
"Kalo gak ada perwakilan gimana buk?" tanya Ara yang membuat Viona tak suka karna menurutnya Ara itu hanya mencari perhatian.
"Emang kamu mau kemana Ara?" tanya bu Adriana tanpa menggunakan microfon. Ara hanya menggelengkan kepalanya dan langsung mundur ke barisan belakang. Nathan heran melihat sikap wanita itu kenapa dia berbicara seperti itu? mungkin itu isi fikiran Nathan.
"Saya berharap semua dapat hadir dengan di dampingi oleh keluarga" bu Adriana kembali melanjutkan ucapannya.
Ara ingin sekali meneteskan air matanya tapi dia sekuat tenaga menahan air matanya itu supaya tidak tumpah. "Eh emang lo mau kemana hah?" tanya Erina yang baru saja sampai di samping Ara dengan diikuti oleh andita.
"Hey" sapa Arfel yang barisannya tidak terlalu jauh dari mereka bertiga.
"Kenapa?" tanya Andita menatap datar ke arah Arfel. Ara tidak menjawab perkataan Arfel maupun mengubris perkataan Arfel.
"Huh" Ara mendengus panjang dan dengusan itu terdengar oleh teman temannya.
"Lo ada masalah ra?" tanya Arfel. Ara menggelengkan kepalanya.
"Abis ini yang lain ajak kita buat rayain selesainya ujian kita kalian ikut?" tanya Agus menatap ke arah Andita.
"Mau lah" jawab Andita girang karna memang dia tidak ernah menolak ajakan pesta.
"Lo mau Er?" tanya Ilham kepada Erina.
"Gue ikut aja" jawab Erina yang amsih menatap wajah yang tak bersemangat yang ada di depannya itu.
"Ara lo ikut?" tanya Erina. Ara tidak menjawab pertanyaan Amel karna dia masih fokus ke fikirannya.
"Ara" ucap Erina sambil memukul pelan bahu sahabatnya itu.
"Baik anak anak sekarang kalian boleh pulang" ucap bu Adriana saat telah selesai memberitahukan apa yang ingin ia beritahu kepada murid kelas 12.
"Gue mau pulang" ucap Ara dan langsung berlalu.
"Eh jawab pertanyaan gue lo ikut apa gak?" teriak Andita. Nathan mendengar itu karna dia juga ingin pulang.
"Gue gak ikut" teriak Ara tanpa menoleh ke arah mereka dan tanpa menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Ara kenapa?" tanya Arfel karna tak biasanya seorang Ara riyanti menolak ajakan ke pesta.
"Gak tau" jawab Erina.
Nathan mengikuti Ara dari belakang tanpa di sadari oleh siapapun.
"Lo duluan aja anter Viona ke rumahnya gue ada urusan" ucap Nathan kepada Vino saat sudah sampai di parkir. Nathan mengambil masker yanga da di dalam mobilnya itu dan langsung mengenakannya dan setelah itu dia langsung menyusul Ara dengan berjalan kaki seerti Ara.
"Lo mau kemana?" teriak Vino saat Nathan sudah lumayan jauh. Nathan tidak menajwab perkataan itu ataupun menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa pak?" tanya Viona yang melihat Vino berteriak.
"Gapapa...masuk saya akan antarkan kamu pulang" ucap Vino. Viona tidak menolak itu dia langsung masuk ke dalam mobil itu dan duduk di samping kemudi karna perintah Alfin.
"Pak Nathan mana?" tanya Viona kepada Vino.
"Ngikutin kekasihnya" jawab Vino santai dan langsung melajukan mobilnya ke luar pekarangan sekolah itu.
"Pak Nathan punya pacar pak?" tanya Viona.
"Bukan pacar sih tapi Nathan suka sama dia" ucap Vino tanpa menoleh ke arah Viona.
Nathan sedari tadi mengikuti Ara dari belakang dan di belakang Nathan dia diikuti oleh Deny karna Deny tidak pernah leas mengawas Ara.
"Siapa itu mencurigakan sekali" ucap Deny saat melihat seseorang yang mengikuti Ara menggunakan masker dan orang itu adalah Nathan tapi Deny tidak sadar akan itu.
Deny hanya mengikuti orang tiu dan juga Ara dan jika nanti Ara di apa apakan oleh orang itu baru Deny turun dan membantu Ara.
"TPU MELATI" tulisan yang ada di dekat kawasan yang di masuki oleh Ara.
"Ini bukannya tempat pemakaman Dewa?" guman Nathan.
"Apa mungkin dia udah tau tempat pemakaman orang tuanya?" guman Nathan yang baru sadar jika makam kedua orang tua Ara juga ada di dalam TPU itu.
"Pak" panggil Ara sambil melebarkan senyumannya.
__ADS_1
"Beberapa hari ini neng rajin banget kesini neng" ucap pak Sunarto yang terdengar oleh Ara. Ara hanya membalasnya dengan senyuman dan setelah itu berpamitan untuk menuju ke makam kekasih dan kedua orang tuanya.
"Tuan siapa?" tanya pak Sunarto saat Nathan ingin masuk ke dalam dan menyusul Ara. Nathan membuka masker yang melekat di wajahnya itu.
"mas Nathan" ucap pak Sunarto karna dia mengenal Nathan karna Nathan selalu ke makam itu untuk menjenguk makam Dewa.
"Iya pak" jawab Nathan sambil melebarkan senyumannya.
"Maaf mas saya pikir mas tadi siapa soalnya mas pake masker sih" ucap pak Sunarto kepada Nathan. Nathan hanya membalasnya dengan senyuman dan setelah itu berpamitan untuk pergi dari sana menyusul Ara.
"Ara dateng" ucap Ara dengan menatap ketiga makam itu bergantian dari bawah. Ara memilih berjongkok di antara makam kedua orang tuanya.
"Mama sama papa udah ketemu sama kak dewa?" tanya Ara mengelus lembut makam kedua orang tuanya itu.
Nathan menatap Ara yang sedang berbicara dengan kuburan kedua orang tuanya dan juga Dewa. Dia memasang telinganya dengan jelas untuk mendengar perkataan Ara.
"Kak dewa" panggil Ara menghadap ke makam Dewa.
"Gimana bentuk mama sama papa Ara? pasti mama kayak Arakan cantik...dan papa pasti kayak kakak ganteng" ucap Ara sambil membayangkan wajah kedua orang tuanya sambil terkekeh tapi air matanya mengalir.
"Oiya kak nanti ajak mama sama papa ketemu Ara ya takutnya mereka salah orang kan mereka gak pernah liat Ara dewasa" ucap Ara sambil melebarkan senyumannya menghadap ke makam Dewa dengan air mata yang mengalir.
Sakit sekali rasanya hati Nathan melihat air mata jatuh di pipi orang yang ia sukai itu. "Gue beneran gak sanggup liat dia sedih" ucap Nathan dengan ujung mata yang nampak sedikit berair.
"Oiya besok Ara mau pergi ke amerika karna tadi Ara udah selesai ujian" ucap Ara kegirangan.
"Dia ngapain ke amerika?" guman Nathan.
"Kayaknya Ara bakal jarang dateng kesini soalnya Ara mau mulai hidup baru di amerika supaya Ara gak terus terusan kayak gini" jelas Ara sambil menatap ketiga batu nisan yang bersih tanpa debu itu.
"Andai aja kalo waktu bisa di putar Ara mau tinggal di rumah bunda Nita aja" ucap Ara sambil mengingat ingat kebaikan Nita. Nathan tersenyum bahagia mendengar perkataan itu.
"Bunda Nita itu baik banget sama Ara gak kayak papi Teo sama mami Windi" sambung Ara.
"Waktu Ara di rumah sakit juga dia selalu nemenin Ara,,,, nyiapin Ara makan,,,,sebelum tidur Ara di cium,,,, bahagia banget rasanya meskipun di sana ada anaknya si Nathan yang nyebelin itu" jelas Ara sambil melebarkan senyumannya saat mengingat ingat kenangan di rumah sakit itu di depan makam ketiga orang yang sangat ia cintai itu.
__ADS_1
"Dih kok jadi gue sih yang nyebelin kan dia yang ambil selimut gue sama makanan dan minuman gue" guman Nathan. memang semenjak di rumah sakit Ara dan Nathan selalu saja bertengkar tentang hal hal kecil.
Seperti rebutan selimut,,air minum dan kadang Ara tidak suka jika Nathan menjadikan boneka milik Ara untuk di jadikan bantal. Hal hal itulah yang mereka ributkan selama di rumah sakit.