Ara Dan Nathan

Ara Dan Nathan
Udah lahiran


__ADS_3

"Kamu bilang aja gini nanti mami mau nagih janji kamu yang bilang empat tahun lalu kalo kamu belum juga dapat pasangan maka kamu harus siap di jodohin" jelas Windi mengajarkan Sheyla.


"Tapi Ara itu mana mau di jodohin gini" bantah Sheyla.


"Kalo gak kamu bilang aja kalo kamu udah lahiran sama dia suruh dia pulang abis itu baru kamu bilang sama dia secara langsung" jelas Windi. Nita dan Andre menatap tajam ke arahnya.


"Yaudah bentar Sheyla telpon" ucap Sheyla dan langsung menelpon Ara.


"Aktifin spikernya" perintah Nita. Windi langsung mengaktifkan spiker itu supaya semuanya bisa mendengar.


"Kenapa?" tanya Ara santai saat telpon itu sudah ia angkat.


"Aku udah lahiran" jawab Sheyla.


"Cowok apa cewek ponakan gue?" tanya Ara kegirangan. Nita yang mendengar suara yang girang itu melebarkan senyumannya begitupun dengan Andre.


"Cewek" jawab Sheyla.


"Vc an dong" ucap Ara.


"Pulang aja ke indonesia" jawab Sheyla.


"Gue masih ujian....gue pengen banget pulang di tambah kemarin kan empat tahun kepergiannya kak Dewa dan sembilan belas tahun..." ucap Ara tanpa sadar dan langsung teringat.


"Sembilan belas tahun apa?" tanya Sheyla.


"Maksud sembilan tahunnya apa?" guman Teo bingung.


"Enggak apa apa...mungkin beberapa hari lagi gue udah selesai ujian" jawab Ara mencoba mengalihkan percakapan mereka.


"Bisa kamu pulang minggu depan?" tanya Sheyla.


"Bentar dulu" jawab Ara dan melihat tanggal berapa minggu depan.


"Hmmm kayaknya bisa deh" jawab Ara.


"Beneran?" tanya Sheyla.


"Iya lah mana mungkin gue bohong" jawab Ara.


"Pulang ke rumah mami ya" ucap Sheyla.


"Gak" jawab Ara datar saat Sheyla menyebut nama mami.


"Kenapa?" tanya Sheyla.


"Gue udah mandiri sekarang" jawab Ara datar.


"Iya pulang aja ke rumah mami apa masalahnya?" tanya Sheyla.


"Masalah lah buat gue" jawab Ara.


"Tapi masalahnya aku kan masih tinggal di rumah mami" jawab Sheyla.

__ADS_1


"Yaudah gue gak jadi pulang" jawab Ara dan langsung mematikan telpon yang terhubung itu.


"Kenapa di matiin?" tanya Nita menatap lekat ke arah Windi dan juga Teo.


"Kenapa Ara matiin ponselnya?" tanya Windi kepada Sheyla.


"Mami denger sendiri kan tadi apa yang dia bilang" jawab Sheyla.


"Hubungi lagi" perintah Windi. Sheyla langsung menghubungi Ara.


"Kenapa lagi? mau bujuk gue buat ke rumah? gue gak mau" ucap Ara langsung.


"Aku mohon sama kamu...mau ya emang kamu gak pengen liat ponakan kamu?" tanya Sheyla.


"Kan bisa Vc an" jawab Ara.,


"Gak boleh" jawab Sheyla.


"Iya iya gue pulang awas aja nanti gue pulang ya" jawab Ara dan langsung mematikan telponnya.


Nita tersenyum bahagia mendengar ucapan Ara itu begitupun dengan Andre tapi tidak dengan Teo dan juga Windi yang biasa saja.


"Yaudah kita pamit pulang dulu ya" pamit Nita karna tujuan awalnya sudah selesai.


"Kok cepet banget" jawab Windi.


"Cucu kamu kan juga gak ada disini makanya kita pulang cepat" jawab Nita.


"Satu hari saat Ara pulang aku bakal kesini dan kita langsung lamaran saja" ucap Andre yang baru ingat.


"Yaudah hati hati" jawab Windi. Nita dan Andre langsung masuk kembali ke dalam mobilnya dan kembali ke rumahnya.


Sampai di rumah Nita langsung membersihkan diri begitupun dengan Andre dan setelah itu mereka berdua langsung duduk di ruangan yang ada di dalam kamar mereka itu. "Bunda gak sabar banget Ara sama Nathan nikah yah" ucap Nita saat sudah masuk ke dalam kamar mereka.


"Ayah juga gak sabar....punya menantu kayak Ara yang papi pengen dari dulu" jawab Andre.


"Bunda telpon Nathan dulu ya" ucap Nita dan langsung menghubungi anaknya itu.


"Halo bunda" ucap Nathan saat sudah mengangkat telpon itu.


"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Nita sedikit berbasa basi kepada Nathan.


"Baru aja mau berangkat kerja" jawab Nathan karna memang Nita dan Andre pergi ke rumah Windi saat hari sudah lumayan malam.


"Masih siang ya disana?" tanya Nita.


"Iya bunda" jawab Nathan.


"Kamu minggu depan bisa pulang nak?" tanya Nita lembut.


"Emmmm kayaknya bisa bun emang kenapa?". tanya Nathan.


"Gapapa bunda kangen aja sama kamu sama Vino juga apa lagi sama Azlan kan udah lama gak ketemu" jawab Nita.

__ADS_1


"Yaudah minggu depan Nathan Vino sama Azlan pulang ke indonesia" jawab Nathan.


"Yaudah bunda tunggu kalian ya sayang" ucap Nita dan mengakhiri telpon itu bersamaan dengan Nathan.


"Gimana Nathan mau?" tanya Andre kepada Nita.


"Iya dia mau" jawab Nita.


"Kita istirahat aja" ajak Andre. Nitapun hanya mengangguk mengiyakannya. Mereka berduapun terlelap akan tidur mereka.


Satu minggu kemudian. Ara,Erina dan juga EAndita nampak sudah siap karna memang kedua sahabat Ara itu selalu ikut jika Ara pulang. "Udah siap nona?" tanya bi Ria.


"Udah bi" jawab Ara.


"Sini biar saya saja yang bawa nona" ucap pak Nawi.


"Gak usah pak Ara bisa bawa sendiri" jawab Ara. pak Nawi tak bisa memaksa dan diapun berjalan mendahului Ara dan yang lainnya.


Ting...


Suara lift terbuka. Ara dan yang lainnya pun langsung masuk begitupun dengan Nathan dan kedua saudaranya itu karna mereka sudah berdiri sejak tadi di belakang ketiga wanita itu.


Nathan berdiri tepat di smping Ara dan itu membuat Ara risih. Nathan memencet tombol satu karna tujuan mereka sama. "Kalian mau kemana?" tanya Vino kepada Erina.


"Pulang" jawab Erina lembut.


"Sama dong kita juga mau pulang" jawab Vino.


"Siapa yang antar kalian?" tanya Ara.


"Kita naik taxi" jawab Nathan. Ara tidak melanjutkan perkataannya karna lift sudah berhenti mereka semuapun langsung keluar.


Ara dan teman temannya masuk ke dalam mobil dan di antarkan oleh pak Nawi ke bandara dan bi Ria hanya mengantar sebatas luar apartemen saja.


Sedangkan Nathan dan yang lain naik taxi untuk mengantar mereka ke bandara.


Tidak lama kemudia merekapun sampai di bandara. Setelah menunggu cukup lama akhirnya pesawat yang mereka berenam tumpangi sudah ingin mendarat dan mereka berenam pun masuk ke dalam pesawat secara bersamaan.


"Kok kalian bisa sampingan gue gak sih?" tanya Ara bingung.


"Emang kursi kita disini" jawab Andita.


"Trus kursi gue di..." ucap Ara mencari cari denah kursinya dan kursinya terletak di sebelah Nathan.


"Harus banget gue di samping dia?" tanya Ara menatap ke arah Nathan sedangkan Nathan menatap datar ke arahnya.


"Kenapa emang?" tanya Andita.


"Tukaran dong" ucap Ara.


"Gak bisa Ara...kita bukan lagi di bis" jawab Erina.


Dengan berat hati Ara langsung mendudukkan tubuhnya di samping Nathan dan di dekat jendela pesawat itu. Ara tidak ernah melirik Nathan sedangkan Nathan selalu meliriknya tanpa di ketahui oleh siapapun.

__ADS_1


__ADS_2