
"Gue gapapa lo pake aja" ucap Ara dan berlalu meninggalkan semua orang dan melihat lihat proses pembangunan karna nanti asti dia juga mengawasi seperti itu.
Nathan langsung menyusul istrinya itu tanpa memperdulikan orang lain. Viona dan Doni sangat bingung melihat Nathan seperti itu karna memang mereka tidak tau siapa wanita yang di bawa oleh bos mereka itu.
"Wanita itu siapa buk?" tanya Doni kepada Viona.
"Saya juga tidak tahu pak" jawab Viona.
"Kenapa kayaknya deket banget mereka ya buk" ucap Doni saat melihat Ara dan Nathan.
"Ini pake" ucap Nathan menyodorkan helm kepada istrinya itu.
"Lo aja" jawab Ara.
"Pake gak" ucap Nathan yang memgang tangan istrinya itu.
"Lo aja Nathan" jawab Ara.
"Ntar kamu kena itu" ucap Nathan menunjuk ke arah atas dan nampak banyak sekali batu bata di sana.
"Emang kalo lo gak make lo gak kena?" tanya Ara.
"Aku bisa ngejaga diri" jawab Nathan.
"Aku juga" bantah Nathan.
"Pak ini ada satu lagi helm nya" ucap salah satu tukang sambil menyodorkan helm kepada Nathan. Nathan menerimannya.
"Terima kasih" ucap Nathan sambil melebarkan senyumannya. tukang itu hanya membalasnya dengan senyuman dan setelah itu berpamitan untuk kembali bekerja.
"Pake" perintah Nathan sambil menyodorkan helm itu kepada Ara.
Ara menerimanya dan diapun memakai helm itu tanpa mengancingnya karna dia tidak tau menggunakan helm. Setelah menggunakan helm Ara langsung berlalu meninggalkan suaminya itu tanpa pamit.
"Jangan masuk ke sana" ucap Nathan saat Ara ingin masuk ke dalam bangunan yang belum jadi itu.
"Bentar doang" jawab Ara karna dia ingin melihat bahan bahannya bagus atau tidak karna dia mengerti akan alat alat kontruksi seperti itu.
__ADS_1
Nathan membiarkannya dan pergi menuju menejer yang di tugaskan untuk mengawasi itu dan juga Viona. Menejer itu menjelaskan apa yang di butuhkan dan apa yang ada di dalam karton yang sudah ada gambar gedung.
Mata Nathan tak henti hentinya mengawasi istrinya yng nampak sangat akrab dengan tukang tukang dan dia juga kadang tertawa bersama tukang itu. Senyum Nathan mengembang saat melihat itu.
"Emang bener kata orang kalo dia gak pernah pandang bulu kalo baik sama orang" guman Nathan dengana senyum yang mengembang saat melihat istrinya yang tertawa bersama dengan tukang tukang.
Ara membantu tukang tukang itu mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan tanpa merasa jijik ataupun merasa geli akan alat yang kotor itu.
Nathan menyusul istrinya yang nampak membantu salah satu tukang tanpa pamit ataupun memperdulikan Soni dan Viona. "Bapak mau kemana?" tanya Viona.
"Saya mau lihat kinerja para pekerja" jawab Nathan tana menoleh ke arah Viona dan kembali melanjutkan jalannya.
"Pak" sapa salah satu tukang saat melihat Nathan menghampirinya. Nathan membalasnya dengan senyum ramahnya dan kembali menatap istrinya yang tidak memperdulikannya itu.
"Fokus banget" ucap Nathan dan ikut berjongkok di samping istrinya itu.
"Astagfirullah" ucap Ara kaget dan hampir saja dia membanting benda yang ia pegang itu ke wajah suaminya itu. Nathan terkekeh melihat expresi wanita yang selalu membantah ucapannya itu.
"Suka banget ngagetin gitu" ketus Ara dan kembali mengerjakan menyemin itu.
"Maaf" ucap Nathan dan menghentikan tawanya.
"Nyusul kamu" jawab Nathan. Ara tidak menajwab perkataan suaminya itu lagi dan kembali fokus.
"Kamu kenapa bantuin ini?" tanya Nathan menatap istrinya itu.
"Kenapa emangnya?" tanya Ara tanpa menatap Nathan dan masih fokus ke kerjaannya.
"Biasanya cewek gak ada yang mau nyentuh nyentuh ginian" jawab Nathan sambil menunjuk skop yang di tangan istrinya itu.
"Jangan bandingin gue sama cewek lo...gue bukan dia" ketus Ara karna memang dia tidak suka di banding bandingkan seperti itu.
"Kamu gak jiji?" tanya Nathan.
"Jijik kenapa?" tanya Ara.
"Ini kan kotor" jawab Nathan.
__ADS_1
"Kan bisa di bersihin" jawab Ara.
"Kenapa? lo jijik?" tanya Ara kepada Nathan.
"Bukan gitu..." jawab Nathan terpotong oleh Ara
"Seharusnya lo sebagai bos harus contohin yang bagus buat pegawai lo jangan gini...di liat aja gak bagus" jelas Ara dan menghentikan aktivitasnya dan menatap lekat wajah suaminya itu.
"Iya aku tau" jawab Nathan.
"Lo harus beri semangat sama pekerja lo...lo juga harus memberikan contoh yang baik sama semua karyawan lo dan lo juga gak boleh kalo mau ngebantu itu pandang status atau pun yang lainnya....lo harus ikhlas" sambung Ara. Nathan tersentuh mendengar ucapan ucapan yang keluar dari mulut istrinya itu dan menatap lekat wanita itu dengan tatapan kagum.
"Kalo kita ngerjain apa apa dengan ikhlas pasti bakal lancar dan bakal jadi kebahagiaan mau itu buat orang lain ataupun buat kita" sambung Ara dan masih menatap suaminya itu.
Nathan masih menatap kagum akan istrinya itu yang bisa berfikir seperti itu sedangkan dia tidak pernah sama sekali berfikit seperti itu. "Apa kurangnya diri mu?" guman Nathan dengan senyum yang mengembang nya.
"Hey" panggil Ara dan mengibas tanganya di hadapan suaminya itu. Nathan langsung tersadar dari lamunannya itu.
"Hmmm" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya.
"Kenapa liatin gue gitu? salah ya sama ucapan gue?" tanya Ara. Nathan menggelengkan kepalanya sambil melebarkan senyumannya itu.
"Ucapan kamu tadi nyentuh banget di hati...Aku aja gak percaya sama ucapan kamu tadi....seorang Ara riyanti bisa sedewasa itu" jelas Nathan dengan senyum yang mengembang.
"Ya iya lah Ara gitu" ucap Ara menyombongkan diri.
"Nona" panggil tukang tadi.
"Iya pak" jawab Ara sambil melihat tukang itu begitupun dengan Nathan.
"Ini sudah waktu makan siang pak nona" ucap tukang itu.
"Jam berapa sekarang?" guman Ara dan langsung melihat jam yang ia pakai itu.
Benar saja jam memang sudah menunjuk pukul 12:02 dan itu sudah lewat dua menit waktu makan siang. "Yaudah pak ayo kita makan" ajak Ara kepada tukang itu.
"Kita makan di sebarang sana aja" ucap Nathan sambil menunjuk ke sebrang jalan yang terdapat restoran di sana.
__ADS_1
"Enak makan bareng tau" jawab Ara.
"Tapi...." ucap Nathan terpotong oleh Ara.