "Jam berapa sekarang nona?" tanya Nathan dengan senyumnya seperti mengejek istrinya itu.
"Liat ini liat" ketus Ara yang melihat suaminya itu tersenyum seperti mengejeknya dan mendekatkan jam yang ada di tangannya itu ke wajah suaminya itu.
Nathan terkekeh melihat istrinya yang marah karna baginya marah istrinya itu adalah lawakan baginya dan wajah marahnya itu sngat menggemaskan.
"Yaudah ayo kita istirahat" ajak Nathan dan membawa koper yang di berikan pak Abi kepadanya tadi. Ara mengikuti suaminya itu dari belakang.
Sesampai di kamar Nathan meletakkan koper mereka dan mengganti pakaiannya tapi tidak dengan Ara yang hanya melepaskan sepatu dan mantel yang di gunakannya tanpa mengganti baju dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur di kamar itu.
"Kamu gak ganti baju?" tanya Nathan yang melihat istrinya itu rebahan di atas kasur. Ara yang tadinya menghadap ke kiri langsung menoleh ke kanan untuk melihat suaminya itu.
"Baru juga beberapa menit di pake" jawab Ara.
"Yaudah kalo gak mau ganti baju" ucap Nathan dan langsung menaiki kasur itu dan duduk di samping istrinya itu sambil memangku laptop yang memegang ia bawa pulang dan ia bawa ke tempat tidurnya. Sedangkan Ara hanya menatap suaminya itu dengan tatapan datarnya.
"Ngapain main laptop malam malam?" tanya Ara yang sedari tadi menatap suaminya itu.
"Masih ada kerjaan" jawab Nathan.
"Mau dibikinin kopi?" tanya Ara dan langsung duduk.
"Boleh" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya mengahadap ke istrinya itu. Ara tidak menjawab lagi dan langsung turun ke bawah untuk membuatkan kopi untuk suaminya itu.
Setelah selesai membuatkan kopi yang tidak terlalu manis itu untuk suaminya Ara kembali ke kamar.
Brakkk
Ara menendang pintu kamar itu karna memang pintu itu tadi tidak di tutup rapat rapat dan Nathan yang fokus dengan laptopnya kaget mendengar itu.
"Hey kamu hampi aja ngebuat aku jantungan" ucap Nathan sedikit kesal. Ara menutup pintu itu kembali menggunakan kakinya karna dia sedikit kesusahan akibat membawa nampan yang berisi kopi dan juga cemilan untuk suaminya itu.
__ADS_1
"Protes mulu" ketus Ara dan meletakkan nampan itu dia atas lemari kecil di samping suaminya itu.
Ara kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap dan menatap lekat wajah suaminya itu yang sedang bekerja. "Ponsel aku mana?" tanya Nathan tanpa menoleh ke arah istrinya karna sedari kemarin ponsel miliknya masih dengan istrinya.