Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Erina pingsan


__ADS_3

"Apa dia beneran nikahin gue karna bunda?" guman Ara sedih dan menyenderkan tubuhnya di tempat duduk itu.


"Lo sih ra kenapa mudah banget jatuh cinta sama orang asing" ucap Ara sambil.memukul kepalanya tidak terlalu keras.


"Hey" panggil Nathan dan langsung mendudukkan tubuhnya di samping istrinya itu. Mata Ara yang semuanya terpejam langsung terbuka dan menatap sang suami yang sudah berada tepat di sampingnya itu.


Ara ingin berlalu berdiri meninggalkan sang suami tapi Nathan menghentikannya. "Mau kemana?" tanya Nathan dengan menggenggam erat tangan istrinya itu.


"Aku masih banyak kerjaan" jawab Ara melepaskan secara lembut tangan suaminya itu dan langsung berlalu.


Nathan tidak bisa memaksa istrinya itu dan memilih untuk mengikutinya. Ara sedang menyiram bunga yang ia tanam kemarin dan Nathan sedari tadi memperhatikan istrinya itu.


"Huh" Ara mendengus panjang dan meletakkan tempat air di bawah dan diapun berjongkok menatap bunganya itu.


"Gue gak boleh berharap banyak" ucap Ara yang terdengar oleh Nathan. dahi Nathan mengerut mendengar perkataan istrinya itu karna dia bingung dan tidak mengerti akan ucapan istrinya itu.


"Aku minta maaf" ucap Nathan dan langsung berjongkok di samping istrinya itu dan memegang tangan sang istri.


"Minta maaf kenapa?" tanya Ara dan melepaskan tangannya dari genggaman suaminya itu karna jantungnya berdetak tak karuan lagi.


"Masalah bau parfum yang kamu cium di baju aku kemarin malam" jawab Nathan dan menundukkan pandangannya.


"Bau parfum apa?" tanya Ara berpura pura tak tau.


"Tangan kamu luka gara gara minta jawaban kan sama Vino?" tanya Nathan dan mengambil kembali tangan istrinya itu dan melihat tangan yang terluka itu.


"Bukan...ini karna kena duri bunga" jawab Ara berbohong dan langsung berdiri dan ingin berlalu tapi Nathan menarik tangannya segera.


"Aku mohon maafin aku" ucap Nathan dan langsung memeluk sang istri dan mengelus lembut kepala istrinya itu.


"Lepas" ketus Ara dan ingin melepaskan pelukan itu tapi Nathan tak mau dan makin mempererat pelukannya.


"Aku mohon maafin aku" ucap Nathan lagi.


"Aku gak bakal maafin kamu kalo kamu terus terusan peluk aku" ketus Ara. Nathan langsung melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Gak punya malu banget" ketus Ara dengan bibir manyunnya. Nathan gemas akan itu dan langsung mencium sekilas bibir itu.


"Hey" teriak Ara sambil memegang bibirnya. Nathan kembali terkekeh dan langsung ******* bibir istrinya itu. Ara tidak menolaknya malahan dia menikmatinya.


Sudah hampir 5 menit mereka menikmati bibir satu sama lain dan akhirnya mereka pun menghentikannya. "Maafin aku" ucap Nathan lagi yang tak henti hentinya meminta maaf kepada istrinya itu.


"Aku udah maafin kamu" jawab Ara dengan pipi yang memerah akibat berciuman dengan Nathan tadi padahal itu sudah biasa baginya tapi dia masih merasakan malu.


Nathan langsung memeluk istrinya itu penuh dengan kasih sayang dan sesekali dia mencium kepala istrinya itu.


"Mereka ada hubungan apa?" guman Damian heran karna sedari tadi dia menyaksikan apa saja yang di lakukan oleh Ara dan juga Nathan.


"Ayo kita pulang" ajak Nathan karna memang hari sudah mulai petang.


"Aku masih banyak kerja....kamu pulang duluan aja" jawab Ara.


"Aku pemilik toko ini jadi kamu harus ikut apa yang aku bilang" bisik Nathan di telinga istrinya itu.


"Bekerja lah dengan profesinal" jawab Ara dan menjauhkan kepala suaminya itu darinya dan melanjutkan kerjaannya.


Ponsel Ara berdering menandakan ada yang mengubunginya dengan segera dia mengangkatnya. "Erina" nama yang tertera di layar ponselnya itu. Ara langsung mengangkatnya.


"Ra ini gue atsa...lo dimana?" tanya Atsa hawatir.


"Eh lo kenapa? Erina mana sampai sampai lo mainin ponselnya?" tanya Ara.


"Erina pingsan dan sekarang gue sama temen temen bawa dia ke rumah sakit....makanya gue hubungin lo karna nomor lo yang ada di sini" jelas Atsa. mata Ara membulat sempurna dan rasa hawatir menghantui pikirannya.


"Kenapa?" tanya Nathan melihat istrinya itu melotot.


"Share lok" perintah Ara. Atsa langsung mengirimkan lokasi di mana rumah sakit yang Erina tempati.


"Ayo kita ke rumah sakit" ajak Ara hawatir.


"Kenapa?" tanya Nathan yang ikut hawatir.

__ADS_1


"Erina masuk rumah sakit" jawab Ara.


"Kenapa Erina ra?" tanya Andita yang berdiri tidak jauh dari Ara dan Nathan.


"Kata Atsa dia pingsan dan di bawa ke rumah sakit" jawab Ara hawatir.


"Lepasin celemek kamu dulu" ucap Nathan. Ara baru ingat jika celemek di tubuhnya belum di lepas diapun langsung melepas celemek itu dan langsung mengajak Nathan untuk segera pergi dan Andita mengikuti nya karna dia juga hawatir.


"Kamu punya nomor Vino?" tanya Ara kepada suaminya itu. Nathan langsung memberikan ponselnya kepada suaminya karna ponselnya di pakai untuk melihat lokasi rumah sakit yang di kirim oleh Atsa.


"Erina pingsan tadi di kampus dia sekarang udah di bawa kerumah sakit" ucap Ara langsung tanpa basa basi.


"Lo jangan becanda nat" jawab Vino.


"Ini gue Ara...gue beneran gue gak becanda" jawab Ara dan langsung mematikan telpon itu dan langsung mengirimkan alamat kepada Vino menggunakan ponsel suaminya itu.


Nathan Ara dan Andita sudah sampai di rumah sakit yang ada di lokasi. Ara langsung turun tanpa menunggu siapapun dan membawa apapun begitupun dengan Andita. Nathan mengerti akan ke hawatir an istrinya itu.


"Mana Erina?" tanya Ara kepada Atsa.


"Dia masih di dalam" jawab Atsa.


"Mana Erina ra?" tanya Vino yang baru saja sampai.


"Dia masih di dalam" jawab Atsa.


Vino sangat hawatir dan berjalan kesana kemari menunggu keluarnya dokter.


Cklekk


Pintu ruangan itu terbuka semua orang yang menunggu di sana langsung menghampiri dokter begitupun dengan Ara. "Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Vino hawatir kepada dokter itu.


Dokter yang memeriksa Erina tersenyum dan Ara bingung dan sedikit kesal karna dokter itu bukannya menjawab malu tersenyum. "Dokter kenapa senyum? gimana keadaan teman saya?" ketus Ara.


"Jangan marah marah" ucap Nathan yang mengerti jika istrinya itu mudah emosi.

__ADS_1


__ADS_2